TRIBUNJATENG.COM - Sebuah kapal wisata pinisi bernama KLM Mutiara terbakar di perairan Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada Senin (6/7/2026) pagi.
Kebakaran terjadi saat kapal bersiap menjalani proses docking setelah terpaksa menghentikan pelayaran akibat cuaca ekstrem di jalur Laut Flores.
Insiden tersebut terjadi sekitar dua kilometer dari bibir Pantai Tanaberu atau sekitar 20 kilometer di sebelah timur Kota Bulukumba.
Kawasan Tanaberu sendiri dikenal sebagai salah satu pusat pembuatan kapal pinisi terbesar di Indonesia yang telah menghasilkan ratusan kapal kayu untuk pelayaran dan wisata.
Kapal yang terbakar diketahui merupakan KLM Mutiara, kapal layar motor berbahan kayu yang memadukan layar tradisional dengan mesin penggerak.
Selama ini kapal tersebut beroperasi melayani wisatawan di kawasan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
KLM Mutiara biasa mengangkut wisatawan menuju sejumlah destinasi populer di kawasan Taman Nasional Komodo, seperti Pulau Komodo, Pulau Padar, Pink Beach, dan objek wisata lainnya.
Rekan pemilik kapal, Haji Kardi, membenarkan insiden kebakaran tersebut.
"Kapal ini terbakar pagi tadi," kata rekan pemilik kapal, Haji Kardi, kepada TribunBulukumba.com melalui sambungan telepon.
Baca juga: Sukarni Warga Pati Minta Tolong ke Presiden Prabowo Agar Bupati Nonaktif Sudewo Dibebaskan
Menurut Haji Kardi, kapal sedang dalam perjalanan dari Labuan Bajo menuju Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Namun pelayaran tidak dapat dilanjutkan karena kondisi cuaca di jalur Laut Flores dan Selat Selayar sedang tidak bersahabat.
Sebelum menuju Konawe, kapal memilih berlindung di sekitar Pulau Liukang Loe, Kecamatan Bontobahari.
Pulau tersebut memang kerap menjadi lokasi singgah kapal karena perairannya lebih tenang saat gelombang tinggi melanda laut lepas.
Karena cuaca belum memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, pemilik kapal memutuskan melakukan docking di kawasan Tanaberu, Bulukumba.
Docking merupakan proses perawatan kapal di galangan, seperti pengecatan lambung, perbaikan bagian kayu, hingga pemeriksaan mesin.
"Kapal itu tiba di perairan Bulukumba pada Jumat (3/7/2026) lalu.
Tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Konawe karena cuaca ekstrem, sehingga memutuskan docking di sini saja, di Tanaberu," ungkap Haji Kardi yang juga pengusaha kapal pinisi.
Sebelum proses docking dimulai, kapal diduga mengalami korsleting listrik yang kemudian memicu kebakaran.
Api dengan cepat membesar hingga melalap sebagian besar badan kapal.
Meski kerusakan yang ditimbulkan cukup parah, seluruh kru kapal dilaporkan berhasil menyelamatkan diri sehingga tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Haji Kardi memperkirakan nilai kapal wisata tersebut mencapai Rp11 miliar.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Pemadam Kebakaran Bulukumba, Andi Baso Sullewatang, membenarkan adanya insiden tersebut.
Namun proses pemadaman tidak dapat dilakukan karena lokasi kebakaran berada di tengah laut.
"Kejadiannya tadi pagi. Tidak bisa dijangkau untuk dilakukan pemadaman karena berada di tengah laut," kata Andi Baso.
Saat ini wilayah perairan Bulukumba hingga Kepulauan Selayar tengah memasuki musim angin timur.
Pada periode tersebut, angin dari arah timur hingga tenggara umumnya memicu gelombang lebih tinggi di Laut Flores dan Selat Selayar sehingga aktivitas pelayaran, khususnya kapal kayu dan kapal wisata, sering mengalami gangguan.