POSBELITUNG.CO -- Nasib terkini Sarwendah setelah petisi boikot telah mengumpulkan lebih dari 95 ribu tanda tangan per Senin (5/7/2026) yang dibuat akun Netizen Update mulai 29 Juni 2026.
Sarwendah didesak untuk tidak lagi muncul mempromosikan brand di media sosial.
Boikot yang berisi petisi "Cancel Sarwendah dari Media Sosial" telah mengumpulkan lebih dari 95 ribu tanda tangan hingga Senin (5/7/2026).
Sebenarnya ada tiga petisi yang beredar di platform Change.org, yakni "Cancel Sarwendah dari Media Sosial", "Boikot Sarwendah", serta "Boikot/Cancel Sarwendah untuk Semua Media Sosial dan Televisi".
Baca juga: Biodata Emanuel Melkiades Laka Lena Gubernur NTT yang Larang Penunggak Pajak Isi BBM Subsidi
Dari ketiga petisi tersebut, yang memperoleh dukungan terbesar adalah "Cancel Sarwendah dari Media Sosial".
Berikut rincianya :
Isi petisi tidak hanya menyerukan boikot terhadap Sarwendah di media sosial, tetapi juga meminta perusahaan dan pelaku usaha mempertimbangkan kembali kerja sama promosi dengan mantan personel Cherrybelle tersebut.
Dalam petisi itu, para penggagas mengajak brand untuk lebih selektif memilih figur publik sebagai wajah promosi.
"Kami, masyarakat yang menandatangani petisi ini, mengajak seluruh brand dan pelaku usaha untuk mempertimbangkan kembali kerja sama promosi maupun penjualan produk melalui siaran langsung (live streaming) bersama artis tersebut."
Baca juga: Kronologi Awal Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Gugur Setelah Hilang saat Gerebek Bandar Sabu
Mereka juga menilai setiap perusahaan memiliki tanggung jawab menjaga citra serta kepercayaan konsumennya.
"Kami percaya bahwa setiap brand memiliki tanggung jawab untuk menjaga citra, kredibilitas, serta kepercayaan konsumen. Oleh karena itu, kami berharap perusahaan lebih selektif dalam memilih figur publik yang akan dijadikan wajah promosi produknya."
Petisi tersebut bahkan menuntut agar Sarwendah tidak lagi dilibatkan dalam kegiatan pemasaran, khususnya melalui siaran langsung, hingga polemik yang menjadi perhatian publik mendapatkan kejelasan.
Menanggapi situasi tersebut, mantan manajer Sarwendah, Nanda Persada, menilai reaksi publik merupakan konsekuensi yang harus dihadapi oleh seorang figur publik.
Menurut Nanda, seseorang yang berkarier di dunia hiburan memiliki tanggung jawab untuk menjaga sikap, perilaku, serta tutur kata di hadapan masyarakat.
Sebab, setiap tindakan yang dilakukan akan mendapat perhatian luas, terutama di era media sosial saat ini.
“Ya itu konsekuensi dari seorang public figure ya,” ujar Nanda Persada saat ditemui di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (5/7/2026).
Nanda menilai, popularitas yang dimiliki seorang artis selalu diiringi dengan besarnya perhatian publik terhadap setiap ucapan maupun tindakan mereka.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa seorang selebritas harus mampu menjaga sikap agar tidak memicu penilaian negatif dari masyarakat.
“Namanya artis, selebriti, itu harus menjaga attitude-nya, sikapnya, perilakunya karena netizen kita ini sangat sensitif dan peka,” kata Nanda Persada.
Menurutnya, masyarakat kini semakin kritis dalam menilai perilaku tokoh publik.
Baca juga: Biodata Bripda Nopandri Polisi Katingan Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba Ditemukan Tewas di Sungai
Apa yang dianggap tidak pantas oleh publik berpotensi memicu reaksi besar, termasuk munculnya sanksi sosial berupa boikot.
Nanda pun menilai, gelombang boikot yang kini mengarah kepada Sarwendah merupakan bagian dari respons publik terhadap perilaku yang mereka nilai kurang tepat.
“Mereka juga melihat ketika seorang artis atau public figure bersikap tidak etis, melanggar susila dan lain-lain, pasti itu ada sanksi sosial. Gitu, dan itu menjadi konsekuensi,” tutup Nanda Persada.
Petisi tersebut telah memperoleh lebih dari 62 ribu tanda tangan.
Gerakan boikot itu muncul setelah Sarwendah menjadi sorotan akibat pernyataannya saat melakukan siaran langsung untuk berjualan di media sosial.
Dalam siaran tersebut, Sarwendah sempat menyinggung nominal nafkah sebesar Rp200 juta.
Cara penyampaiannya kemudian dinilai oleh sebagian netizen terdengar arogan dan dianggap menyakiti perasaan banyak orang.
Kontroversi tersebut pun memicu beragam tanggapan di media sosial.
Di tengah polemik yang masih bergulir, pernyataan Nanda Persada kembali menambah perhatian publik terhadap persoalan yang kini tengah dihadapi Sarwendah sebagai seorang figur publik.
Munculnya petisi tersebut tak lepas dari memanasnya konflik antara Ruben Onsu dan Sarwendah pasca-perceraian.
Perselisihan keduanya mencuat setelah kuasa hukum Sarwendah mengungkap adanya persoalan penagihan cicilan mobil yang disebut merupakan aset milik Ruben Onsu.
Selain itu, pihak Sarwendah juga menuding Ruben telah menghentikan pemberian nafkah kepada anak-anak selama sekitar enam bulan.
Baca juga: Rekam Jejak dan Harta Syah Afandin Bupati Langkat Diciduk OTT KPK saat Jamuan Makan Durian
Kuasa hukum Sarwendah, Abraham Simon, menyebut seluruh kebutuhan anak, mulai dari biaya sekolah, les, hingga pengobatan, selama ini ditanggung oleh kliennya.
Menanggapi tudingan tersebut, kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, membenarkan bahwa kliennya memang menghentikan sementara pemberian nafkah.
Menurutnya, langkah itu merupakan bentuk protes karena Ruben mengaku kesulitan bertemu dengan anak-anaknya.
Di tengah polemik tersebut, beredar pula sejumlah potongan video siaran langsung Sarwendah yang dianggap menyindir Ruben Onsu.
Salah satu pernyataan yang menjadi sorotan adalah ketika Sarwendah menyebut dirinya tidak membutuhkan nafkah Rp200 juta karena nominal tersebut dapat diperolehnya hanya dari satu kali siaran langsung.
Pernyataan itu memicu gelombang kritik dari warganet hingga akhirnya Sarwendah menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial.
Hingga kini, baik Ruben Onsu maupun Sarwendah masih sama-sama mempertahankan sikap dan belum ada penyelesaian yang diumumkan terkait berbagai persoalan yang menjadi sumber perselisihan mereka.
(TribunSeleb/TribunnewsMaker.com/Bangkapos.com/Posbelitung.co)