TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Pemadaman listrik secara bergilir yang melanda wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir akibat kerusakan boiler pembangkit, memicu keluhan dari banyak warga.
Namun, kondisi berbeda dialami oleh Ferdy, seorang warga yang tinggal di Jalan Sepakat II, Kota Pontianak. Aktivitas domestik di rumahnya tetap berjalan normal tanpa hambatan berarti berkat pemanfaatan energi alternatif ramah lingkungan.
Ferdy memilih untuk tidak bergantung sepenuhnya pada pasokan arus listrik konvensional.
Sejak belasan tahun lalu, ia telah mengintegrasikan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mandiri di kediamannya untuk mengantisipasi ketidakstabilan suplai daya.
Saat ditemui di kediamannya, Ferdy menceritakan bahwa dirinya sudah mulai mengadopsi teknologi ramah lingkungan ini sejak tahun 2010.
Keberadaan panel surya di atap rumahnya terbukti menjadi penyelamat, terutama ketika pemadaman listrik PLN terjadi pada durasi produktif di siang hari.
“Kalau siang tidak ada masalah karena semuanya berjalan otomatis menggunakan panel surya. Paling saat malam hari kami membatasi penggunaan listrik, seperti untuk lampu dan mengisi daya telepon genggam,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Menariknya, seluruh sistem penangkap surya dan instalasi baterai di rumah Ferdy dipasang tanpa menggunakan jasa teknisi profesional.
Berbekal minat dan pemahaman dasar tentang arus kelistrikan, ia membangun sistem ini secara bertahap dan mempelajari mekanismenya secara otodidak.
Langkah Ferdy beralih ke energi terbarukan didasari oleh posisi geografis Kota Pontianak yang dilintasi garis khatulistiwa.
Menurutnya, intensitas paparan sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun merupakan modal alam yang sangat besar jika dikonversi menjadi energi listrik gratis.
Baca juga: Wali Kota Pontianak Minta PLN Percepat Perbaikan Boiler, Target Listrik Normal 11-12 Juli
“Dengan tenaga surya kita bisa lebih mandiri, tidak terlalu bergantung pada listrik PLN. Selain itu juga lebih hemat biaya dan saat ini saya tidak terlalu terdampak dengan adanya pemadaman bergilir,” katanya.
Saat ini, instalasi PLTS atap di rumah Ferdy ditopang oleh tujuh unit panel surya yang memiliki kapasitas akumulatif sebesar 700 watt peak (Wp).
Ketika kondisi cuaca di Pontianak sedang terik dan optimal, perangkat tersebut mampu memproduksi daya hingga 3.500 watt-jam (Wh) per hari.
Angka ini setara dengan durasi produksi puncak selama lima jam, meskipun efisiensinya akan sedikit berkurang jika tertutup awan mendung.
Kendati menawarkan keuntungan besar, Ferdy memberikan catatan penting bagi masyarakat yang tertarik mengikuti jejaknya.
Faktor keamanan instalasi, kualitas kabel, dan perhitungan beban inverter harus diperhatikan secara matang guna mencegah risiko fatal.
“Kesalahan instalasi dapat menimbulkan risiko, seperti kabel menjadi panas, korsleting, hingga kebakaran,” ingat Ferdy.
Secara finansial, investasi teknologi ini memberikan dampak signifikan terhadap struktur pengeluaran rumah tangganya.
Ferdy mengaku berhasil memangkas biaya tagihan listrik bulanan dari PLN secara konstan hingga hampir separuh dari beban normal, padahal rumahnya mengoperasikan perangkat elektronik berdaya besar.
Saat ini, ia menerapkan skema hibrida (hybrid system), di mana porsi pemenuhan energi rumah tangganya dibagi menjadi 60 persen bersumber dari jaringan PLN dan 40 persen disuplai secara mandiri oleh panel surya miliknya. Kompor induksi dan mesin pendingin ruangan (AC) yang biasanya menguras daya besar kini disokong oleh energi matahari tersebut.
“Dulu, saat pertama memasang pada tahun 2010, harga satu panel sekitar Rp3,5 juta. Sekarang harganya sudah jauh lebih murah, sehingga semakin terjangkau bagi masyarakat,” jelas Ferdy membandingkan tren harga pasar komponen solar panel saat ini.
Komitmen Ferdy terhadap energi bersih tidak berhenti pada penggunaan pribadi semata.
Pintu rumahnya di Jalan Sepakat II selalu terbuka lebar bagi para tetangga, komunitas lingkungan, hingga para pelajar sekolah kejuruan yang ingin melihat langsung cara kerja dan belajar teknik dasar instalasi panel surya.
Melalui ruang edukasi informal ini, Ferdy berharap masyarakat Pontianak semakin melek terhadap potensi energi terbarukan yang melimpah di lingkungan sekitar. (*)