TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyuarakan kritiknya terhadap aliansi NATO.
Ia menyatakan, NATO gagal membantu AS dalam perang melawan Iran.
“Kami tidak diperlakukan dengan baik karena kami melakukan sesuatu di Iran. Bahkan sebelum kami bertanya, mereka (NATO) mengatakan bahwa mereka tidak akan hadir,” ujarnya setelah tiba di Turkiye untuk KTT NATO, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (7/7/2026).
“Mengapa kita menghabiskan ratusan miliar dollar ketika mereka tidak ada untuk kita? Kita selalu ada untuk mereka,” sambungnya.
Menurutnya, AS sama sekali tak butuh bantuan NATO, tetapi menguji kesetiaan aliansi.
"Saya sedang menguji apakah mereka akan ada di sana atau tidak, karena saya sudah lama mengatakan bahwa kami membantu mereka," jelas dia. "Tetapi saya tidak yakin mereka akan ada di sana untuk kami," tambahnya.
Dalam agenda hari pertama pada Selasa (7/7/2026), negara-negara sekutu NATO langsung memamerkan lonjakan anggaran belanja pertahanan yang ditandai dengan penandatanganan kontrak persenjataan baru senilai miliaran dollar AS.
Langkah ini sengaja diambil sebagai upaya diplomasi untuk meredakan kemarahan Trump terkait respons Eropa selama perang AS melawan Iran.
Pertemuan tingkat tinggi di Ankara ini bergulir tepat satu tahun setelah anggota aliansi NATO berkomitmen menaikkan anggaran keamanan mereka hingga menyentuh angka 5 persen dari PDB, menyusul tekanan bertubi-tubi yang dilayangkan oleh Trump.
"Sekutu dan industri dari kedua sisi Atlantik akan mengungkap proyek-proyek besar baru dan menandatangani kontrak yang nilainya mencapai miliaran dolar," papar Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, dikutip dari Euronews.
"Ini adalah miliaran dollar AS yang diinvestasikan untuk keamanan kita, mendorong perekonomian kita, dan mendukung ratusan ribu lapangan kerja baru," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengatakan bahwa AS dapat menarik semua pasukannya dari Eropa.
Ia turut memuji Turkiye yang dianggapnya sebagai sekutu hebat AS.
Trump menuturkan, Turkiye mengenal Iran dengan sangat baik dan berperan dalam membantu menangani situasi di kawasan tersebut.
“Mereka bisa saja ikut campur dalam pertikaian itu, saya mendengar beberapa orang mengatakan hal itu tentang hubungan mereka dengan Israel,” kata dia.
“Mereka adalah negara militer yang sangat kuat, mereka tidak melakukan itu. Mungkin mereka tidak melakukan itu karena saya. Tapi mereka bisa saja ikut terlibat dalam pertempuran di pihak lain,” tambahnya.
Sebelum Trump tiba di Ankara, NATO membuka rangkaian acara dengan forum industri pertahanan yang diwarnai pengumuman sejumlah proyek militer besar.
Baca juga: NATO Dilanda Skandal Korupsi Pengadaan Senjata
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan, negara-negara anggota bersama industri pertahanan di kedua sisi Atlantik akan menandatangani kontrak-kontrak baru bernilai miliaran dollar.
"Para sekutu dan industri dari kedua sisi Atlantik akan mengumumkan proyek-proyek besar baru dan menandatangani kontrak yang nilainya benar-benar mencapai miliaran dollar," kata Rutte.
Menurutnya, investasi tersebut bukan hanya memperkuat keamanan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan ratusan ribu lapangan kerja baru.
Beberapa kontrak awal yang diumumkan mencakup pengadaan drone baru, pesawat pengisian bahan bakar di udara, serta pesawat pengintai untuk meningkatkan kemampuan Eropa mempertahankan diri.
Rutte menegaskan, negara-negara Eropa kini benar-benar memenuhi komitmen mereka dengan meningkatkan anggaran militer dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam mempertahankan benua tersebut, terutama menghadapi ancaman dari Rusia.
Meski NATO berupaya menunjukkan kemajuan, Trump tetap melontarkan kritik keras terhadap para sekutu menjelang penyelenggaraan KTT.
Presiden AS itu masih kecewa setelah sejumlah negara Eropa membatasi penggunaan pangkalan militer mereka oleh pasukan AS untuk menyerang Iran. (kpc)