Poltekkes Kemenkes Makassar Latih 444 Kader Posyandu Sulsel Pantau Praktik MP-ASI
Ansar July 06, 2026 08:08 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Sebanyak 444 kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Sulawesi Selatan mengikuti pendampingan pemantauan praktik Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) digelar Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Makassar.

Poltekkes Kemenkes Makassar merupakan perguruan tinggi vokasi di bawah Kementerian Kesehatan di Kecamatan Biringkanaya, Makassar. 

Pendampingan ini menjadi bagian dari Program Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Phase II, yakni program penguatan gizi ibu dan anak pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Penanggung jawab (Person in Charge/PIC) Program INEY Phase II Poltekkes Kemenkes Makassar, Manjilala, S.Gz., M.Gizi, mengatakan kader Posyandu memegang peran penting dalam mendampingi keluarga pada periode tersebut.

"Kader Posyandu menjadi garda terdepan dalam mendampingi keluarga. Karena itu, kami membekali mereka tidak hanya dengan kemampuan memantau praktik MP-ASI, tetapi juga keterampilan berkomunikasi agar wawancara dan edukasi kepada ibu lebih efektif," kata Manjilala, Senin (6/7/2026).

"Harapannya, data yang diperoleh semakin akurat dan dapat mendukung perbaikan gizi anak di Sulsel," lanjut dia.

Pendampingan digelar bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Sulsel, Dinas Kesehatan Makassar, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bone.

Kegiatan berlangsung di empat puskesmas.

Dua berada di Makassar, yakni Puskesmas Kaluku Bodoa dan Puskesmas Sudiang.

Dua lainnya berada di Bone, yaitu Puskesmas Awangpone dan Puskesmas Biru.

Sebanyak 271 kader mengikuti pelatihan di Makassar pada 23–24 Juni 2026.

Selanjutnya, 173 kader mengikuti pendampingan di Bone pada 16–18 Juli dan 21–23 Juli 2026.

Total peserta mencapai 444 kader Posyandu.

Selama pelatihan, kader dibekali teknik memantau praktik pemberian makan anak usia 6–23 bulan.

Peserta juga mempelajari Komunikasi Antar Pribadi (KAP), yakni metode membangun komunikasi yang nyaman dengan ibu atau pengasuh saat wawancara.

Selain itu, kader dikenalkan dengan indikator Minimum Keragaman Makanan (MKM) untuk mengukur variasi makanan anak dan indikator konsumsi Telur, Ikan, atau Daging (TID) untuk menilai kecukupan protein hewani.

Materi lainnya meliputi penilaian praktik MP-ASI, penggunaan daftar tilik delapan kelompok pangan, hingga teknik memberikan edukasi kepada keluarga.

Tidak hanya menerima materi di kelas, peserta juga mengikuti simulasi wawancara seperti pelayanan di Posyandu.

Mereka dilatih membangun komunikasi tanpa menghakimi, mendengarkan secara aktif, memberikan umpan balik, serta menyampaikan edukasi berdasarkan hasil pemantauan.

Salah seorang peserta, Ratnawati, mengaku pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru saat mendampingi ibu yang datang ke Posyandu.

"Selama ini kami lebih banyak langsung bertanya tentang makanan anak," kata dia.

"Sekarang kami belajar membangun komunikasi lebih dulu agar ibu merasa nyaman. Dengan begitu, informasi yang diperoleh lebih lengkap dan akurat," katanya.

Program INEY Phase II diharapkan mampu meningkatkan kualitas pemantauan praktik MP-ASI di Posyandu.

Data yang dikumpulkan kader nantinya menjadi dasar penyusunan edukasi dan intervensi gizi yang lebih tepat sasaran untuk mendukung kesehatan anak di Sulsel.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.