Cedera Lama di Arsenal Membuat Wojciech Szczesny Merasakan Sakit Setiap Kali Menyelamatkan Bola – Kiper Barcelona Mengungkap Sering Tak Bisa Melepas Sarung Tangannya Sendiri
Budi Santoso July 09, 2026 02:02 AM

Wojciech Szczesny secara mengejutkan mengungkap penderitaan fisik yang telah menghantui kariernya sejak mengalami cedera saat masih membela Arsenal lebih dari satu dekade lalu. Kiper Barcelona ini mengakui bahwa setiap penyelamatan yang ia lakukan selalu disertai rasa sakit, kondisi yang hampir membuatnya memutuskan pensiun sebelum akhirnya menerima panggilan dari klub asal Katalonia tersebut.

Warisan panjang dari patah tulang tahun 2008

Ketika Szczesny bergabung dengan Barcelona pada musim 2024-25, kepindahannya sempat dianggap sebagai kisah dongeng tentang kembalinya sang pemain dari masa pensiun. Namun, penjaga gawang asal Polandia itu kini membeberkan kenyataan keras di balik kariernya. Ia menceritakan bahwa kedua lengannya pernah patah dalam sebuah sesi latihan di gym wilayah London Utara, dan dampaknya terus menghantuinya hingga kini, termasuk saat membela AS Roma, Juventus, dan kini di Camp Nou. Rasa nyeri kronis tersebut menjadi salah satu alasan utama di balik keputusannya untuk pensiun setelah Euro 2024, karena rutinitas berat sepak bola profesional semakin sulit ia jalani.

Menangkap bola dengan rasa sakit

Dalam percakapan dengan mantan rekan setimnya di tim nasional Polandia, Grzegorz Krychowiak, di YouTube, penjaga gawang veteran ini menjelaskan bahwa cedera parah yang dialaminya saat di Arsenal pada tahun 2008 telah mengubah segalanya. Ia mengungkapkan tingkat ketidaknyamanan yang ia rasakan setiap kali tampil di bawah arahan pelatih Hansi Flick, baik dalam pertandingan maupun sesi latihan.

“Masalahnya adalah saya tidak bisa menangkap bola tanpa merasa sakit. Tidak ada satu pun tembakan yang saya selamatkan tanpa merasakan apa-apa. Saya sudah terbiasa dengan rasa sakit itu, tetapi tetap saja rasanya sangat tidak menyenangkan,” ujar Szczesny.

Kesulitan di luar lapangan

Rasa sakit tersebut tidak berhenti ketika peluit akhir berbunyi. Szczesny menjelaskan bahwa peradangan dan kelelahan di tangannya sering kali terbawa ke kehidupan pribadinya, membuat tugas-tugas sederhana menjadi hampir mustahil dilakukan setelah hari yang berat di lapangan. Keterbatasan ini telah menjadi bagian dari rutinitas hariannya yang harus ia terima, sambil terus berusaha menjaga kondisi tubuhnya di penghujung karier.

Melanjutkan pengakuannya dengan jujur, ia berkata: “Kadang saya bahkan tidak bisa melepas sarung tangan sendiri karena tidak bisa membuka perekatnya dan harus meminta bantuan. Saya tidak bisa memegang botol air tanpa menjatuhkannya, atau membuka tutupnya. Biasanya, saya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk melakukannya.”

Menghindari pengulangan masa kecil

Selain luka fisik, Szczesny juga membagikan beban emosional yang datang dari hubungannya dengan sang ayah, Maciej Szczesny. Kiper Barcelona itu mengakui bahwa masa kecilnya diwarnai rasa cemas setiap kali ayahnya, yang juga mantan penjaga gawang profesional, pulang ke rumah.

“Sejak kecil, hubungan kami diwarnai rasa takut terhadap ayah saya,” ujarnya. “Saya tidak pernah memiliki perasaan seperti, ‘Oh, Ayah pulang.’ Lebih seperti, ‘Aduh, Ayah pulang,’ karena saya tidak pernah tahu suasana hatinya saat tiba di rumah.” Pengalaman itu membentuk cara Szczesny dalam menjadi seorang ayah, dengan ia menambahkan: “Saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya tidak akan pernah membuat anak saya takut ketika saya pulang ke rumah.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.