'Wonderwall' dari Oasis tibat-tiba menjadi anthem timnas Inggris selama Piala Dunia 2026. Apakah itu sudah direncanakan?
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -“Because maybe... You're gonna be the one that saves me... And after all... You're my wonderwall.”
Lagu “Wonderwall” milik Oasis kembali bergema di ajang Piala Dunia 2026. Kali ini Azteca Stadium, Mexico City, tak lama setelah wasit Alireza Faghani dari Australia meniup peluit akhir pertandingan tuan rumah Meksiko melawan Inggris.
Lagu itu bergema khususnya di tribun belakang gawang bagian utara di mana banyak fans Inggris berada. Benar, Inggris yang menang. Skornya, 2-3 untuk Tiga Singa. Yang mencetak gol Jude Bellingham masing-masing pada menit 36’ dan 38’ dan Harry Kane lewat titik penalti pada menit 60’. Sementara untuk Meksiko, gol dicetak oleh Julian Quinones menit 42’ dan Raul Jimenez lewat penalti pada menit 69’.
Bagi beberapa kalangan, ini adalah pertandingan terhebat Inggris sepanjang Piala Dunia. Bermain dengan 10 pemain sejak menit 55, Three Lions berhasil menahan gempuran Tuan Rumah.
“And After all.... You're my wonderwall...” Pada akhirnya, para pemain Inggris kembali melantunkan lagu milik Oasis itu bareng para pendukungnya.
Pertanyaannya, bagaimana “Wonderwall”-nya Oasis bisa menjadi anthem Inggris selama Piala Dunia 2026?
“Wonderwall” adalah lagu band rock Inggris Oasis yang dirilis pada 30 Oktober 1995. Menurut Noel Gallagher, yang menulis lagu tersebut, “Wonderwall” adalah lagu tentang “Teman khayalan yang akan datang dan menyelamatkanmu dari dirimu sendiri.”
Katanya, lagu itu terinspirasi oleh album solo George Harrison, Wonderwall Music.
Secara komersial, lagu “Wonderwall” laris manis tanjung kimpul dan merupakan salah satu lagu Oasing paling terkenal. Banyak penghargaan yang diraih lagu itu, termasuk video musiknya, yang disutradarai oleh Nigel Dick, yang memenangkan penghargaan British Video of the Year pada 1996 Brit Awards.
Menurut situs NME, lagu ini awalnya berjudul “Wishing Stone”. Situs ini juga menyebut bahwa “Wonderwall” ditulis Gallagher untuk sang pacar, Meg Matthews, yang kemudian jadi istrinya—yang kemudian dibantah oleh Gallagher setelah keduanya bercerai pada 2001 lalu.
Alih-alih, Gallagher bilang bahwa lagu itu adalah pengingat masa-masa saat dirinya dan saudara lelakinya menulis catatan dan pikiran mereka di wallpaper kamar tidur saat masih kecil.
Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana Wonderwall jadi anthem Inggris di Piala Dunia 2026?
“Cmon England, cmon Wonderwall.” Begitu pesan Gallagher pada Rabu, setelah pendukung timnas Inggris menyanyikan lagunya itu bersama para pemain di akhir pertandingan babak knock-out melawan DR Congo di Atlanta yang dramatis itu.
Mengutip BBC, suporter dan pemain Inggris bernyanyi bersama setelah pertandingan adalah hal baru. Dan kenapa harus “Wonderwall”, Gallagher—yang mengaku bukan penggemar timnas Inggris—kepada The Sun bilang, “‘Wonderwall’ milik para penggemar, dan itu adalah momen ajaib antara mereka dan para pemain.”
Bagi kapten Inggris, Harry Kane, menurut pengakuannya kepada podcast Lions’ Den, nyanyi “Wonderwall” bareng para pendukung adalah “Momen favoritnya sepanjang masa ketika mengenakan seragam Inggris.”
sementara Joe Hart, mantan kiper Inggris sekaligus mantan rekan Kane yang kini jadi komentator BBC Sport, mengatakan bahwa momen-momen fenomenal seperti itu memungkinkan para pemain untuk “Melepas topengnya barang beberapa menit sebagai seorang atlet profesional.”
Menurut PJ Harrison yang belum lama ini merilis biografi Liam Gallagher, apa yang terjadi dengan timnas Inggris dan “Wonderwall” tidak mungkin direkayasa. Artinya, semuanya natural.
Yang jelas, menurutnya, “Ini lagu yang tepat untuk saat ini, dan semua orang akan menikmatinya.”
Kepada BBC News Harrison bilang, pada 1960-an, ada tradisi di kalangan penggemar sepakbola Inggris untuk menyanyikan lagu-lagu pop yang sedang hits saat itu. Apa yang terjadi sekarang, barangkali mirip.
“Begitu lagu itu berakar dan menyatu dengan momen emosional, seperti memenangkan pertandingan di Piala Dunia, ia akan cepat membangkitkan nostalgia,” katanya.
Menurut Harrison lagi, bahwa ambiguitas dalam lirik “Wonderwall” yang dipadukan dengan melodi yang familiar dan mudah diingat memungkinkan penggemar untuk “Mengekspresikan luapan cinta tanpa harus menyebutkan secara spesifik kepada siapa cinta itu ditujukan,” katanya.
“Apa itu Wonderwall? Saya sebenarnya tidak yakin apa itu, tetapi saya bisa menyanyikannya dan itu bisa menjadi apa pun yang saya pikirkan,” tambahnya. “Jika saya berpikir itu adalah Jude Bellingham atau jika saya berpikir Inggris akan menang, bisa jadi itu, atau bisa juga pacar saya atau apa pun.”
Menurut Harrison, “Wonderwall” berbeda dengan beberapa lagu Inggris lainnya yang lebih optimis dan penuh harapan. Dia merasa, sifat reflektif dari Wonderwall itulah yang menegaskan bahwa lagu ini “Masih bisa ‘berguna’ sebagai penghiburan jika Inggris—pada akhirnya harus—tersingkir,” tutupnya.
Sebagai informasi, sebagaimana mengutip Usatoday.com, FIFA mewajibkan setiap tim yang berlaga di Piala Dunia 2026 untuk mengirimkan tiga lagu sebelum Piala Dunia, demikian konfirmasi juru bicara AS kepada USA TODAY. “Wonderwall” menjadi salah satu lagu yang dikirim oleh timnas Inggris—bersama “Sweet Caroline”.
Sementara itu, Amerika Serikat mengirimkan “Take Me Home, Country Roads” karya John Denver juga “Sweet Caroline” seperti Inggris. Eksekutif FIFA Amy Hopfinger akhirnya memutuskan bahwa timnas Amerika pakai “Take Me Home, Country Roads” saja.
“Because maybe... You're gonna be the one that saves me... And after all... You're my wonderwall.”