Opini - Teologi Secangkir Air Sejuk di Tengah Masifnya Kemajuan di Era Digital.
Oleh: Oswaldus Abur
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Dalam dunia yang semakin maju di era digital, manusia diberikan banyak kemudahan dalam segala aspek kehidupan.
Hal ini bahkan menjadikan manusia semakin menjadi pribadi eksklusif karena berpikir bahwa semuanya bisa dilakukan oleh dirinya sendiri.
Kemajuan yang masif ini semacam membuatnya lupa bahwa dirinya adalah makhluk sosial (homo socius) yang hidup dan bertumbuh bersama dengan orang lain.
Budi Hardiman, saat mengutip pemikiran Heidegger, mengatakan bahwa manusia di era digital “berada-dalam” (In-Sein) - yaitu betah dengan entitas-entitas digital seperti: Youtube, Tokopedia, Twitter, Instagram sabagai lingkungannya. Gagasan ini menyingkapkan suatu realitas bahwa individualisme hari ini adalah hal nyata yang dihadapi manusia modern.
Realitas ini memicu pertanyaan reflektif yang cukup menggugat keberadaan manusia sebagai makhluk sosial dan beragama. Di tengah masifnya kenyamanan di era digital, sudahkah kita menjadi secangkir air sejuk bagi orang lain yang sedang mengalami kehausan akan kepedulian?
Pertanyaan ini lahir dari seruan Yesus dalam injil Matius 10 : 42, “ Siapa yang memberi air sejuk secangkir saja pun, karena ia murid-Ku, sesungguhnya aku berkata kepadamu: ia tidak akan kehilangan upahnya.”
Seruan spiritual ini menjadi sangat signifikan ketika menakar kehidupan kontemporer yang terlalu didominasi oleh kemajuan digital sehingga melupakan orang lain sebagai saudara yang perlu diberi perhatian.
Sekilas tentang Teologi Secangkir Air Sejuk
Air merupakan kebutuhan yang paling penting dalam kehidupan manusia. Kebudayaan Yahudi termasuk salah satu kebudayaan yang menempatkan air sebagai salah satu pokok bagi keberlansungan hudup.
Bukan sekedar kebutuhan fisik, air juga memiliki peran penting dalam ritual keagamaan orang Yahudi. Air bagi mereka bukan sekedar pemuas dahaga, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam.
Dalam Perjanjian Lama (PL), air dihubungakan dengan hehidupan, kebersihan dan kesucian. Selain itu dalam kamus teologi air merupakan simbol kerahaman. Sebagai orang Yahudi, Yesus sangat tahu betapa urgensinya air bagi kehidupan manusia.
Konon, orang Yahudi banyak melakukan perjalanan jauh yang melewati padang gurun, sehingga secangkir air sejuk menjadi sangat berarti bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan tersebut.
Yesus dalam konteks ini menegaskan kepada para murid bahwa barang siapa yang memberi secangkir air sejuk bagi mereka, tidak akan kehilangan upahnya.
Ketika dibaca dalam konteks hidup manusia modern hari ini, secangkir air sejuk menjadi sebuah metafora tentang kebaikan. Kebaikan adalah panggilan universal bagi semua orang. Kebaikan tidak hanya dimonopoli oleh segelintir orang misalnya para penguasa, politisi, pemuka agama dan lain-lain.
Orang-orang kecil dan sederhana pun dipanggil untuk melakukan kebaikan. Kata “secangkir” adalah indikasi bahwa kebaikan kenadatipun sedikit dan kecil sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.
Teologi Secangkir Air Sejuk dan Relevansinya bagi Kehidupan Di Era Digital
Teologi secangkir air sejuk tentu memiliki relevansinya dengan kehidupan manusia di zaman sekarang. Banyak orang hari ini terkurung dalam kenyamanan yang ditawarkan media digital, sehingga mengalami kesulitan untuk melihat dan berjumpa secara nyata dengan orang lain.
Media digital memang sangat membantu dan memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia. Misalnya, kita tidak lagi perlu memasak karena cukup memesan makanan secara daring (online), kita juga tidak perlu lagi ke pasar untuk membeli pakaian karena cukup memesannya secara daring, serta masih banyak contoh kemudahan lainnya.
Kenyamanan ini cukup mengkuatirkan karena membuat orang tidak lagi melihat perjumpaan tatap muka sebagai sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya.
Oleh karena itu, tantangan nyata yang dihadapi sebenarnya adalah individualisme yang melumpuhkan solidaritas dan kepekaan sosial manusia.
Di sinilah teologi secangkir air sejuk memanggil kita untuk membangun kembali kesadaran dan kepekaan manusia sebagai makhluk sosial yang bersolidaritas dengan orang lain.
Keluar Dari Ruang Digital untuk Menjumpai Orang Lain
Pada dasarnya teologi secangkir air sejuk sebenarnya suatu ajakan untuk keluar dari zona nyaman kehidupan demi menjumpai orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan. Banyak hal yang terjadi di dunia nyata yang tidak hanya cukup disaksikan melalui layar.
Semua orang tanpa terkecuali dipanggil untuk memberikan pertolongan dalam kapasitasnya masing-masing. Filsuf Prancis, Emanuel Levinas, merupakan filsuf yang sangat menghargai sesama.
Bahkan ia mengatakan ketika kita memandang wajah orang lain atau “wajah liyan”, ada seruan etis yang bergema: “jangan membunuh aku”dan “bertanggung jawablah atas diriku.”
Kedudukan orang lain dalam pandangan teologi secangkir air sejuk dan konsep “wajah liyan” dari Emanuel Levinas memiliki kemiripan dan bermuara pada tujuan yang sama yaitu memperhatikan dan memperlakukan orang dengan sebaik-baiknya.
Ada banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan dan kehadiran kita untuk menjumpai mereka: ada banyak anak-anak yang ditelantarkan, dan banyak orang-orang muda kehilangan harapan atau putus asa sampai mengakhiri hidupnya. Dengan semua fakta ini apakah kita tetap tega terus tinggal dalam dalam kenyamanan kita?
Teologi secangkir air sejuk bukan hanya sekedar seruan biblis yang tidak bermakna. Ini adalah gema yang mengajak setiap orang untuk berbuat kebaikan.
Satu kebaikan kecil akan sangat berarti bagi orang lain yang membutuhkannya. Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak melakukan kebaikan karena kebaikan kecil pun sangat berharga di mata Tuhan dan sesama yang membutuhkan. (*)