Pesan Politik Tersirat Di Balik Pemakaman Ali Khamenei
Untung July 06, 2026 11:11 PM

– Rangkaian prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang berlangsung pada 4-6 Juli 2026 di Teheran, berubah menjadi panggung politik besar yang memuat pesan politik tersirat serta ancaman bagi Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah Iran dinilai sedang menyampaikan pesan bahwa arah politik negara tidak akan berubah meski kepemimpinan kini berganti dan resmi dijabat oleh putranya, Mojtaba Khamenei, sebulan setelah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara yang menurut pemerintah Iran dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

Al Jazeera melaporkan bahwa rangkaian upacara selama sepekan yang melintasi sejumlah kota suci di Iran dan Irak ini dirancang bukan hanya sebagai penghormatan terakhir, tetapi juga sebagai sarana memperkuat legitimasi pemerintahan baru di bawah Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei, dengan memadukan simbol keagamaan dan pesan politik untuk memperkuat dukungan dalam negeri serta menunjukkan sikap Iran kepada Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara di kawasan.

Salah satu simbol yang menyita perhatian dunia adalah pengibaran bendera merah raksasa bertuliskan "Wahai Para Penuntut Balas Hussein" di kompleks Grand Mosalla tempat jenazah disemayamkan, yang dalam tradisi Syiah identik dengan kewajiban moral menuntut keadilan atas kematian seorang syahid, sekaligus menjadi cara pemerintah Iran membingkai kematian Khamenei sebagai alasan mempertahankan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel meskipun Teheran belum menjelaskan bentuk pembalasan yang akan ditempuh.

Peristiwa ini mengingatkan pada respons Iran setelah Jenderal Qassem Soleimani tewas akibat serangan udara Amerika Serikat pada 2020 lalu, di mana saat itu Iran meluncurkan serangan rudal ke pangkalan militer Amerika di Irak, namun menyatakan bahwa pembalasan strategis akan berlangsung dalam jangka panjang.

Selain dipenuhi narasi perjuangan melawan musuh-musuh Republik Islam, pemakaman ini juga dihadiri oleh delegasi Poros Perlawanan yang didukung Iran seperti Hizbullah Lebanon, Hamas, Jihad Islam Palestina, hingga kelompok Houthi Yaman, di mana setiap delegasi menerima pembacaan ayat Al-Quran yang berbeda sebelum memberikan penghormatan terakhir.

Ayat yang dibacakan kepada Hamas, Hizbullah, dan Pakistan menekankan pesan tentang kesetiaan, keteguhan, dan komitmen terhadap perjuangan, sementara ayat yang dipilih untuk delegasi Arab Saudi mengisahkan Pertempuran Badar ketika kaum beriman menghadapi lawan yang jumlahnya jauh lebih besar, yang dinilai sejumlah analis sebagai diplomasi simbolik Iran untuk menunjukkan pesan politik yang berbeda sesuai posisi negaranya di kawasan.

Bagi para pengamat Timur Tengah, seluruh rangkaian pemakaman Ayatollah Ali Khamenei ini memperlihatkan bagaimana pemerintah Iran memadukan agama, sejarah, dan simbol politik secara utuh dalam satu panggung besar.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.