Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Khudori, menilai kebijakan cadangan beras pemerintah (CBP) yang hanya berisi beras medium sudah tidak lagi sejalan dengan perkembangan pasar beras di Indonesia.
Menurutnya, pasar kini tidak lagi didominasi satu jenis beras. Konsumen di berbagai lapisan masyarakat memiliki preferensi yang berbeda-beda terhadap kualitas, rasa, bentuk, hingga merek beras yang dikonsumsi.
"Di pasar tersedia beras multikualitas. Ini terjadi karena preferensi konsumen berubah seiring meningkatnya urbanisasi, bertambahnya pendapatan masyarakat, semakin banyak perempuan bekerja di ruang publik, serta berkembangnya pasar modern," ujar Khudori, Selasa (7/7/2026).
Khudori mengungkapkan, hasil kajian PERHEPI pada 2016 menunjukkan beras telah bergeser dari komoditas yang seragam menjadi produk dengan berbagai karakteristik. Konsumen tidak lagi hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kualitas.
"Beras telah berubah dari komoditas yang seragam menjadi produk beragam. Keberagaman beras ditentukan oleh atribut yang melekat: bentuk, warna, rasa, jenis, dan merek," imbuhnya.
Di sisi lain, konsumen berpendapatan tinggi ketika memilih beras mempertimbangkan: bentuk beras/ utuh panjang (62 persen), warna putih (81 % ), rasa pulen (76 % ), dan bermerek (61 % ).
"Sebaliknya, konsumen berpendapatan rendah lebih memperhatikan warna putih daripada rasa pulen, atau merek dagang. Untuk mendapatkan beras, konsumen berpendapatan tinggi lebih dominan membeli di minimarket (38 % ) dan supermarket (33 % ). Beras yang dibeli dalam kemasan (86 % ) dan dalam volume 5 kg (63 % )," ucapnya.
Dikatakan Khudori, konsumen berpendapatan tinggi akan mengurangi jumlah beras yang dibeli kalau harga naik mencapai 22 % atau mengganti dengan jenis lain kalau harga naik 16 % . Sebaliknya, konsumen berpendapatan rendah akan mengurangi jumlah pembelian beras jika harga naik 17?n mengganti jenis/merek lain jika naik 10 % .
"Pada intinya, konsumen menilai penting kualitas dan karakteristik beras. Mereka bersedia membayar pada harga lebih tinggi untuk kualitas tertentu. Ini menunjukkan permintaan beras inelastis, semakin inelastis pada kelompok berpendapatan tinggi. Diperkirakan pertumbuhan permintaan beras kualitas bagus atau beras premium sekitar 11 % per tahun," ujarnya.
Khudori memprediksi, pangsa pasar beras premium diperkirakan 38 % . Sementara permintaan beras berkualitas rendah (beras medium) diperkirakan terus menurun dengan pertumbuhan 9 % per tahun, tapi pangsanya masih besar, sekitar 60 % .
Khudori mengatakan usulan agar cadangan beras pemerintah (CBP) diisi dengan beras multikualitas, bukan hanya beras medium, sebenarnya sudah lama disampaikan. Namun hingga kini kebijakan tersebut belum juga diterapkan.
Menurut dia, kebijakan CBP dengan satu jenis kualitas dan harga yang sama sepanjang tahun sudah tidak lagi sesuai dengan dinamika produksi maupun pasar beras.
"Kebijakan CBP kualitas tunggal dengan harga tetap berlaku sepanjang sebetulnya telah 'melawan' pergerakan harga gabah/beras musiman sesuai dengan pola panen dan kualitas gabah/beras," ujar Khudori.
Ia menjelaskan, produksi padi nasional berlangsung dalam tiga musim, yakni panen raya, musim gadu, dan paceklik.
"Produksi tertinggi terjadi di musim panen raya (Februari-Mei dengan produksi 60-65?ri total), disusul di musim gadu (Juni-September dengan produksi 25-35?ri total), dan sisanya paceklik (Oktober-Januari). Harga mengikuti hukum pasokan-permintaan: harga naik ketika produksi terbatas, dan harga rendah ketika produksi melimpah (dengan asumsi permintaan tetap). Pola produksi/panen seperti ini relatif ajek sejak puluhan tahun lalu. Catatannya, asal tidak ada anomali iklim," jelasnya.
Khudori juga menilai kebijakan kualitas tunggal mengabaikan kenyataan bahwa pasar beras telah berkembang menjadi berbagai segmen.
"Kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke atas cenderung mengonsumsi beras premium, sedangkan masyarakat berpendapatan rendah lebih banyak membeli beras medium. Di sejumlah negara produsen beras di Asia pun, kata dia, penetapan harga sudah dibedakan berdasarkan kualitas gabah atau beras, musim panen, serta varietasnya."
Karena itu, ia mengusulkan CBP mulai diisi dengan beras multikualitas. Skema tersebut memungkinkan Bulog melakukan pengadaan dalam waktu yang lebih panjang, yakni menyerap beras medium saat panen raya dan beras premium pada musim gadu ketika kualitas gabah lebih baik.
Menurut Khudori, langkah tersebut akan meningkatkan efisiensi penyimpanan sekaligus membuat operasi pasar lebih fleksibel dan efektif. Ia juga menilai pengadaan beras multikualitas akan memberi insentif kepada petani untuk menghasilkan gabah dengan mutu yang lebih baik.
"Oleh karena itu, kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) semua kualitas di petani Rp6.500/kg harus dihentikan. Digantikan HPP GKP dengan syarat kualitas alias ada rafaksi Harga," kata Khudori.