TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Pada musim liburan sekolah anak-anak menyerbu destinasi berbasis edukasi lingkungan, salah satunya Marine Safari Bali yang berlokasi di dalam kawasan Taman Safari Bali, Gianyar.
General Manager Marine Safari Bali Laetitia Delvart, menjelaskan, tempat ini menjadi daya tarik karena mengintegrasikan konsep rekreasi dengan pengenalan ekosistem laut untuk mengisi waktu luang anak sekolah secara lebih produktif.
Sebagai taman laut terbesar di Indonesia, Marine Safari Bali menampung lebih dari 10.000 satwa laut dan darat dari sekitar 300 spesies, tempat ini membagi kawasannya ke dalam enam zona ekosistem imersif yang merepresentasikan habitat alami.
"Mulai dari hutan hujan tropis, sungai, muara, pesisir hingga lautan lepas. Jadi liburan sekolah ini momen yang berharga bagi keluarga untuk memperkenalkan anak-anak pada pengalaman belajar di luar ruang kelas," kata Laetitia di sela kegiatan, pada Senin 6 Juli 2026.
Kata dia, pola asuh dan preferensi keluarga dalam mengisi musim liburan sekolah kini mulai mengalami pergeseran di mana para orang tua saat ini cenderung memilih tempat berlibur yang menawarkan nilai edukasi nyata dan interaksi langsung bagi anak-anak.
Pendekatan edukasi secara audiovisual saja tidak lagi cukup untuk membangun kepekaan generasi muda terhadap lingkungan melainkan membutuhkan keterlibatan aktif agar bisa memahami materi yang mereka pelajari.
"Di Marine Safari Bali, kami percaya bahwa proses belajar akan lebih bermakna ketika dialami secara langsung," bebernya.
Baca juga: Kebun Rakyat Gianyar Bakal Dikembangkan Jadi Wisata Edukasi, Pengunjung Bisa Tracking Sambil Belajar
Di sini, pola edukasi dikemas melalui interaksi fisik yang terkontrol, seperti memberi makan ikan pari, menyentuh hiu bambu dan bintang laut di kolam sentuh, hingga mengikuti sesi diskusi bersama perawat satwa terkait kehidupan penguin, singa laut, dan piranha.
Tidak hanya menyajikan wisata permukaan, aspek edukasi ilmiah juga dibuka melalui program Behind the Scenes Education Centre Tour melalui kolaborasi tim spesialis kelautan dengan Conservation Planning Specialist Group (CPSG) dan Perhimpunan Kebun Biinatang Seluruh Indonesia (PKBSI).
Melalui program ini, anak-anak dan orang tua dapat melihat langsung bagaimana sistem pendukung kehidupan satwa bekerja, mulai dari klinik veteriner, laboratorium patologi klinis, hingga manajemen nutrisi pakan harian.
"Dengan menghadirkan kesempatan bagi pengunjung untuk berinteraksi lebih dekat dengan satwa laut serta tim yang merawatnya, kami berharap dapat menumbuhkan apresiasi yang lebih besar terhadap ekosistem laut Indonesia," jelas Laetitia.
Selain berinteraksi dengan satwa, aspek pembelajaran dikembangkan melalui media seni pertunjukan di destinasi wisata konservasi laut yang berjarak 50 menit dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan buka pukul 09.00 - 17.00 WITA ini.
Terdapat pementasan teatrikal bertajuk Pachamaya yang mengulas biodiversitas hutan hujan tropis, serta pertunjukan Samudraya yang berfokus pada perilaku lumba-lumba hidung botol serta urgensi menjaga kebersihan laut dari sampah.
"Komitmen konservasi modern di tempat ini juga ditunjang melalui penerapan teknologi ramah lingkungan, seperti sistem filtrasi berbasis ozon untuk menjaga kejernihan dan kualitas air tanpa menggunakan zat klorin yang berpotensi membahayakan kesehatan satwa," pungkasnya.
(*)