POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Peluncuran mandatori Biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo Subianto memunculkan pendapat di kalangan pelaku sektor perkebunan kelapa sawit di Belitung Timur, Selasa (7/7/2026).
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Belitung Timur, Lim Surya Wiguna menjelaskan bahwa kebijakan pencampuran 50 persen biodiesel kelapa sawit dan 50 persen solar tersebut dikhawatirkan bisa membuat harga sawit stagnan.
"Bagus.Tapi ada kemungkinan menyebabkan harga sawit stagnan karena kuota ekspor akan berkurang untuk memenuhi kebutuhan biodiesel di dalam negeri," ujar Lim kepada Posbelitung.co, Selasa (7/7/2026).
Menurut Lim, penyerapan Crude Palm Oil (CPO) yang sangat besar untuk menyuplai kebutuhan bahan bakar dalam negeri akan memangkas volume komoditas sawit yang dikirim ke luar negeri.
Meski begitu, APKASINDO Belitung Timur tetap menaruh harapan besar agar kebijakan nasional ini pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan para petani swadaya di daerah.
"Tapi bagaimanapun, APKASINDO tetap berharap program B50 akan memberikan efek kenaikan harga sawit di tingkat petani," ucapnya.
Harapan tersebut dinilai cukup beralasan. Lim menambahkan melonjaknya kebutuhan CPO di dalam negeri sebagai bahan campuran utama biodiesel B50 secara otomatis akan mendongkrak kebutuhan pasar terhadap komoditas kelapa sawit secara makro.
Sesuai hukum pasar, tingginya kebutuhan atau permintaan terhadap bahan baku CPO diharapkan menjadi motor penggerak utama yang memaksa pabrik kelapa sawit (PKS) untuk menaikkan harga beli buah sawit langsung dari tangan petani.
"Karena kan di satu sisi lain kebutuhan CPO dalam negeri juga akan naik untuk bahan campuran biodiesel B50 itu," pungkasnya.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)