Sepp Blatter menuduh FIFA tunduk pada tekanan politik terkait keputusan kartu merah Folarin Balogun
Rina Kusumawati July 06, 2026 07:12 PM

FIFA menghadapi sorotan tajam setelah keputusannya untuk membatalkan kartu merah yang diterima oleh penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun. Mantan presiden FIFA, Sepp Blatter, menuduh langkah tersebut dipengaruhi oleh apa yang ia sebut sebagai “telepon politik”.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut baik keputusan tersebut di tengah laporan yang menyebut adanya tekanan dari pemerintah Amerika.

Badan sepak bola dunia itu mengonfirmasi pada hari Minggu bahwa hukuman larangan satu pertandingan yang dijatuhkan kepada Balogun—akibat kartu merah yang diterimanya dalam kemenangan babak 32 besar atas Bosnia dan Herzegovina—telah ditangguhkan selama satu tahun. Keputusan ini membuatnya bisa tampil dalam laga babak 16 besar melawan Belgia pada hari Senin. Meskipun FIFA dan Satuan Tugas Piala Dunia Gedung Putih belum memberikan komentar atas dugaan campur tangan pemerintah, pembalikan keputusan yang begitu cepat ini menimbulkan banyak pertanyaan.

Sepp Blatter, yang pernah menjabat sebagai presiden FIFA, melontarkan kritik keras terhadap keputusan tersebut.

Melalui akun X miliknya, ia menulis: “Kartu merah tidak dibatalkan karena panggilan telepon politik. Kartu merah dibatalkan berdasarkan aturan, bukti, dan badan independen.”

Folarin Balogun kini telah dinyatakan boleh bermain melawan Belgia pada Senin malam.

Ia menantang integritas organisasi tersebut dengan menambahkan: “Jika seorang Presiden AS ikut campur dengan Presiden FIFA — dan tiba-tiba seorang pemain dinyatakan bebas sebelum pertandingan sistem gugur Piala Dunia — maka pertanyaannya tak bisa dihindari: Quo vadis (ke mana arahmu), FIFA? Sepak bola tidak boleh menjadi alat permainan kekuasaan politik. #FIFA #PialaDunia #GianniInfantino #DonaldTrump.”

Masa jabatan Blatter sebagai presiden FIFA berakhir pada tahun 2015 setelah ia dijatuhi larangan selama delapan tahun—kemudian dikurangi menjadi enam tahun—terkait pembayaran kepada Michel Platini. Keduanya kemudian dibebaskan oleh pengadilan Swiss. Pada tahun 2021, komite etika FIFA menjatuhkan lagi larangan enam tahun tambahan karena pelanggaran lainnya.

Asosiasi Sepak Bola Belgia (RBFA) menyatakan “terkejut” atas keputusan tersebut dan mengonfirmasi bahwa mereka sedang “menyelidiki semua opsi yang mungkin diambil.” Laporan pada Senin pagi menyebutkan bahwa RBFA telah mengajukan banding terhadap keputusan itu, dengan batas waktu pengumpulan dokumen hingga pukul 13.00 waktu Inggris. FIFA belum mengonfirmasi apakah izin banding telah diberikan kepada RBFA.

Keputusan ini juga memicu reaksi keras dari para pelatih. Pelatih kepala Belgia, Rudi Garcia, menyamakan situasi ini dengan “lelucon Hari April Mop”, sementara pelatih Inggris, Thomas Tuchel, menyebutnya sebagai sesuatu yang “aneh”.

Tuchel mempertanyakan preseden yang ditetapkan oleh keputusan tersebut dengan mengatakan: “Siapa yang membatalkan keputusan ini, kapan, dan atas dasar apa? Sejauh mana hal ini akan berlanjut? Bagi saya ini aneh. Kami hanya ingin adanya konsistensi dalam setiap keputusan.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.