TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG - Puluhan kapal penangkap ikan berhias meramaikan festival nelayan di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Rabu (8/7/2026).
Kegiatan itu di Desa Ujung Labuang, Kecamatan Suppa.
Desa Ujung Labuang berjarak sekitar 39 Kilometer dari Kota Pinrang, Kecamatan Watang Sawitto.
Desa pesisir ini terbagi atas tiga dusun yakni Kassipute, Panyempang, dan Tanahmilie.
Desa ini berstatus sebagai desa swakarya atau mandiri.
Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan menggantungkan hidup pada hasil laut.
Kegiatan tahunan tersebut diselenggarakan dalam dua tahun sekali oleh warga setempat sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki hasil melaut.
Kepala Desa Ujung Labuang, Ruslan, menyebutkan jumlah peserta kapal tahun ini mengalami peningkatan signifikan.
"Kemarin-kemarin ada 40-an kapal, ini sekarang ada sekitar 70 kapal yang ikut," ujar Ruslan kepada Tribun-Timur.com di lokasi, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, seluruh nelayan yang merantau ke Kendari sengaja pulang kampung demi memeriahkan festival budaya tahunan tersebut.
"Rata-rata kembali ke sini untuk merayakan pesta nelayan ini," kata Ruslan menjelaskan pergerakan warga desa setempat.
Tradisi ini awalnya dikenal masyarakat suku Mandar dengan sebutan ritual Mappandasi sejak zaman orang tua terdahulu.
"Sebenarnya acara ini ada ritualnya semacam larung laut menggunakan kepala kambing," tutur Ruslan menceritakan.
Namun, prosesi pelarungan sesajen dan makanan sokko tujuh rupa kini sudah resmi ditiadakan oleh pihak pemerintah.
"Sekarang itu dihilangkan karena ada imbas pandangan dari sisi keagamaan," ungkap Ruslan mengenai perubahan tradisi leluhur.
Meskipun tanpa ritual larung, esensi utama pelaksanaan pesta laut ini dipastikan tidak mengalami perubahan sama sekali.
Acara diganti dengan kegiatan barzanji serta doa bersama demi keselamatan para nelayan saat mencari nafkah.
"Ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki selama melaut satu dua tahun ini," jelas Ruslan.
Pembiayaan pesta rakyat ini bersumber dari kontribusi sukarela per kapal yang dikoordinasikan oleh pihak panitia.
"Dibentuk semacam panitianya, satu kapal ada kontribusinya sekian untuk memotong kambing," kata Ruslan secara rinci.
Sementara itu, biaya menghias kapal ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pemilik secara mandiri dan sukarela.
Ratusan warga memadati area pesisir pantai untuk menyaksikan konvoi perahu yang penuh dengan warna-warni indah.
Acara ini diharapkan mampu mempererat tali silaturahmi sekaligus mendongkrak perekonomian masyarakat di Desa Ujung Labuang.
Pesta nelayan tersebut berlangsung dengan sangat meriah dan penuh rasa sukacita dari seluruh warga desa.
Dikawal Polisi
Aparat kepolisian juga mengawal jalannya tradisi pesta nelayan yang digelar oleh warga Desa Ujung Lero.
Pengamanan ini dilakukan khusus oleh personel Kapal Polisi XIV-2019 wilayah perairan Pinrang-Parepare.
Acara adat pesta nelayan tersebut merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali.
Komandan kapal, Aipda Irwan H, menyatakan pihaknya hadir langsung untuk memastikan keselamatan seluruh peserta.
"Kami mendampingi atau mengamankan jalur pesta nelayan bagi warga masyarakat," ujar Irwan.
Menurutnya, antusiasme masyarakat pesisir sangat tinggi dalam menyambut festival melaut tahun ini.
Pihak panitia mencatat puluhan armada kapal tradisional ikut meramaikan konvoi di jalur laut.
Seluruh kapal nelayan tersebut bergerak bersama mengikuti rute pelayaran yang telah ditentukan petugas.
Iring-iringan kapal memulai perjalanan dari kawasan dermaga pelabuhan lokal Desa Ujung Lero.
Peserta kemudian melintas menuju area perairan di belakang Rumah Sakit Ainun Habibie Parepare.
Rombongan nelayan terus bergerak mengitari kawasan jalur perairan sekitar Pelabuhan Nusantara Parepare.
Setelah mengitari pelabuhan, seluruh kapal diarahkan untuk kembali menuju ke lokasi titik awal.
"Dan kembali ke titik awal di Pelabuhan Desa Ujung Lero," tutur Irwan menjelaskan rute.
Petugas kepolisian terus memantau pergerakan mesin dan kondisi lambung kapal selama pelayaran berlangsung.
Polisi mengantisipasi adanya kendala teknis atau gangguan cuaca buruk selama prosesi adat dilakukan.
Hingga acara selesai, petugas tidak menemukan adanya kendala berarti pada seluruh kapal peserta.
"Alhamdulillah, kegiatan hari ini berjalan lancar," ucap Irwan bersyukur atas kesuksesan pengamanan tersebut.
Kondisi warga dan seluruh armada kapal dilaporkan aman tanpa ada insiden kecelakaan laut.
Laporan wartawan Tribun-Timur.com/Moh Faizal Lupphy S.