Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berstatus Level III (Siaga) tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas para nelayan di perairan Selat Sunda.
Baca juga: Aktivitas Gunung Anak Krakatau Masih Fluktuatif, Status Tetap Siaga
Demi memenuhi kebutuhan hidup, mereka tetap melaut meski harus menghadapi ancaman erupsi hingga cuaca buruk.
Salah satunya seorang nelayan bernama Rohidin.
Baginya, rasa takut terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau memang ada, namun risiko tersebut sudah menjadi bagian dari profesinya sebagai nelayan.
"Takut ya takut. Namanya orang kerja di laut, risikonya harus ditanggung," ujar Rohidin, Selasa (7/7/2026).
Ia mengaku hingga kini masih rutin melaut untuk mencari ikan.
Bahkan, cuaca buruk maupun badai tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti berlayar. Walaupun kena badai juga, kalau orang pelaut tetap berangkat," katanya.
Dalam sekali melaut, Rohidin biasanya menghabiskan waktu antara tiga hingga lima hari di laut.
Selama itu, ia kerap bermalam di sekitar Pulau Sebesi yang menjadi salah satu lokasi persinggahan para nelayan.
Menurutnya, kawasan perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau sebenarnya masih menjadi salah satu lokasi yang memiliki potensi ikan cukup banyak.
Namun, kondisi dasar laut yang dipenuhi karang membuat jaring nelayan kerap tersangkut
"Banyak ikannya, cuma jaring sering nyangkut karena banyak karang," ujarnya.
Meski begitu, Rohidin mengatakan para nelayan telah mendapat peringatan dari petugas agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau yang sedang aktif.
Ia menyebut petugas dari kepolisian perairan beberapa kali melakukan patroli dan mengingatkan nelayan untuk menjaga jarak dari kawasan berbahaya.
"Sering diingatkan, jangan dekat-dekat Krakatau karena lagi aktif," katanya.
Rohidin juga mengaku pernah beberapa kali turun langsung ke kawasan Pulau Krakatau.
Pengalamannya menginjak tanah vulkanik di pulau tersebut masih membekas hingga sekarang.
"Kalau diinjak tanahnya benyek, seperti lumpur, warnanya hitam. Kalau dipijak juga seperti bergeser," tuturnya.
Suasana di kawasan pulau, lanjut Rohidin, biasanya sangat sepi, terutama pada malam hari.
Ia bahkan pernah bermalam di sana dan merasakan suasana yang mencekam.
"Kalau malam gelap dan sepi. Pernah nginep di sana, rasanya memang takut," ucapnya.
Di balik kesunyian Pulau Krakatau, Rohidin juga menyimpan cerita yang pernah didengarnya mengenai peninggalan masa lalu.
Ia menyebut dahulu terdapat rel kereta peninggalan zaman Belanda di kawasan Pulau Krakatau, meski kini kondisinya sudah tidak lagi terlihat seperti dahulu.
Di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berada pada status Level III (Siaga), kisah Rohidin menjadi gambaran bagaimana para nelayan di pesisir Lampung Selatan tetap bertaruh dengan risiko demi menghidupi keluarga.
Dengan tetap mematuhi imbauan petugas untuk tidak mendekati radius berbahaya gunung api, mereka berharap aktivitas melaut masih dapat terus dilakukan dengan aman.
( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )