Merasa Dizalimi Wasit di 16 Besar, Mesir Resmi Ajukan Protes ke FIFA Lewat Federasi
Muhammad Nursina Rasyidin July 08, 2026 04:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Merasa diperlakukan tidak adil saat melawan Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026, Mesir tak tinggal diam begitu saja.

Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) secara resmi mengajukan protes kepada FIFA terkait pertandingan melawan Argentina tersebut.

Pertandingan antara Argentina dan Mesir itu berakhir dengan skor 3-2 bagi kemenangan Albiceleste.

Meski demikian, laga itu memang dihiasi keputusan kontroversial dari wasit Francois Letexier yang memimpin pertandingan ini.

Bahkan keputusan dan kepemimpinan wasit Letexier juga menjadi perdebatan pundit-pundit sepak bola yang meliput Piala Dunia 2026 ini.

Padahal semestinya dengan kelengkapan teknologi, seperti VAR, yang digunakan di Piala Dunia 2026 bisa mengurangi kontroversi semacam ini.

Namun ternyata malah VAR yang kerap menjadi sumber kontroversi tersebut, termasuk di pertandingan kali ini.

"Dia (wasit) menggunakan ref cam (kamera kecil), ada juga VAR, dan teknologi offside yang sudah semi otomatis, hal-hal seperti itu semestinya bisa diapresiasi bagus," kata Hamid Anwar, seorang pengamat sepak bola dari @analiskampungsebelah, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Baca juga: Arti Tanda X dari Pelatih Mesir di Laga Kontra Argentina di 16 Besar Piala Dunia 2026

Pada akhirnya, EFA memutuskan memasukan protes resmi ke FIFA terkait pertandingan Mesir melawan Argentina.

Mereka meminta kejelasan dari FIFA terkait apa yang terjadi di dalam keputusan-keputusan wasit Letexier yang dipandang kontroversial.

"Wasit asal Prancis itu melakukan kesalahan fatal dan sikap standar gandanya membuat Mesir gugur dari Piala Dunia 2026," kata Presiden Sepak Bola Mesir, Abo Rida, dikutip dari Chosun Daily.

"Kami meminta adanya investigasi kepada seluruh perangkat pengadil pertandingan, termasuk wasit VAR yang bertugas."

"Itu adalah tindakan kejahatan diskriminasi yang menimpa kami selama Piala Dunia," paparnya.

Mesir menuding perangkat pertandingan sengaja tidak meninjau ulang sejumlah insiden penting, termasuk pembatalan gol yang mereka anggap sah serta penolakan memberikan hadiah penalti.

Pada menit ke-58, ketika Mesir masih memimpin 1-0, Mostafa Ziko berhasil menjebol gawang Argentina.

Namun, gol itu dianulir karena Marwan Attia dianggap melakukan pelanggaran terhadap Lisandro Martínez sebelum proses terjadinya gol.

Momen yang paling menyakitkan Mesir barangkali datang pada menit kedua masa injury time.

Mohamed Salah dijatuhkan di dalam kotak penalti, tetapi wasit tidak memberikan hadiah tendangan dari titik 12 pas.

Di tengah kerasnya protes para pemain Mesir, Argentina melancarkan serangan balik, dan Enzo Fernandez mencetak gol penentu kemenangan Albiceleste dari situasi tersebut.

Kedudukan pun berubah menjadi 3-2 bagi keunggulan Argentina atas Mesir.

Pada saat yang sama, Presiden EFA menggunakan kesempatan itu untuk memberikan pujian kepada para pemain Mesir.

Ia berterima kasih dan memuji penggawa The Pharaoh, julukan Mesir, yang sudah berjuang keras selama Piala Dunia 2026.

Mo Salah dan kawan-kawan juga bisa mencetak sejarah dengan lolos ke babak 16 besar Piala Dunia untuk pertama kalinya.

"Para pemain heroik ini menampilkan performa yang luar biasa melawan sang juara dunia yang benar-benar diunggulkan. Saya mengucapkan selamat dan terima kasih atas perjuangan kalian semua," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Guruh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.