Terpapar Paham Radikalisme, Remaja Pria di Kabupaten Banjar Ini Sempat Pelajari Merakit Bom
Hari Widodo July 07, 2026 06:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Seorang remaja di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan diduga terpapar paham radikalisme di Kabupaten Banjar.

Remaja berusia 14 tahun tersebut, tergolong mengalami paparan tingkat tinggi. Bahkan, remaja itu telah mempelajari merakit bom sederhana dari grup whatsapp yang diikutinya. 

Kasus ini mencuat bermula saat Dinsos Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Banjar menerima informasi dari Densus 88 pada 26 April 2026.

Kemudian, Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Banjar melakukan pendampingan terhadap remaja tersebut agar bisa ditangani.

Baca juga: Tertinggi 3 Tahun, Indeks Potensi Radikalisme Kalsel 2025 Alami Kenaikan

Kepala Dinsos P3AP2KB Kabupaten Banjar, Erny Wahdini, Selasa (7/7/2026) mengatakan, setelah laporan diterima, tim UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak segera berkoordinasi dengan Unit PPA Polres Banjar  melakukan penjangkauan terhadap anak tersebut.

"Tujuannya tim melakukan koordinasi dan pendampingan. Langkah awal yang kami lakukan adalah memastikan kondisi anak sekaligus melakukan asesmen awal bersama pihak terkait," ujar Erny Wahdini.

Kemudian, lanjut Kadinsos, Selanjutnya, pada 27 April 2026, remaja pria tersebut menjalani pemeriksaan psikologis oleh tim psikolog Polda Kalimantan Selatan.

"Berdasarkan hasil asesmen, anak itu dinilai memiliki tingkat paparan radikalisme yang tinggi sehingga memerlukan penanganan secara intensif," urai dia.

Masih Erny menjelaskan jila hasil pemeriksaan juga menemukan dugaan keterlibatan anak sebagai salah satu administrator grup percakapan yang menyebarkan paham radikal di luar wilayah Kalimantan Selatan.

"Selain itu juga terdapat dugaan bahwa anak menjadi salah satu admin grup yang menyebarkan paham radikal. Temuan tersebut menjadi bagian dari bahan penanganan yang dilakukan oleh pihak berwenang," runutnya.

Masih Erny menjelaskan, tim psikolog menemukan sejumlah indikator yang menjadi perhatian selama proses asesmen. 

Anak diketahui memiliki ketertarikan terhadap konten bermuatan kekerasan, menunjukkan perilaku agresif ketika keinginannya tidak terpenuhi, serta sering menggunakan kata-kata kasar.

Erny juga membeberkan, jika hasil asesmen juga menunjukkan bahwa anak telah mempelajari cara membuat bom rakitan sederhana melalui grup WhatsApp yang diikutinya.

"Karena itu, temuan ini tentu menjadi perhatian serius sehingga penanganan harus dilakukan secara menyeluruh," jelas Erny.

Putus Sekolah dan Alami Perundungan

Erny Wahdini selaku Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Banjar melakukan asesmen sosial untuk mengetahui latar belakang kehidupan anak. 

Diuraikan, Erny Wahdini, dari hasil pendampingan sementara diketahui bahwa remaja tersebut berasal dari keluarga yang telah berpisah sejak sekitar lima tahun lalu. 

"Bahkan ditengara anak tersebut  juga pernah mengalami perundungan di lingkungan sekolah hingga akhirnya memutuskan berhenti bersekolah sejak kelas IV SD," urainya.

Karenanya, beber Erny, kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang membuat anak lebih mudah dipengaruhi oleh lingkungan digital yang negatif.

"Selama proses pendampingan kami melihat anak lebih banyak memiliki pengalaman hidup yang kurang menyenangkan. Ketika pengalaman positif sangat minim, seseorang bisa menjadi lebih rentan terhadap pengaruh dari luar, termasuk konten-konten yang bersifat ekstrem," jelasnya.

Berdasarkan rekomendasi tim psikolog, anak tersebut kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa untuk menjalani pengobatan secara rawat jalan. 

Selama proses tersebut, Dinsos melalui UPTD PPA juga tetap memberikan pendampingan psikologis secara berkala.

Masih Erny mengatakan perkembangan kondisi anak mulai menunjukkan perubahan yang positif, meskipun proses pemulihan masih terus berlangsung.

"Alhamdulillah kondisinya berangsur membaik. Namun pendampingan tetap kami lakukan karena proses pemulihan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Harapan kami, setelah dinyatakan pulih oleh tim rumah sakit, anak dapat kembali melanjutkan pendidikannya," harapnya.

Langkah preventif

Dinsos P3AP2KB Kabupaten Banjar juga melakukan langkah preventif dengan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan serta Kementerian Agama melalui berbagai program sosialisasi mengenai sekolah ramah anak, pencegahan perundungan, serta perlindungan anak.

"Sebab kami menilai keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah anak terpapar berbagai konten negatif di internet. Karena itu, kami mengimbau para orang tua agar tidak membiarkan anak menggunakan gadget tanpa pengawasan," ujarnya.

Selain itu, batasi waktu penggunaan gawai anak, serta kenali aktivitas mereka di media sosial, dan arahkan anak mengikuti kegiatan yang positif, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.

Erny menambahkan bahwa berdasarkan hasil pendampingan, dugaan paparan terhadap remaja tersebut berawal dari aktivitasnya di media sosial. 

Minimnya interaksi sosial secara langsung membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya hingga akhirnya bergabung dengan grup yang menyebarkan paham radikal.

 Sorotan anggota dewan

Anggota DPRD Banjar M Ali Syahbana merespons kasus radikalisme anak di Kabupaten Banjar. Bahkan, kasus paparan radikalisme via grup WhatsApp ini, juga sempat mencuat pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Banjar pada Senin (6/7/2026).

Anggota DPRD Kabupaten Banjar, M Ali Syahbana, mengatakan kasus ini adalah bukti nyata bahwa daerah masih rentan dengan hal seperti ini, yang diakibatkan lambannya kesiapan sistem proteksi sosial di masyarakat.

Baca juga: Waspada Paparan Radikalisme

Ali Syahbana juga mengapresiasi ketegasan penegakan hukum oleh Polda Kalimantan Selatan, serta respons cepat pemulihan psikologis oleh Dinsos P3AP2KB Kabupaten Banjar.

Pihaknya juga mendesak adanya benteng pertahanan jangka panjang yang menyeluruh.

"Segera merumuskan solusi pencegahan yang menyentuh akar persoalan paparan radikal ini. Untuk jangka panjang, solusinya adalah penguatan ekosistem kebijakan daerah, termasuk integrasi literasi informasi kritis dalam sistem pendidikan lokal serta pembangunan sistem peringatan dini di tingkat akar rumput,” urai Ali.

Pihahknya juga menilai kejadian ini merupakan peringatan atau alarm keras bagi seluruh pihak. 

Terutama eksekutif, legislatif, dan lingkungan keluarga, untuk segera merapatkan barisan dalam pengawasan di dunia maya yang bertujuan melindungi generasi muda Banjar dari infiltrasi paham radikal.
(Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.