Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kerja sama antara Universitas Indonesia dan Tsinghua University dalam pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA dapat memperluas antigen yang dipakai Indonesia dari 15 menjadi 16.
"Mudah-mudahan kalau ini bisa selesai, bisa menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia. Karena seperti saya sampaikan tadi, kita butuh 15 antigen, baru 4 yang bisa diproduksi dari awal di Indonesia. Ini kalau jadi adalah antigen yang ke-16 dengan teknologi yang paling baru," kata Budi.
Budi mengatakan di Jakarta, Rabu, bahwa per tahunnya, sekitar 151 ribu orang terkena virus dengue. Menurut data Kemenkes, dengue menempati peringkat keempat penyakit menular.
"Nomor 1 TBC, nomor 2 HIV, nomor 3 malaria, nomor 4 dengue. Empat-empatnya ini vaksinnya belum diproduksi di Indonesia. Yang sudah ada vaksinnya yaitu malaria dan dengue. Tapi itu diproduksi oleh negara lain," kata Budi.
Dari sisi jumlah kematian, katanya tuberkulosis menempati urutan pertama dengan 126 ribu, disusul HIV sebanyak 25 ribu, dengue sebanyak sekitar 630, dan malaria 132 orang.
Saat ditanya awak media tentang vaksin dengue tersebut sebagai bagian program imunisasi nasional, dia menyebut bahwa yang diprioritaskan adalah vaksin untuk penyakit yang paling besar korbannya dulu.
"Kalau kebanyakan disuntik, ibu-ibu juga merasa tidak nyaman, kalau anaknya kebanyakan disuntik. Jadi kita akan pilih vaksin-vaksin baru yang disuntikkan adalah vaksin-vaksin yang paling banyak insiden dan kematian," katanya.
Budi mengatakan mengapresiasi pihak-pihak yang sudah membantu kolaborasi ini, antara lain Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai sponsor.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Stella Christie mengatakan, kerja sama vaksin tersebut sudah berjalan sejak 2023. Saat itu, dia belum ditunjuk sebagai wakil menteri, namun sebagai profesor di Tsinghua University.
Dia mempertemukan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Beti Enawati Dewi dengan Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University, ahli vaksin top di China dan dunia.
"Waktu itu memang ada anggaran dari Ministry of Science and Technology untuk memulainya. Sehingga waktu itu kita memetakan kebutuhan Indonesia dan kemampuan China untuk mensupport," katanya.
Kemudian, katanya, dukungan dari industri, yakni PT Etana, untuk menyatukan riset tersebut agar bisa diimplementasikan dan diproduksi. Stella pun menemani para peneliti ke Indonesia, melihat fasilitas di UI, untuk membantu kerja sama tersebut.
Dia menjelaskan bahwa vaksin-vaksin terbaik di dunia lahir dari riset-riset universitas, sehingga riset menjadi satu hal yang sangat penting.
"Kalau tadi pertanyaannya ke depan kita akan bagaimana, inilah model yang paling bagus. Jadi tidak tandatangan MoU dulu, tapi justru bekerja sama dahulu, sungguh-sungguh," katanya.
Stella menilai, riset perlu didukung anggaran, nota kesepahaman, serta dukungan dari pemerintah, seperti dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
"Jadi waktu itu saya juga bawa Tsinghua ke sini, Pak Menteri selalu bersedia bertemu. Nah ini juga penting ada dukungan," katanya.





