PKS di Pasangkayu Ungkap Alat Timbangan Tua dan Banjir Buah Penyebab Antrean Sawit Mengular
Ilham Mulyawan July 07, 2026 05:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU - Manajemen PT Toscano angkat bicara terkait antrean panjang truk pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang masih terjadi di pabrik mereka di Kelurahan Bambalamotu, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Humas sebuah Perusahaan Kelapa Sawit (PKS) di Pasangkayu, PT Toscano, Indra, mengatakan antrean yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir dipicu oleh dua faktor utama, yakni kondisi alat timbangan yang sudah tua serta meningkatnya volume pasokan buah sawit dari para pemasok.

Baca juga: Timbangan Sering Tutup Petani Sawit Pasangkayu Terpaksa Tunda Panen Sebulan Buah Susah Dijual

Baca juga: Truk Hendak Isi Solar di SPBU Kali Mamuju Hanya Boleh Satu Lajur Dilarang Antre Dekat Jembatan

Menurutnya, alat timbangan yang digunakan saat ini sudah berusia cukup lama sehingga proses penimbangan kendaraan tidak bisa dilakukan secepat yang diharapkan. 

Akibatnya, laju kendaraan yang masuk ke area pabrik menjadi lebih lambat dan menyebabkan antrean mengular.

"Memang salah satu penyebabnya karena alat timbangan kami sudah tua, sehingga proses penimbangan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kondisi normal," ujar Indra saat dikonfirmasi Tribun-Sulbar.com, Senin (7/7/2026).

Selain persoalan alat, PT Toscano juga tengah menghadapi kondisi banjir buah atau lonjakan pasokan TBS dari berbagai wilayah. 

Tingginya produksi kebun membuat jumlah truk yang datang setiap hari meningkat drastis.

Ia menjelaskan, kapasitas penerimaan pabrik harus disesuaikan dengan kemampuan pengolahan agar kualitas buah tetap terjaga dan operasional berjalan aman.

Karena itu, pihak perusahaan menerapkan sistem buka tutup antrean sebagai langkah pengaturan arus kendaraan yang masuk ke area pabrik.

"Kami terpaksa menerapkan sistem buka tutup antrean demi mengatur jumlah kendaraan yang masuk. Kalau semuanya dibiarkan masuk bersamaan, justru kondisi di dalam pabrik akan semakin padat dan mengganggu proses bongkar muat," jelasnya.

Indra mengatakan pembukaan antrean biasanya dilakukan sejak pagi hingga sore hari. Namun pada jam istirahat siang, penerimaan kendaraan dihentikan sementara sebelum kembali dibuka.

Menurutnya, pengaturan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan mengurangi kepadatan antrean dan menjaga kelancaran aktivitas di lingkungan pabrik.

"Ini dilakukan supaya proses penerimaan buah lebih tertata dan antrean bisa berkurang secara bertahap," katanya.

Ia mengakui kondisi tersebut membuat para sopir harus menunggu lebih lama dibandingkan biasanya. 

Meski demikian, perusahaan terus berupaya memaksimalkan proses penerimaan buah agar antrean dapat segera terurai.

Harga Tidak Berubah

Indra juga menegaskan bahwa panjangnya antrean tidak memengaruhi harga pembelian TBS di PT Toscano.

Menurutnya, perusahaan tetap membeli buah sawit sesuai harga acuan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.

"Harga tidak ada perubahan. Kami tetap mengikuti harga acuan yang ditetapkan pemerintah provinsi," tegasnya.

Pihak perusahaan berharap kondisi antrean dapat berangsur normal setelah volume pasokan buah mulai berkurang dan proses operasional kembali berjalan lebih lancar.

Sebelumnya, antrean truk sawit di PT Toscano dikeluhkan para sopir karena waktu tunggu yang biasanya hanya beberapa jam kini mencapai beberapa hari, bahkan ada yang mengaku harus menunggu hingga sepekan untuk mendapatkan giliran membongkar muatan.(*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.