Harga Pasar Tembus Rp 63 Ribu, Petani Cabai di Cirebon Menjerit Hanya Dibeli Rp 17 Ribu Per Kilo
Ravianto July 07, 2026 07:11 AM

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Harga cabai rawit merah di tingkat konsumen sedang berada di level tinggi.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia, harga cabai rawit merah bahkan menembus Rp 63.900 per kilogram.

Namun di balik mahalnya harga cabai di pasar, nasib petani justru jauh dari kata sejahtera.

Kondisi itulah yang dirasakan Jaelani (42), petani cabai rawit di Desa Blender, Kecamatan Karang Wareng, Kabupaten Cirebon.

Saat harga cabai di pasaran melambung, ia justru hanya mampu menjual hasil panennya sekitar Rp 17 ribu per kilogram.

Tak hanya menghadapi rendahnya harga jual di tingkat petani, Jaelani juga harus berjuang melawan menurunnya produktivitas tanaman akibat faktor cuaca, kondisi tanah, hingga serangan penyakit tanaman yang membuat hasil panen jauh dari harapan.

Baca juga: Pantauan Harga Pangan di Bandung: Cabai dan Ayam Landai, Disdagin Jadwalkan Pasar Murah

Saat ditemui di sela aktivitasnya memantau kebun cabai seluas sekitar lima hektare, Senin (6/7/2026), Jaelani menunjukkan hamparan tanaman cabai yang sebagian tampak subur, namun sebagian lainnya mengalami pertumbuhan tidak normal.

Beberapa daun terlihat menguning dan mengerut akibat serangan penyakit.

Menurut Jaelani, hasil panen saat ini belum maksimal.

Bahkan hingga memasuki masa panen, produktivitas cabai masih jauh di bawah kondisi normal.

"Ya kalau sekali petik, kalau 2 hektare, kalau bagus ya kemungkinan antara 2 kuintal lah. Dua kuintal itu minim. Itu mending, lumayan, masih ada sisalah," ujar Jaelani, Senin (6/7/2026).

Ia menjelaskan, untuk memperoleh hasil sekitar dua kuintal cabai, dirinya harus memanen tanaman dari lahan seluas dua hektare.

Padahal dalam kondisi normal, produksi seharusnya bisa lebih tinggi.

Selain faktor cuaca yang kurang mendukung, keterbatasan tenaga buruh petik juga menjadi kendala tersendiri. 

Akibatnya, proses panen tidak selalu dapat dilakukan secara optimal sehingga target produksi sulit tercapai.

Meski harga jual dinilai belum menguntungkan, Jaelani mengaku tetap harus memanen cabai yang sudah berbuah.

Jika tidak dipetik, buah cabai akan terbuang percuma di pohon.

"Kalau ini kan daripada enggak dipetik sayang, karena ada buahnya. Jadi dipetik ya agak rugi modal, kalau enggak dipetik kelihatan buah. Jadi bisa enggak bisa, kudu dipetik," ucapnya.

Di tengah kebun yang membentang luas, Jaelani memperlihatkan sejumlah tanaman yang terserang penyakit.

Daun-daunnya tampak menguning, mengerut dan pertumbuhannya tidak normal.

Kondisi tersebut membuat jumlah buah yang dihasilkan menjadi jauh lebih sedikit dibanding musim panen sebelumnya.

Menurutnya, perubahan cuaca yang tidak menentu dalam beberapa bulan terakhir membuat tanaman cabai rentan terserang penyakit.

Akibatnya, buah cabai tumbuh lebih jarang dan ukuran hasil panen pun tidak seragam.

Sementara itu, berdasarkan data PIHPS Nasional, harga berbagai jenis cabai di tingkat konsumen masih berada pada kisaran tinggi.

Cabai merah keriting dipasarkan antara Rp 30 ribu hingga Rp 51.600 per kilogram, cabai merah besar berkisar Rp 44 ribu hingga Rp 51.800 per kilogram, sedangkan cabai rawit hijau berada pada rentang Rp 31 ribu hingga Rp 50.150 per kilogram.

Besarnya selisih harga antara tingkat petani dan konsumen menunjukkan masih adanya persoalan dalam rantai distribusi dan tata niaga komoditas hortikultura.

Ketika harga cabai di pasar melonjak, keuntungan yang diterima petani belum sebanding dengan kenaikan harga tersebut.

Karena itu, Jaelani berharap pemerintah dapat memberikan pendampingan budidaya, membantu perbaikan kualitas lahan, serta menjaga stabilitas harga agar petani memperoleh keuntungan yang lebih layak.

Ia juga berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga produktivitas tanaman kembali meningkat dan hasil panen dapat menutup biaya produksi yang terus bertambah setiap musim tanam.

Bagi Jaelani dan petani cabai lainnya di Cirebon, tingginya harga cabai di pasar belum tentu menjadi kabar baik. 

Sebab di balik harga yang terasa pedas bagi konsumen, masih ada petani yang harus menanggung pahitnya hasil panen yang belum memberikan keuntungan sebagaimana mestinya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.