TRIBUNBENGKULU.COM - Polemik video viral Nyimas Laula yang memarahi seorang pria di sebuah gym di Bali memasuki babak baru.
Setelah videonya ramai diperbincangkan di media sosial, fotografer tersebut kini menyoroti penggunaan ulang rekaman miliknya oleh sejumlah akun media sosial.
Melalui akun Threads pribadinya, Nyimas menyatakan akan menempuh jalur hukum terhadap pihak-pihak yang mengunggah ulang videonya tanpa izin.
"Saya akan proses secara hukum bagi yang upload video milik saya tanpa izin. Saya adalah pemilik hak cipta," tulis Nyimas dalam unggahan Threads.
Tak lama setelah menyampaikan pernyataan tersebut, beredar tangkapan layar yang memperlihatkan seseorang yang diduga Nyimas menghubungi admin akun Instagram Maju Indonesia melalui WhatsApp.
Dalam pesan yang terlihat pada tangkapan layar itu, Nyimas menyatakan dirinya merupakan pemilik hak cipta atas foto maupun video yang diunggah ulang oleh akun tersebut.
"Saya adalah pemilik hak cipta atas foto/video yang Anda unggah di akun IG Maju Indonesia Anda. Konten tersebut telah digunakan tanpa izin saya.
Pengunggahan ulang tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak ekonomi pencipta sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, khususnya hak untuk memperbanyak dan mengumumkan/mengomunikasikan ciptaan kepada publik tanpa persetujuan pemegang hak cipta. Dengan menambahkan poster di dalam video, Anda juga telah melanggar hak untuk melakukan adaptasi dan modifikasi terhadap Hak Cipta.
Dengan ini saya meminta agar Anda segera menghapus (take down) konten tersebut dalam waktu 1 x 24 jam sejak pesan ini diterima," tulis Nyimas dikutip Selasa (7/7/2026).
Pada tangkapan layar lain, terlihat balasan dari admin yang menyatakan telah menerima pesan tersebut.
"Halo Kak, terima kasih telah menghubungi nomor ini. Sampaikan kebutuhanmu dan admin akan balas secepat mungkin. Terima kasih dan sehat selalu ya."
Sebagai informasi, dalam ketentuan hukum hak cipta di Indonesia, seseorang yang membuat dan merekam videonya sendiri pada dasarnya merupakan pemegang hak cipta atau setidaknya memiliki hak atas rekaman tersebut, kecuali hak tersebut telah dialihkan atau diatur dalam perjanjian lain.
Artinya, meski sebuah video telah viral di media sosial, hal itu tidak otomatis membuat siapa pun bebas mengunduh lalu mengunggah ulang konten tersebut tanpa izin dari pemilik hak cipta.
Hingga saat ini belum diketahui apakah permintaan tersebut telah ditindaklanjuti maupun apakah Nyimas benar-benar telah mengajukan laporan hukum terhadap pihak yang mengunggah ulang videonya.
Sebelumnya, Nyimas menjadi sorotan publik setelah video dirinya memarahi seorang pria di area gym di Bali viral di media sosial.
Video tersebut memicu pro dan kontra hingga akhirnya Nyimas memberikan klarifikasi melalui akun Threads miliknya.
Ia menjelaskan bahwa video yang beredar tidak menampilkan keseluruhan kejadian sehingga memunculkan kesalahpahaman.
Menurut Nyimas, insiden itu terjadi saat dirinya sedang melakukan attempt 115 persen atau percobaan mengangkat beban untuk mencetak personal record (PR).
Pada momen tersebut, kata dia, seorang pria justru melintas di area platform tempat latihan berlangsung.
"Gimana rasanya lagi mau attempt 115 persen ada orang tolol lewat-lewat. Jadi complexes kan tuh," tulis Nyimas dalam unggahan Threads yang telah dilihat lebih dari 600 ribu kali.
Dalam unggahan berikutnya, Nyimas menjelaskan pria tersebut bukan hanya sekali melintas.
Ia mengklaim pria itu sudah tiga kali bolak-balik mengganti dumbbell dan tetap memilih berjalan di sisi platform meski masih tersedia jalur lain yang lebih aman.
"Gini ya, ini orang udah 3x bolak balik gonta ganti dumbbell, di depan itu ada space buat jalan, tapi dia milih melipir lewat platform. Iya platform itu dedicated buat Olympic weightlifting, posisi lagi kelas, dan attempt PR," tulisnya.
Nyimas menegaskan platform tersebut merupakan area khusus yang digunakan untuk latihan Olympic weightlifting dan seharusnya tidak dilintasi orang lain ketika ada atlet yang sedang mengangkat beban.
Menurutnya, tindakan melintas di dekat lifter bukan hanya membahayakan orang yang berjalan, tetapi juga dapat mengganggu konsentrasi atlet sehingga berisiko menimbulkan kecelakaan.
"Kenapa gak boleh lewat situ? Membahayakan lifter dan orang yang lewat. Kalau dia yang kena sih bodo amat ya, salah sendiri gak pake spatial awareness, tp kalo yg jadi cedera yg lagi ngangkat, apa dia mau nanggung? Kalau gym lagi kelas, ADA dedicated space buat kelasnya," tulis Nyimas.
Unggahan tersebut kemudian memunculkan komentar dari sejumlah warganet yang menilai pria dalam video sebenarnya tidak menginjak platform, melainkan hanya berjalan di pinggirnya.
"kalau lomba beneran ya area harus clear, kalo gym umum ya gpp diinjak, itu kan cuma lapisan biar kalo stick dan beban jatuh tidak langsung kena lantai.. kemarin aku liat utas mas2 emang depan mbak itu t4 naruh dumble jadi wajar ada orang bolak balik ambil dumble," kata netizen.
Menanggapi hal itu, Nyimas kembali memberikan penjelasan.
Ia mengaku posisi pria tersebut hanya berjarak sekitar satu langkah dari ujung barbel yang sedang digunakannya sehingga tetap dinilai berbahaya.
"Coba abang liat, itu posisi dia cuma 1 step dari ujung barbell. Beda jauh sama ini jaraknya," tulisnya sambil mengunggah tangkapan layar posisi pria tersebut.
Bahkan, Nyimas menantang warganet yang masih menganggap tindakan pria itu tidak bermasalah untuk mencoba berdiri di posisi serupa saat ada atlet melakukan gerakan snatch maupun clean and jerk.
"Ni yang masih pada bilang gak nginjek platform, lewat pinggir, space masih banyak, ayo gw tantangin lo di situ diem gak bergerak pas lagi ada yg lifting, snatch atau clean and jerk, gimana? Ayooo," tulisnya.
Nyimas Laula sendiri merupakan seorang fotografer asal Bali.
Instagram Nyimas Laula memiliki 66,4 ribu pengikut.
Aktif di media sosial, Nyimas banyak membagikan hasil fotonya yang keren.
Bila dilihat dari Instagramnya, dia banyak membagikan foto-foto dengan tema human interest hingga street fotografi sebelum akun tersebut mendadak hilang setelah Nyimas panen hujatan.
Dilansir dari berbagai sumber, Nyimas Laula merupakan seorang jurnalis foto yang karyanya fokus pada isu lingkungan dan hak asasi manusia di seluruh negeri.
Dia memulai perjalanannya pada tahun 2015 dan sejak itu bekerja dengan Reuters, The New York Times, National Geographic, dan VICE.
Pada 2015, Nyimas mendokumentasikan kedatangan pengungsi Rohingya di Aceh dan meliput salah satu kebakaran hutan terburuk dalam sejarah negara tersebut untuk Greenpeace. Selama enam bulan di tahun 2019, Nyimas menelusuri jejak polusi plastik di Pulau Bali, mendokumentasikan inisiatif yang mulai muncul untuk mengatasi masalah tersebut.
Karya Nyimas yang sempat ditampilkan pada pameran kolektif UNDP tentang Dampak Jauh dari Covid-19 di Photoville, Brooklyn, NYC, tahun 2020.
Menariknya Nyimas tidak hanya piawai menangkap momen lewat lensa, melainkan juga aktif bertindak sebagai sutradara.
Pada tahun 2021, ia sukses menakhodai sebuah serial dokumenter emosional yang mengupas tuntas mengenai dampak hantaman pandemi Covid-19 terhadap kelangsungan hidup komunitas petani gula kelapa di wilayah Jawa Tengah.
Eksistensi karyanya yang kerap nangkring di media-media besar seperti VICE News hingga DIE ZEIT menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu jurnalis foto perempuan Indonesia yang diperhitungkan di tingkat global.
Namun, di tengah rekam jejak profesional tersebut, Nyimas kini menjadi sorotan setelah video dirinya memarahi seorang pria di sebuah gym di Bali viral di media sosial.