BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kinerja ekspor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Mei 2026 mengalami kontraksi cukup dalam. Penurunan ekspor komoditas timah sebagai andalan daerah menjadi faktor utama yang menekan nilai ekspor provinsi ini di tengah masih bertumbuhnya sejumlah komoditas non-timah.
Ketua Tim Statistik Harga, BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Desiana Arbani Safari mengatakan, penurunan tersebut terutama dipengaruhi melemahnya ekspor timah yang masih mendominasi struktur ekspor daerah.
"Pada Mei 2026, nilai ekspor timah mencapai US$129,48 juta, turun 22,91 persen dibandingkan Mei 2025 yang sebesar US$167,95 juta," ujarnya kepada Bangkapos.com, Selasa (7/7/2026).
Meski mengalami penurunan, timah masih menjadi komoditas utama ekspor Bangka Belitung dengan kontribusi lebih dari 84 persen terhadap total ekspor provinsi.
Sementara itu, ekspor komoditas non-timah juga belum mampu menopang penurunan tersebut. Nilainya tercatat US$24,56 juta, atau turun 35,52 persen secara tahunan dibandingkan Mei 2025 yang mencapai US$38,09 juta.
Kata Desiana, komoditas non-timah masih didominasi kelompok lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) dengan nilai ekspor US$10,36 juta atau berkontribusi 42,18 persen terhadap total ekspor non-timah pada Mei 2026.
"Secara kumulatif selama Januari-Mei 2026, Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor timah Bangka Belitung. Nilai ekspor timah ke negara tersebut mencapai US$301,58 juta, atau menyumbang 43,35 persen dari total ekspor timah. Disusul Korea Selatan dengan pangsa 13,57 persen, India 10,16 persen, kemudian Singapura dan Belanda," jelasnya.
Menariknya, meski nilai ekspor timah pada Mei mengalami penurunan secara tahunan, kinerja ekspor timah secara kumulatif Januari-Mei 2026 ke lima negara tujuan utama masih tumbuh 10,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tertinggi tercatat pada ekspor ke Tiongkok yang melonjak 59,55 persen, diikuti Korea Selatan sebesar 14,78 persen dan India sebesar 11,77 persen. Sebaliknya, ekspor ke Singapura dan Belanda masih mengalami kontraksi masing-masing 59,89 persen dan 19,57 persen.
Di sisi lain, ekspor non-timah sepanjang Januari-Mei 2026 masih ditopang komoditas lemak dan minyak hewan/nabati dengan nilai US$72,46 juta atau hampir 49 persen dari total ekspor non-timah. Komoditas lainnya yang memberikan kontribusi besar ialah bahan bakar mineral, ikan dan udang, kopi, teh dan rempah-rempah, serta karet dan barang dari karet.
Untuk pasar ekspor non-timah, Bangladesh menjadi tujuan utama dengan nilai ekspor US$46,38 juta atau berkontribusi 31,33 persen terhadap total ekspor non-timah Januari–Mei 2026. Posisi berikutnya ditempati Tiongkok, Thailand, Vietnam, dan Malaysia.
Lima negara tujuan utama tersebut menyerap sekitar 80,97 persen total ekspor non-timah Bangka Belitung dan secara kumulatif masih mencatat pertumbuhan 9,80 persen dibandingkan periode Januari-Mei 2025, terutama didorong meningkatnya ekspor komoditas lemak dan minyak hewan maupun nabati.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)