Banjir Kiriman Rendam Jalan Bunga Terompet 10 Jam, Warga: Hujan Sedikit Air Setinggi Pinggang
Ayu Prasandi July 07, 2026 07:55 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Warga di sekitar Jalan Bunga Terompet, Kota Medan, kembali mengeluhkan banjir yang kerap merendam pemukiman mereka. 

Bukan karena hujan deras melainkan banjir kiriman dari kawasan Jalan Setiabudi dan sejumlah perumahan baru yang membuang air hujan ke wilayah tersebut.

Akibat minimnya saluran drainase, air kiriman itu menggenangi jalanan hingga sepinggang orang dewasa dan butuh waktu sekitar kurang lebih 10 jam untuk surut.

Seorang warga bernama Marpaung (60) menceritakan bahwa banjir yang melanda kawasan tersebut bukan dikarenakan dari curah hujan melainkan limpahan air dari kawasan lain.

"Banjir di sini datangnya dari beberapa tempat. Jadi air jatuhnya ke sini semua. Datangnya dari Jalan Setiabudi, dan sebagian dari perumahan dekat sini juga. Terus ada juga ini perumahan baru, buangan airnya ke mari juga," ujar Marpaung saat ditemui Tribun Medan, Selasa (7/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa sebelum perumahan baru dibangun, air kiriman tersebut sebenarnya mengalir ke parit.

Namun setelah pembangunan, aliran air naik ke lahan kosong di sekitar pemukiman warga.

"Katanya sebelum ada dibangun perumahan, air itu terbuang ke Jalan Bunga Terompet. Tapi setelah dibangun perumahan itu, akhirnya belakangnya air itu terbuang ke lahan kosong ini," ucapnya.

Marpaung mengungkapkan bahwa banjir di kawasan tersebut sudah terjadi sejak belasan tahun lalu, untuk saat ini kondisinya semakin parah.

"Kalau sudah hujan agak lama atau sedikit hujan, berhenti, baru banjir di sini. Nah, bukan langsung di situ hujan langsung banjir. Karena dia banjir kiriman," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa di titik-titik tertentu, ketinggian air bisa mencapai sepinggang orang dewasa.

Bahkan di belakang rumahnya, air masuk ke dalam rumah hingga sebatas betis.

Lambatnya surut juga menjadi masalah. Menurut Marpaung, air bisa menggenang hingga kurang lebih 10 jam baru benar-benar surut. 

Salah satu penyebabnya adalah parit yang dangkal dan tersumbat oleh sampah, termasuk batang jagung sisa yang dibakar pemilik lahan.

"Karena banyak batang-batang jagung yang sudah ditebang itu, dibakar, tapi yang terbakar daunnya aja. Cuma batang itu juga terbakar. Terbawalah ini sepanjang parit ini. Jadi parit kita ini sekarang udah agak sumpek gitu. Jalan Bunga Terompet paritnya dangkal semua," jelasnya.

Tingginya intensitas kiriman air hujan ini membuat dampak besar bagi warga yang tinggal di Jalan Bunga Terompet 

Marpaung menyebut banyak perabotan rumah tangga seperti kursi, meja, lemari, hingga tempat tidur rusak akibat terendam banjir.

"Banjir sampai ke rumah. Kursi, meja hancur, lemari hancur. Ada lagi yang sampai tempat tidur hancur juga," ungkapnya.

Tak hanya itu, banjir juga berdampak pada nilai properti. Marpaung menduga bahwa banyak tanah di kawasan tersebut sulit laku akibat sering tergenang air.

"Efeknya banjir ini pembangunan jadi lambat lah. Kebetulan ada juga orang jual-jual tanah di sini kayaknya. Enggak laku. Mungkin efek dari itu kita enggak tahu," katanya.

Marpaung mengatakan bahwa warga sudah berupaya menyuarakan keluhan mereka hingga ke tingkat dewan. Bahkan, mereka baru saja bertemu langsung dengan ketua dewan untuk membahas persoalan banjir ini.

"Harapan kami dari masyarakat sini, bagaimana secepatnya untuk menormalisasi. Apa yang menormalisasi ini biar tidak banjir lagi gitu. Dan usaha kami pun sudah kami buatkan sampailah kami ketemu ke dewan sudah. Langsung ketemu kami barusan sama ketua dewan," tuturnya.

Sama halnya dengan warga lain, Purnawan Ginting, yang memiliki ladang jagung di sekitar kawasan tersebut, juga merasakan dampak banjir kiriman. 

Ia mengatakan banjir sering merendam tanamannya dan mengganggu pertumbuhan jagung.

"Ya pasti ngaruh lah. Kan kalau udah gini pertumbuhannya gimana itu," ujarnya.

Lanjut Purnawan yang lebih menyakitkan ketika ia baru saja memupuk tanamannya, lalu hujan datang dan membawa pupuk tersebut terbuang percuma.

"Tapi di samping pertumbuhan, yang paling parahnya lagi, ini kita di sini sekarang jam 11 kita pupuk, nanti jam 4 datang hujan. Pupuknya itu kan dibawa lagi semua. Iya, sayang lah," pungkasnya.

(Cr9/Tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.