Keputusan luar biasa FIFA untuk menangguhkan larangan otomatis satu pertandingan bagi Folarin Balogun telah memicu perdebatan sengit di Piala Dunia FIFA 2026, dengan kritik keras datang dari tim dan pelatih lawan, meskipun Amerika Serikat menyambut langkah tersebut menjelang laga babak 16 besar melawan Belgia.
Kontroversi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka berterima kasih kepada FIFA karena membatalkan apa yang ia sebut sebagai "ketidakadilan besar", sementara Belgia, Norwegia, dan Inggris mempertanyakan dampak keputusan itu terhadap integritas turnamen.
Balogun, pencetak gol terbanyak Amerika Serikat dengan tiga gol, sebelumnya menerima kartu merah langsung saat kemenangan 2-0 atas Bosnia dan Herzegovina setelah melakukan tekel mengenai pergelangan kaki Tarik Muharemovic. Hukuman tersebut semula memicu larangan otomatis satu pertandingan sebelum FIFA turun tangan, membuat sang penyerang tetap bisa tampil pada laga gugur hari Senin.
Belgia pimpin protes terhadap keputusan FIFA
Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) bereaksi keras terhadap keputusan FIFA, menyebut pihaknya "terkejut" atas langkah badan sepak bola dunia tersebut.
Pelatih Belgia Rudi Garcia mengejek waktu pengumuman itu. “Saya tidak tahu bahwa di kantor FIFA, tanggal lima Juli dianggap sebagai tanggal satu April di Eropa,” ujar Garcia melalui penerjemah. “Federasi Belgia tidak membela dirinya sendiri, tidak melindungi tim nasionalnya. Mereka membela sepak bola secara umum, membela integritas dan etika. Saya pikir ini pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia ada keputusan seperti ini.”
Federasi Belgia juga mengonfirmasi bahwa mereka sedang meninjau opsi hukum yang tersedia. “Untuk melindungi hak sah semua tim peserta dan menjaga prinsip dasar fair play dalam olahraga kami, baik di Piala Dunia FIFA ini maupun edisi mendatang, RBFA sedang menyelidiki seluruh opsi yang mungkin,” demikian pernyataan resmi mereka.
Garcia menolak berkomentar ketika ditanya apakah Belgia akan mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga atau apakah intervensi Trump memengaruhi keputusan FIFA tersebut.
Tuchel dan Solbakken pertanyakan preseden
Pelatih Inggris Thomas Tuchel juga menyoroti dampak luas dari keputusan FIFA itu. “Kita bisa berdebat tanpa akhir: saya pikir itu bukan kartu kuning,” kata Tuchel. “Tapi di mana batasnya? Sampai di mana ini akan berhenti?”
Pelatih Norwegia Ståle Solbakken bahkan lebih kritis, memperingatkan bahwa keputusan ini dapat menimbulkan kebingungan untuk keputusan disipliner di masa mendatang. “Bagaimana dengan kartu merah berikutnya? Apa yang akan terjadi nanti?” tanya Solbakken. “Apakah akan ada komite di suatu tempat yang akan mencabut kartu itu? Ini keputusan yang sangat, sangat, sangat buruk yang akan merusak Piala Dunia.”
Neville, Rooney, dan Henry bergabung dalam gelombang kritik
Gary Neville: “Ini benar-benar memalukan. Saya sebenarnya tidak berpikir itu kartu merah. Seharusnya ada proses peninjauan. Tapi jika tidak ada mekanisme untuk membatalkan keputusan, lalu tiba-tiba FIFA memutuskan begitu saja untuk membiarkan pemain bermain, aturan seharusnya berlaku sama untuk semua orang. Saya akan sangat marah jika saya menjadi Belgia.”
Wayne Rooney: “Saya pikir ini benar-benar aib. Gianni Infantino seharusnya malu. Sportivitas permainan ini kini dipertanyakan. Jika Anda lawan Amerika Serikat, Anda pasti sangat kesal.”
Micah Richards: “Ini benar-benar lelucon. Menangguhkan hukuman selama setahun membuat turnamen ini tampak seperti olok-olok. Semua ini hanya agar bintang besar tetap berada di kompetisi.”
Thierry Henry: “Saya tidak berpikir ini keputusan yang tepat. Mungkin hasil akhirnya benar, tapi kenapa begitu terlambat? Jika Anda Belgia dan sudah menyiapkan strategi untuk pertandingan, ini mengubah segalanya.”
AS bela keputusan, Trump dan Pochettino dukung FIFA
Keputusan FIFA mendapat dukungan kuat dari kubu Amerika Serikat.
Menurut laporan AP, Trump menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino setelah laga melawan Bosnia dan meminta agar badan tersebut meninjau kembali kartu merah Balogun.
Setelah pengumuman FIFA, Trump menulis: “Terima kasih kepada FIFA karena telah melakukan hal yang benar dan membalikkan ketidakadilan besar ini!”
Pelatih Amerika Serikat Mauricio Pochettino bersikeras bahwa timnya sudah cukup mendapat hukuman. “Kami sudah cukup dihukum saat melawan Bosnia-Herzegovina, bermain dengan 10 orang selama 30 menit dalam keputusan yang benar-benar tidak adil,” ujarnya.
Pochettino juga menyambut baik keterlibatan Trump. “Saya berasal dari budaya, baik di Argentina maupun Eropa, di mana sepak bola adalah agama, bahkan lebih dari agama itu sendiri,” katanya. “Jika kita terus melangkah maju, mungkin besok Anda akan melihat bahwa olahraga ini adalah sesuatu yang ajaib, luar biasa, sangat kuat, dan bisa mempersatukan orang-orang serta negara seperti kami.”
Bagaimana FIFA membatalkan skorsing tersebut
FIFA memberitahu Federasi Sepak Bola Amerika Serikat tentang keputusannya melalui portal resmi pada pukul 10:31 pagi waktu EDT, sebelum mengumumkan bahwa skorsing Balogun ditangguhkan berdasarkan Pasal 27 dari Kode Disipliner FIFA.
“Pelaksanaan skorsing pertandingan ditangguhkan untuk masa percobaan selama satu tahun,” demikian pernyataan FIFA. “Jika Folarin Balogun melakukan pelanggaran lain dengan sifat dan tingkat keseriusan yang sama selama masa percobaan, maka skorsing akan dicabut dan sanksi diberlakukan tanpa mengurangi kemungkinan sanksi tambahan untuk pelanggaran baru tersebut.”
Badan pengatur tersebut menegaskan bahwa keputusan ini mengacu pada Pasal 27 yang berbunyi: “Badan yudisial dapat memutuskan untuk menangguhkan pelaksanaan sanksi disipliner, baik sebagian maupun seluruhnya.”
Lebih lanjut disebutkan: “Dengan menangguhkan pelaksanaan sanksi, badan yudisial menempatkan individu yang dijatuhi sanksi dalam masa percobaan antara satu hingga empat tahun.”
Langkah ini tampaknya menjadi yang pertama sejak Piala Dunia FIFA 1962 di mana seorang pemain yang diusir keluar lapangan selama turnamen tidak menjalani skorsing otomatis, memastikan Balogun bisa tampil saat Amerika Serikat berusaha mencapai perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2002.