TRIBUNMANADO.CO.ID - Direktur Utama PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER) Irjen Pol (Purn) Drs. Carlo Brix Tewu mengunjungi Desa Rumoong Atas, Kecamatan Tareran, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (7/7/2026).
Kedatangan Carlo untuk berdialog dengan para petani dan pengepul Cap Tikus.
Di depan belasan petani dan pengepul, Carlo membeberkan program Brenti jo Bagate semasa ia jadi Kapolda Sulut.
"Jadi kami tak melarang minum, yang bermasalah adalah jika berbuat kejahatan," katanya.
Menurut Tewu, Cap Tikus adalah kearifan lokal yang harus dilestarikan.
Sebagai Direktur Utama PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER), ia bertekad membawa Cap Tikus got international.
"Kami berkomitmen membawa Cap Tikus ke pasar global, dan untuk itu kami memohon dukungan dari semua pihak," katanya.
Warga Desa Rumoong Atas, Kecamatan Tareran, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) kedatangan tamu spesial, Selasa (7/7/2026).
Tamu tersebut adalah Irjen Pol (Purn) Drs. Carlo Brix Tewu.
Tewu dikenal sebagai sosok polisi berprestasi dengan integritas tinggi yang pernah menjabat sebagai Kapolda Sulut.
Selepas purnatugas dari kepolisian, ia kini mengemban amanah sebagai Direktur Utama PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER).
Lewat perusahaan ini, Tewu berkomitmen untuk membawa Cap Tikus, minuman tradisional khas Minahasa, melangkah ke pasar internasional (go international).
Kedatangan Tewu ke desa tersebut bertujuan untuk berdialog langsung dengan para pengepul dan petani Cap Tikus setempat.
Dialog ini turut dihadiri oleh anggota DPRD Minsel, Alex Kumaat, yang dahulu juga pernah berprofesi sebagai petani Cap Tikus.
Dalam pertemuan tersebut, Tewu menyerap berbagai aspirasi sekaligus memberikan buah pemikiran terbaiknya demi kemajuan para petani.
Pantauan Tribunmanado.com menunjukkan dialog antara Tewu, pengepul, dan petani berlangsung dalam suasana yang hangat, santai, dan penuh keakraban.
Tampil dengan gaya sporty mengenakan kaos putih, celana hitam, dan topi hitam, Tewu tampak menikmati obrolan yang diselingi dengan menyantap kue panekuk serta mencicipi satu sloki Cap Tikus.
Dari hasil dialog tersebut, Tewu menganalisis bahwa persoalan utama yang dihadapi para petani saat ini adalah semakin berkurangnya populasi pohon seho (aren). Sebagai solusi, ia menilai perlu adanya intervensi dari Pemerintah Kabupaten Minsel maupun Pemerintah Provinsi Sulut.
Pemerintah diharapkan dapat menggalakkan penanaman kembali dengan menyediakan bibit seho kualitas terbaik.
Tewu pun meminta Alex Kumaat selaku anggota dewan untuk menyuarakan aspirasi ini kepada Pemerintah Kabupaten Minsel.
Selain itu, pihak perusahaan juga akan menggandeng kalangan akademisi untuk melakukan penelitian dalam rangka menyiapkan bibit unggul.
Ia menegaskan bahwa PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER) siap memperkenalkan Cap Tikus ke mata dunia melalui pasar luar negeri yang saat ini tengah dijajaki.
Dalam kesempatan yang sama, dialog juga mengulas tentang besarnya peran ekonomi Cap Tikus bagi masyarakat setempat.
Berkat hasil menyadap aren, banyak petani yang sukses menyekolahkan anak-anak mereka hingga meraih gelar doktor atau menjadi pendeta.
Tewu juga sempat membagikan pengalamannya semasa menjabat sebagai Kapolda Sulut lewat program penertiban minuman keras "Brenti Jo Bagate".
Kepada Tribunmanado.com, Tewu menegaskan tujuan kehadirannya adalah murni untuk memetakan kendala yang dihadapi di lapangan.
"Dan tadi sudah kita dengar bersama bahwa memang ada penurunan produksi," ujarnya.
Ia mengaku bersyukur atas kehadiran perwakilan rakyat dalam dialog ini.
Tewu berharap kolaborasi ini dapat terus berjalan secara berkelanjutan demi mencari solusi konkret bagi warga, salah satunya lewat penanaman bibit unggul.
Menanggapi hal tersebut, Alex Kumaat berjanji akan segera membawa poin-poin hasil dialog ini ke ranah pemerintahan.
"Saya akan suarakan itu demi kepentingan dan kesejahteraan para petani," tegasnya.
Harapan senada juga diungkapkan oleh Hein Poluan, salah satu pengepul sekaligus petani setempat.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada nasib mereka.
Hein pun menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kepedulian Carlo Tewu yang mau turun langsung berdialog dan membantu mencarikan solusi terbaik bagi masa depan petani Cap Tikus.
Cap Tikus sering jadi kambing hitam persoalan kriminal.
Anggapan itu terpatahkan bila melihat kehidupan di Desa Rumoong Atas, Kecamatan Tareran, Kabupaten Minsel, Sulut.
Ini desa penghasil Cap Tikus.
Masyarakat di sana terbiasa mengkonsumsi Cap Tikus dengan kadar paling minimal 60 persen.
Namun angka kriminalitas di sana minim.
"Di sini tak ada yang kejadian pembunuhan dan penikaman," kata Hein Poluan, salah satu pengepul petani Cap Tikus kepada Tribun manado di desa tersebut, Selasa (7/7/2026).
Hein menuturkan, warga desa tersebut biasa mengkonsumsi Cap Tikus.
Paling sering pada pagi hari.
"Tapi kami setelah itu kerja, karena ada kerjaan," katanya.
Ia menilai ungkapan bahwa Cap Tikus adalah penyebab kriminalitas adalah keliru.
Mengatakan demikian sama dengan melihat persoalan pakai kacamata kuda.
"Kalau menurut saya mabuk dan mengacau hanyalah karena orang itu memang ingin demikian, selalu Cap Tikus jadi kambing hitam," katanya.
Salah satu bukti sahih bahwa kampung itu kurang angka kriminalitas adalah minimnya laporan di Polsek Tareran.
Polsek tersebut membawahi wilayah penghasil Cap Tikus di Minsel.
Warga desa lainnya yang bernama Francis Kumaat mengatakan, selama ini para petani disiksa stigma Cap Tikus sebagai penyebab kriminalitas.
Ia menolak keras hal itu.
"Itu perlu diluruskan, contohnya kampung ini," kata dia.
Alex Kumaat anggota DPRD Minsel mengaku dulunya petani Cap Tikus.
Ia mengatakan Cap Tikus justru adalah berkah para petani.
"Berkat Cap Tikus orang di lampung ini dapat menyekolahkan anaknya hingga Doktor dan Pendeta," katanya. (Art)
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini