“Kepalaku besar,” ujar Erling Braut Haaland yang menjulang tinggi sambil tersenyum lembut ketika ia memasuki sebuah toko topi di Dallas, Texas, beberapa jam setelah membawa Norwegia melewati Pantai Gading menuju babak 16 besar melawan Brasil berkat gol predator lainnya.
Beberapa saat kemudian, ia muncul dengan tampilan koboi sejati, lengkap dengan sepatu bot dari kulit ular. Ia juga membeli kaos dengan tulisan “Y’all Can Kiss My Dallas”. Suvenir itu mencerminkan sikap yang ia tunjukkan sepanjang perjalanan luar biasa menuju perempat final ini — dan mungkin juga sepanjang hampir 26 tahun hidupnya.
“Hee haw,” ujar Haaland dengan nada bercanda, meniru gaya khas orang Texas dengan kemudahan yang sama seperti ketika ia menghadapi bek tengah di lapangan.
Beberapa hari kemudian, para penonton di sekitar New York dan juga Brasil mendapat kesempatan menyaksikan legenda Nordik tersebut secara langsung. Tak banyak dari para pemain Eropa yang memerlukan perkenalan lebih lanjut.
Sebagai subplot menarik, ada pertarungan kecil ala Liga Primer Inggris antara Haaland dari Manchester City dan Gabriel dari Arsenal, rivalitas panas yang berawal sejak Haaland melempar bola ke belakang kepala Gabriel dalam pertemuan liga pada bulan September. (Mirip laga Prancis vs Paraguay?). Namun, berbeda dengan insiden itu, Haaland kali ini menunjukkan sisi ramahnya lewat percakapan hangat dengan Vinícius Jr setelah pertandingan, serta di area campuran. Sebelumnya, sebuah meme viral menampilkan keduanya menirukan adegan komedi dari film ‘White Chicks’, dan keduanya merespons dengan selera humor yang baik.
Melawan Brasil, Haaland hanya menyentuh bola empat kali di dalam kotak penalti, namun satu di antaranya berbuah gol — sundulan keras melewati Gabriel. Tembakan kilatnya yang menembus di antara kaki Danilo sebelum Alisson sempat bereaksi diambil sedikit di luar area. Gol keduanya, ia akui, adalah “hampir hadiah dari Tuhan”.
Saat peluit akhir berbunyi, Erling dan rekan-rekannya tertawa lepas, lalu bergabung dalam kegembiraan khas “Viking Row” bersama para penggemar dan bahkan keluarga kerajaan, kali ini sang penyerang menjadi pengatur ritme seperti halnya ia di lapangan. Pemotretan pra-turnamen di tepi fjord Oslo seolah memanggil dewi Norns, para penentu takdir dalam mitologi Nordik.
Sementara Cabo Verde yang tak kenal takut menjadi kisah dongeng penuh emosi di Piala Dunia 48 tim ini, Norwegia tampil bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai angin segar. Ketika Brasil asuhan Ancelotti menanggung beban sejarah, sang raja viking berambut pirang, Haaland, justru menulis saga baru bersama para prajurit Nordiknya dengan melaju ke perempat final.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa tim Skandinavia ini tak terkalahkan dalam empat pertemuan sebelumnya melawan Selecao, termasuk kemenangan penting di fase grup Piala Dunia 1998 — satu-satunya edisi terakhir yang mereka ikuti sebelum ini.
Terlepas dari berbagai peluang yang terbuang oleh Brasil, perlu diingat bahwa sudah 24 tahun berlalu sejak Ronaldinho melambungkan tendangan bebas ajaib melewati David Seaman, dan Ronaldo ‘fenomenal’ mencongkel bola melewati Oliver Kahn untuk bintang kelima mereka. Potongan rambut segitiga khas Ronaldo kala itu bisa jadi diterjemahkan sebagai “Kalian bisa cium...”, lencana yang kini dengan bangga dikenakan oleh Haaland — yang, pada waktu itu, baru berusia satu tahun.
Sejak Oktober 2024, Haaland telah mencetak 27 gol dalam 14 penampilan terakhirnya untuk Norwegia, dengan total 62 gol dalam 54 pertandingan internasional — angka yang luar biasa.
Sebuah kisah menarik lain yang berjalan sejajar adalah perlombaan Sepatu Emas. Haaland telah mengoleksi 7 gol dalam 4 pertandingan, dengan rata-rata satu gol setiap 14 sentuhan. Messi dan Mbappe mencatat angka identik dalam 5 pertandingan. Selanjutnya, Haaland akan berhadapan langsung dengan Harry Kane yang menguntit dengan 6 gol. Apakah Messi akan menyusul? Waktu yang akan menjawab.
Perjalanan Haaland dimulai sejak dini. Lahir di Leeds pada Juli awal milenium baru, ketika ayahnya, Alf-Inge Haaland, masih bermain di sana. Ia tumbuh di Byrne, Norwegia, dan meledak di Bundesliga bersama Dortmund. Di bawah arahan Pep Guardiola di sisi biru Manchester — salah satu klub tempat sang ayah pernah bermain — Haaland mencapai level baru. Ibunya, Gry Marita Braut, adalah atlet heptatlon juara, warisan yang diakui Haaland melalui tulisan di jerseynya.
Gen keluarga yang kuat melahirkan putra setinggi 195 cm yang lebih kuat lagi. Mungkin rahasianya adalah kegemarannya pada susu mentah?
Melalui vlog pribadinya di YouTube, Haaland menampilkan kepribadian yang menyenangkan — ia suka telur mata sapi dan kopi paginya diberi sirup maple, diminum dari cangkir bertuliskan ‘good vibes only’. Ia juga piawai memanggang steak ‘tomahawk’ yang sempurna.
Semuanya membuatnya tampak seperti pemuda biasa di lingkungan sebelah. Sampai peluit kick-off berbunyi.
Dalam budaya Norwegia, konsep koselig menggambarkan kebersamaan, kehangatan, dan ketenangan pikiran. Di lapangan, kelompok saudara ini mengandalkan sosok paling tenang sekaligus paling mematikan untuk menentukan momen penting. Cukup berikan bola kepada Haaland, lalu nikmati aksinya.