BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA- Penurunan debit air Waduk Riam Kanan akibat musim kemarau mulai berdampak pada pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir PM Noor.
Sejak 1 Juli 2026, PLN Indonesia Power mengoperasikan PLTA dengan satu unit turbin berkapasitas 5 megawatt (MW).
Pengoperasioan 1 turbin ini dilakukan setelah Tinggi Muka Air (TMA) waduk mencapai 57,00 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau dan mempertahankan aliran ke wilayah hilir.
Baca juga: Sebut Sebagian Wilayah Kalsel Masuki Kemarau, BMKG: Tahun Ini Akan Lebih Kering
Kondisi ini sekaligus memunculkan kekhawatiran di kalangan pembudidaya ikan keramba jaring apung (KJA).
Manager ULPLTAD Gunung Bamega, Reza Permana, dalam surat nya, menjelaskan penyesuaian operasi merupakan langkah rutin saat inflow atau debit air yang masuk ke waduk menurun.
"Jadi bukan terganggu. Sesuai informasi BMKG, saat ini sudah memasuki musim kemarau yang ditandai dengan menurunnya inflow atau debit air yang masuk ke waduk, " jelas Reza.
Ditambahkannya, agar aliran air di hilir tetap terjaga hingga memasuki musim penghujan, dilakukan pengaturan beban melalui pengoperasian satu unit turbin berkapasitas 5 megawatt sejak 1 Juli 2026 yakni ketika Tinggi Muka Air mencapai 57,00 mdpl,"
Pihaknya juga menegaskan penyesuaian operasi PLTA tersebut bukan menjadi faktor utama penyebab pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini.
DKPP Ingatkan Pembudidaya Ikan
Di sisi lain, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar mengingatkan pembudidaya ikan agar mengantisipasi perubahan kualitas air akibat menurunnya debit waduk.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP, Bandi Chairullah, mengatakan kondisi tersebut berpotensi menurunkan kadar oksigen terlarut sehingga meningkatkan risiko kematian ikan.
Pembudidaya diminta mengurangi kepadatan tebar, menambah aerator atau pompa air, rutin memantau kualitas air serta kesehatan ikan, dan menyiapkan sumber air cadangan untuk meminimalkan kerugian.
Kekhawatiran juga mulai dirasakan para pembudidaya. Iwan Hadruni, pemilik keramba di Desa Tambela, Kecamatan Aranio, mengaku permukaan air sungai di sekitar kerambanya telah turun lebih dari dua jengkal dalam beberapa hari terakhir.
Baca juga: Rentan Krisis Air Bersih Saat Musim Kemarau, Tiga Sumur Bor Baru Hadir di Desa Tanjung Tanahlaut
Meski belum mengalami kematian ikan, Iwan kini lebih sering memantau kondisi air karena khawatir penurunan debit akan mengurangi kadar oksigen.
Menurutnya, para pembudidaya juga mendengar adanya kematian bibit ikan di wilayah Karang Intan beberapa hari lalu yang diduga berkaitan dengan perubahan kualitas air.
Karena itu, pembudiaya ikan berharap debit Waduk Riam Kanan tidak terus menurun agar aktivitas budidaya tetap berjalan normal selama musim kemarau.
(Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)