TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bagi Mira, deretan miniatur becak dan andong di lapaknya bukan sekadar cendera mata biasa, melainkan saksi bisu ketangguhannya bertahan empat tahun sejak relokasi ke Teras Malioboro (TM) 1.
Bersiasat menangkap sisa perhatian wisatawan di zona paling belakang Gedung A memang bukan perkara mudah. Kini, langkah TM 1 yang bertransformasi menuju kemandirian pengelolaan melalui penerapan retribusi per Juli 2026, disambutnya dengan optimis.
Dengan menyisihkan sekitar Rp 10.200 per hari, Mira meyakini langkah ini adalah investasi jangka panjang. Sebuah komitmen bersama yang diyakininya akan berbuah manis pada peningkatan fasilitas, promosi kawasan, dan pada akhirnya, mendatangkan gelombang pengunjung ke lapaknya.
Sejak awal gelombang relokasi pedagang kaki lima bergulir empat tahun lalu, Mira memilih bertahan mengepulkan asap dapur lewat kerajinan miniatur besi dan kayu di pusat belanja eks Bioskop Indra tersebut.
Di lapaknya yang terletak di Zona 2, Gedung A, Lantai 1—tepat di area belakang dekat toilet—ia memajang aneka bentuk Tugu Yogyakarta, andong, becak, hingga mainan barong.
Guna menyiasati perputaran modal usaha mikronya, Mira memilih strategi pengadaan barang secara eceran dari Pasar Beringharjo atau sekitar alun-alun ketimbang memotong jalur langsung ke pihak pengrajin.
"Enggak, soalnya kalau ke pengrajin langsung itu kan jumlahnya harus banyak. Kalau yang di pasar itu kan bisa beli misalnya kita laku dua atau tiga kita kulakan lagi gitu. Kalau di pengrajin itu harus berapa kodi, harus jumlahnya banyak," terangnya.
Memasuki musim liburan sekolah pada bulan Juli ini, denyut transaksi di lapak milik Mira memang merasakan adanya fluktuasi positif, walau belum sepenuhnya menyamai catatan manis pada tahun lalu.
Pada hari Jumat hingga Minggu, omzet hariannya yang biasa berada di kisaran Rp 300.000 bisa merangkak naik hingga Rp 400.000 atau Rp 500.000.
Namun, tantangan letak geografis lapak di sudut terdalam kerap membuatnya harus puas menjadi pelabuhan terakhir kunjungan wisatawan.
"Kalau untuk omzet pas liburan gini pasti naik ya, tapi kalau hari-hari biasa itu kan kadang juga enggak laku. Ya untuk omzet naiklah untuk liburan ini. Tapi ya, enggak enggak seramai yang tahun kemarin. Ini mungkin banyak yang buat keperluan sekolah ya," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa posisi lapak di belakang membuatnya harus bersiasat ekstra, karena sebagian besar pengunjung yang melintas sudah telanjur membelanjakan anggaran mereka di koridor depan. Kendati demikian, hilir mudik fasilitas publik seperti toilet menjadi berkah tersendiri yang ia syukuri.
"Posisi lapaknya di belakang, itu kan dekat toilet. Biasanya kalau udah dari depan itu udah pada bawa barang bawaan, udah pada belanja. Jadi kita sudah mau nawarin lagi sudah pada beli. Tapi juga ada yang dari toilet itu kecantol, belilah," katanya.
Ia pun menaruh asa agar pengelolaan fasilitas yang kian prima mampu mendongkrak daya pikat koridor belakang tempatnya menjemput rezeki.
"Ya, harapan saya mudah-mudahan untuk ke depannya lebih banyak pengunjung. Jadi kita lebih untuk laku dagangannya itu lebih banyak peluangnya. Soalnya kalau enggak ada pengunjung kita juga untuk daya beli itu kurang. Untuk akses jalan itu kan di belakang sendiri, jadi kurang. Kalau di depan itu kan sudah banyak orang ya. Mungkin kalau ke belakang itu sudah pada belanja," pungkas Mira.
Sementara itu, Fauzi, salah seorang pedagang angkringan di Teras Malioboro, mengaku tidak merasa terbebani dengan dimulainya penarikan retribusi tersebut. Baginya, komitmen pembayaran sewa lapak adalah tanggung jawab yang sudah seharusnya dipenuhi oleh pedagang aktif.
Selain penerapan retribusi baru, pedagang saat ini juga tengah menghadapi dinamika fluktuasi pendapatan di masa libur sekolah. Fauzi mencatat adanya kenaikan omzet sekitar 50 persen dibandingkan hari biasa, meski tidak melonjak sesignifikan saat periode libur Lebaran lalu.
"Kalau hari ini kayaknya naiknya hampir ada hampir 50 persen, tapi karena ini kenaikan kelas dan anak sekolah itu kurang signifikan, beda kayak waktu Lebaran. Panjang toh itu liburnya. Ada beberapa perbedaan antara liburan minggu pertama dan minggu kedua maupun minggu ketiga gitu kalau di Teras ini," paparnya.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya strategi adaptasi bagi para pelaku usaha di kawasan tersebut.
Seiring dengan adanya kewajiban retribusi ini, pedagang menyimpan harapan besar kepada pengelola terkait peningkatan daya tarik kawasan.
Fauzi secara lugas meminta pemerintah dan pengelola untuk memprioritaskan pembenahan akses dan strategi penarik wisatawan agar arus kunjungan ke pusat kuliner tetap stabil. (Han)