TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Suasana Desa Lamakkarasengg, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, terasa berbeda pada Minggu (5/7).
Sekelompok ibu-ibu tani yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Siamasei berkumpul menyambut tim dosen dan mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP).
Tim dosen PNUP datang membawa program pemberdayaan bertajuk "Pemberdayaan Kelompok Tani Bone Melalui Pupuk Organik Cair Limbah Serasah Jagung Berbasis IoT."
Kegiatan yang berlangsung sebagai tahap awal sosialisasi dan diskusi bersama mitra ini menandai dimulainya rangkaian program pengabdian kepada masyarakat yang akan berjalan selama delapan bulan, terhitung Mei hingga Desember 2026.
Program ini merupakan salah satu penerima pendanaan skema BIMA 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Tim pelaksana terdiri atas tiga dosen Jurusan Teknik Kimia PNUP, yakni Nangsih Sulastri Slamet, S.Si., Apt., M.Si., Hasni, B.Eng., M.T., dan Afrianti S. Lamuru, S.Pd., M.Sc., yang didampingi oleh tim mahasiswa Jurusan Teknik Kimia.
Menjawab Persoalan Lama yang Belum Terpecahkan
Desa Lamakkarasengg dikenal sebagai salah satu sentra pertanian jagung di Kabupaten Bone.
Namun di balik hasil panen yang melimpah, tersimpan persoalan yang selama ini luput dari perhatian: limbah serasah jagung yang menumpuk pascapanen dan belum pernah diolah secara optimal.
Selama ini, kebiasaan petani setempat adalah membakar sisa serasah tersebut sebagai cara paling praktis untuk membersihkan lahan.
Padahal, praktik pembakaran limbah pertanian sejatinya telah dilarang oleh Bupati Bone karena berisiko menimbulkan gangguan kesehatan bagi petani akibat paparan asap, sekaligus berkontribusi terhadap pencemaran udara dan lingkungan.
Sayangnya, tanpa adanya solusi alternatif yang mudah diterapkan, larangan tersebut belum sepenuhnya berhasil mengubah kebiasaan masyarakat.
Di sinilah program pengabdian dari tim PNUP hadir menawarkan jalan keluar: mengolah limbah serasah jagung menjadi pupuk organik cair (POC) yang bernilai guna, dengan proses fermentasi yang dipantau menggunakan teknologi Internet of Things (IoT).
Melalui sistem ini, petani dapat memantau parameter penting proses pembuatan pupuk—seperti suhu dan kelembapan—secara praktis melalui perangkat digital, tanpa harus bergantung pada pengecekan manual yang memakan waktu.
Ketua KWT Siamasei menyambut baik kehadiran program ini. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan nyata kelompoknya, terutama dalam upaya mengelola limbah serasah jagung yang selama ini terbuang percuma dan bahkan berpotensi merugikan lingkungan.
Meski begitu, ia juga mengakui bahwa penerapan sistem berbasis IoT merupakan hal yang sepenuhnya baru bagi anggota kelompok. Karena itu, pendampingan intensif dari tim PNUP selama delapan bulan ke depan dinilai menjadi kunci penting agar transfer pengetahuan dan teknologi dapat berjalan efektif hingga benar-benar dikuasai oleh masyarakat setempat.
Dengan adanya program ini, diharapkan petani jagung di Desa Lamakkarasengg tidak hanya mampu mengubah limbah menjadi sumber pendapatan tambahan melalui pupuk organik cair, tetapi juga secara bertahap meninggalkan praktik pembakaran serasah yang selama ini menjadi kebiasaan.
Program ini pun sejalan dengan semangat pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan sekaligus mendukung kesehatan masyarakat desa.
Sosialisasi tahap awal ini menjadi pijakan penting sebelum memasuki tahap pelatihan teknis dan implementasi alat IoT di lapangan pada bulan-bulan berikutnya, sebagai bagian dari komitmen PNUP dalam mendukung pemberdayaan masyarakat desa melalui inovasi sains dan teknologi terapan.