Catatan Tak Diinginkan! Cristiano Ronaldo Bawa Pulang Statistik Buruk dari ‘Tarian Terakhir’ di Piala Dunia bersama Portugal
Rina Kusumawati July 08, 2026 09:21 AM

Hubungan panjang Cristiano Ronaldo dengan Piala Dunia berakhir dengan nada muram, ditandai bukan hanya oleh kegagalan Portugal melangkah jauh, tetapi juga oleh penurunan daya ledak individu yang pernah menjadi ciri khasnya. Meskipun sang penyerang legendaris berhasil mencetak tiga gol di edisi 2026 yang digelar di Amerika Utara, pengaruhnya di lapangan kini tampak jelas lewat sebuah statistik yang mengejutkan.

Statistik yang mandek di lini depan

Setelah perjalanan Portugal di Piala Dunia usai, data individu Ronaldo menjadi sorotan tajam. Berdasarkan catatan dari OptaJoe, Ronaldo tercatat sebagai satu-satunya penyerang yang bermain lebih dari 500 menit di dua edisi Piala Dunia terakhir (2022 dan 2026) tanpa sekali pun berhasil melewati lawan lewat dribel sukses.

Bagi pemain yang menghabiskan satu dekade awal kariernya menakut-nakuti bek sayap dengan gerakan step-over dan kecepatan luar biasa, catatan “nol” dalam kolom dribel sukses menandai perubahan total gaya permainannya.

Meski kontribusi kreatifnya menurun, Ronaldo tetap mampu mencatatkan namanya di papan skor. Pemain berusia 41 tahun itu mencetak dua gol ke gawang Uzbekistan dan menambah satu gol lewat penalti saat menghadapi Kroasia.

Namun, ketidakmampuannya untuk menaklukkan pemain lawan dalam permainan terbuka di dua turnamen berbeda memperlihatkan bahwa perannya kini terbatas sebagai predator kotak penalti, sementara beban menciptakan peluang lebih banyak dipikul oleh rekan-rekan mudanya.

Perpisahan terakhir di Dallas

Perjalanan sang veteran berakhir dengan cara yang menyakitkan setelah kekalahan 1-0 dari Spanyol di babak 16 besar yang digelar di Cotton Bowl. Ronaldo bermain penuh selama 90 menit dan mencatatkan tiga tembakan, namun gagal menembus gawang Unai Simon.

Setelah peluit akhir berbunyi, kapten Portugal itu terlihat meninggalkan lapangan sambil menangis, pemandangan yang mengingatkan pada momen serupa di Qatar empat tahun sebelumnya. Hasil ini juga membuat Ronaldo menyamai rekor delapan kekalahan di turnamen Piala Dunia yang sebelumnya dipegang bersama Mathew Leckie dan Son Heung-min.

Ronaldo berkata: “Saya sedih harus meninggalkan Piala Dunia dengan cara seperti ini. Saya sudah memberikan segalanya. Ini adalah Piala Dunia terakhir saya, ya, tapi sekarang saya akan punya waktu untuk merenung dan bersama keluarga. Saya tidak akan mengambil keputusan terburu-buru. Saya tidak pernah memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan apakah saya akan terus bermain atau tidak.”

Ia menambahkan: “Besok saya akan bangun dengan perasaan yang sama seperti hari ini: dengan hati nurani yang tenang. Saya bermain selama 23 tahun bersama tim nasional dan meraih tiga gelar. Sebelum Cristiano, Portugal belum pernah menang apa pun. Euro 2016 adalah yang paling penting. Bagi saya, 2016 memiliki arti yang sama besarnya dengan Piala Dunia, jujur saja.”

Keteguhan menghadapi sejarah

Sepanjang turnamen, perdebatan mengenai posisinya di bawah arahan Roberto Martinez terus berlanjut. Para pengkritik menilai kehadirannya membatasi ruang gerak bintang muda Portugal lainnya, namun pemain Al-Nassr itu dengan tegas menolak pandangan tersebut.

Sebelum babak gugur dimulai, Ronaldo menegaskan bahwa ia akan mengakhiri kariernya di tim nasional sesuai keinginannya sendiri, bukan karena tekanan publik atau media.

Menanggapi kritik yang terus muncul, Ronaldo berkata tegas: “Sejak saya bergabung dengan tim nasional pada usia 18 tahun, situasinya selalu seperti ini. Tidak akan berubah. Saya selalu memberikan segalanya untuk membantu tim nasional mencapai tujuannya. Baik saya bermain atau tidak, saya akan tetap memiliki peran penting di tim ini.”

Warisan yang melampaui dribel

Meskipun catatan “nol dribel” menodai statistiknya di Piala Dunia terakhir, Ronaldo menekankan nilai emosional yang didapat selama turnamen di Amerika Utara. Ia mengakui bahwa meskipun tidak membawa pulang trofi, dukungan dari para penggemar memberinya kepuasan tersendiri. Penyerang veteran ini tetap menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa dalam sejarah sepak bola internasional, sebuah prestasi yang menurutnya jauh lebih bermakna daripada kekecewaan di satu turnamen.

Ronaldo menutup dengan berkata: “Saya tidak kekurangan apa pun dalam hidup. Tuhan telah sangat baik kepada saya dan memberi lebih dari yang pernah saya bayangkan, baik di tim nasional maupun secara pribadi. Karena itu, saya hanya ingin menikmati setiap momen. Saya tidak akan menjadi lebih Cristiano jika memenangkan Piala Dunia, dan saya juga tidak akan menjadi kurang Cristiano jika tidak memenangkannya.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.