Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- SETIAP 7 Juli, Indonesia memperingati Hari Pustakawan. Tanggal yang dipilih karena bertepatan dengan momen bersejarah pembentukan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) pada Kongres Pustakawan pertama di Ciawi, Bogor, pada 1973.
Ini adalah pengakuan atas peran strategis pustakawan dalam membangun literasi bangsa. Namun, peringatan tahun ini hadir di tengah guncangan besar: kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang mengubah lanskap informasi secara fundamental. Pertanyaan yang menggantung di udara: apakah pustakawan akan menjadi profesi yang punah, atau justru bangkit sebagai pahlawan baru di era digital?
AI: Pedang Bermata Dua
Penelitian terhadap 106 pustakawan dari berbagai jenis perpustakaan di Indonesia bahkan menemukan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori Innovator yaitu mereka yang paling awal dan paling berani mencoba teknologi baru. Lebih dari 70 persen pustakawan menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi, dan sekitar 58 persen mengaku AI membantu mereka lebih produktif. Fakta ini membantah anggapan bahwa pustakawan adalah profesi kuno yang anti-teknologi.
Namun, sisi lain mata pisau itu tak kalah tajam. Sekitar 38 persen pustakawan masih merasa kurang memahami teknologi AI secara mendalam, dan isu privasi serta keamanan data menjadi perhatian serius.
Di samping itu, AI memunculkan tantangan kompetensi, etika, dan yang paling fundamental: tantangan relevansi profesi. Jika mesin bisa melakukan katalogisasi, pencarian, dan bahkan rekomendasi bacaan, apa yang tersisa untuk manusia?
Redefinisi Peran
Di sinilah Hari Pustakawan menjadi momentum krusial. Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz, menekankan perlunya redefinisi peran perpustakaan dan pustakawan di tengah percepatan teknologi digital.
Ia menolak stigma lama yang memandang pustakawan sebagai sosok pasif, hanya menunggu kunjungan, atau bahkan ditempatkan di perpustakaan seolah sebagai hukuman. Menurutnya, pustakawan sejatinya adalah “pewaris khazanah peradaban dan fasilitator masa depan”.
T. Syamsul Bahri menegaskan bahwa pustakawan di era AI harus hadir bukan sekadar sebagai pengelola buku, melainkan sebagai navigator pengetahuan dan penjaga peradaban. “AI bisa membantu menemukan data, tetapi pustakawanlah yang memastikan data itu bermakna, kontekstual, etis, dan bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat,” tegasnya.
Inilah titik di mana peran pustakawan justru menjadi semakin vital. Di tengah banjir informasi di internet, masyarakat membutuhkan pemandu yang bisa memverifikasi kebenaran, memahami konteks, dan berpikir kritis.
Pustakawan modern adalah kurator pengetahuan yang memadukan kecerdasan buatan, data science, dan humanisme dalam pengelolaan informasi. Mereka tidak hanya menyediakan akses, tetapi menganalisis, menginterpretasi, dan mengontekstualisasi data untuk mendukung pembelajaran dan riset.
Jagoan Baru di Era Digital
Pustakawan masa kini dan masa depan harus bertransformasi menjadi fasilitator informasi yang membantu pengguna menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis. Mereka adalah mitra belajar dan inovator layanan, dengan fokus bukan hanya pada buku, tetapi juga pada akses digital, repository, open access, dan literasi informasi.
Ciri-ciri pustakawan masa depan sudah mulai terlihat: komunikatif dan empatik, melek digital, kreatif dan inovatif, kolaboratif, berorientasi pada layanan, serta mampu membangun branding diri dan institusi.
Transformasi perpustakaan juga menjadi keniscayaan. Perpustakaan modern harus menjadi pusat pembelajaran, ruang kolaborasi, dan sarana pengembangan kreativitas masyarakat di era digital. Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat penyimpanan buku, melainkan pusat pengetahuan, ruang kreatif, hingga pusat pemberdayaan masyarakat.
Peringatan Hari Pustakawan 2026 menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pustakawan bukanlah profesi yang akan mati digantikan mesin. Sebaliknya, mereka adalah jagoan baru yang akan memimpin masyarakat menavigasi lautan informasi yang semakin kompleks.
Mereka adalah garda depan yang menghubungkan warisan masa lalu dengan tantangan masa depan. Pustakawan yang mampu menguasai AI akan menjadi aset tak ternilai—manusia yang memastikan teknologi digunakan secara etis, inklusif, dan bermakna bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Bangkit sebagai Jagoan
Pertanyaan “Mati Kutu atau Jagoan Baru?” sebenarnya telah terjawab. Pustakawan yang memilih diam dan berpegang pada cara lama memang akan tergerus zaman. Namun, data menunjukkan bahwa mayoritas pustakawan Indonesia justru berada di garda depan adopsi teknologi. Mereka bukan pihak yang pasif menunggu, melainkan pelopor yang bereksperimen dan berinovasi.
Hari Pustakawan 7 Juli adalah pengingat bahwa profesi ini layak dihormati, didukung, dan dikembangkan, bukan sekadar dengan ucapan selamat, tetapi dengan kebijakan yang berpihak, pelatihan yang memadai, dan pengakuan yang setimpal.
Di tengah derasnya arus AI, yang dibutuhkan bukanlah robot yang menyodorkan data, melainkan manusia yang bisa berkata, “Aku di sini untuk membantumu memahami”. Itulah yang tak pernah bisa digantikan oleh algoritma. Pustakawan era AI adalah jagoan baru yang siap memimpin peradaban menuju masa depan yang lebih literat, kritis, dan beradab. (*)
Jangan Sampai Terlambat
SEKTOR pertambangan, khususnya batu bara berkontribusi 26 hingga 30 persen untuk Produk Regional Domestik Bruto (PDRB) Kalimantan Selatan. Persentase yang cukup besar ini, otomatis ikut menyumbang pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalsel dalam triwulan pertama Tahun 2026 yang mencapai 5,67 persen, di atas rata-rata nasional.
Tapi ketergantungan Kalimantan Selatan pada sektor pertambangan khususnya batu bara juga jadi ancaman laten. Meskipun tambang batu bara menjadi urat nadi ekonomi Kalsel dalam satu dasawarsa terakhir, goncangan ekonomi yang bersumber dari sektor ini bisa berpengaruh pada perekonomian daerah. Misalnya tekanan ekonomi global yang berdampak pada harga batu bara.
Jalan pragmatis bagi perusahaan demi menjaga stabilitas adalah melakukan efisiensi alias pengurangan tenaga pekerja. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi bagian strategi perusahaan untuk melakukan penataan ulang serta restruksturisasi demi menyesuaikan kondisi keuangan.
Namun, PHK pun dapat jadi alarm bahwa kondisi bisnis sedang tidak baik-baik saja atau buruk, membuat pendapatan menurun dan efisiensi jadi penyelamat.
PHK di sektor pertambangan itu mulai terlihat di Kalsel dalam semester awal 2026. Kabupaten Tapin sebagai salah satu wilayah yang dikenal memiliki kawasan pertambangan cukup luas sudah mencatatkan 600-an orang pekerja mengalami PHK sampai Juni 2026. Belum termasuk di kabupaten lain yang juga terdapat pertambangan seperti Kabupaten Banjar, Balangan, Tabalong, Tanahlaut, Tanahbumbu dan Kotabaru.
Memang, fakta PHK tenaga kerja itu belum bisa dikatakan senjakala bisnis pertambangan batu bara di Kalsel. Tapi, setidaknya jadi penanda, menjadi pengingat bahwa tidak ada yang abadi dalam bisnis, apalagi yang mengandalkan sumber daya alam tidak dapat diperbarui.
Ketika sumber daya habis, selesai pula bisnisnya. Kalsel pernah merasakan manisnya bisnis sektor perkayuan. Namun, ketika hutan produksi mulai habis dan hutan tanaman tidak bisa menggantikannya, kejayaan itu sirna.
Maka dari itu, pemerintah daerah harus segera menyiapkan rencana jangka panjang untuk menggantikan ketergantungan pada sektor pertambangan. Pemerintah Provinsi Kalsel serta pemerintah kabupaten yang mengandalkan sektor ini harus punya rencana strategis daerah sebagai langkah antisipatif. Paling utama adalah bagaimana mengoptimalkan sektor lain yang masih punya potensi ekonomi besar menjadi lebih besar lagi.
Kalsel punya potensi wisata religi yang menarik. Seharusnya dibuatkan rencana pengembangan yang paripurna. Kalsel juga penghasil beras khusus, beras Banjar yang endemik, banyak digunakan masyarakat serumpun (Kalteng, Kaltim).
Sektor pertanian ini pun dapat dijadikan penyokong perekonomian Banua. Demikian pula sektor perkebunan khususnya sawit, hilirisasi adalah wajib untuk sektor ini. Jadi, kalau mau serius dan dilakukan, pasti ada jalan untuk mencapainya. Jangan sampai terlambat. (*)