AS Gempur Iran dengan Serangan 5 Kali Lebih Dahsyat dari Sebelumnya, Selat Hormuz Kembali Membara
Eri Ariyanto July 09, 2026 01:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencapai titik kritis setelah Washington melancarkan serangan terbaru yang diklaim memiliki kekuatan empat hingga lima kali lebih besar dibandingkan operasi sebelumnya.

Serangan besar-besaran tersebut menyasar sejumlah instalasi militer strategis Iran di wilayah selatan, termasuk kawasan yang berada di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.

Menurut laporan yang mengutip pejabat senior Amerika Serikat, operasi militer kali ini tidak hanya mengandalkan daya tembak yang jauh lebih besar, tetapi juga memperluas cakupan target yang dianggap memiliki nilai strategis bagi kemampuan pertahanan Iran.

Berbagai fasilitas penting dilaporkan menjadi sasaran, mulai dari sistem pertahanan udara, radar pengawasan pesisir, lokasi peluncuran rudal jelajah antikapal, pangkalan drone, hingga fasilitas pelabuhan yang berada di pesisir selatan Iran.

Pemerintah Amerika Serikat menyebut operasi tersebut sebagai respons atas dugaan serangan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, sekaligus sebagai upaya melindungi jalur perdagangan internasional.

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan rentetan ledakan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Sirik dan Pulau Qeshm, dengan beberapa proyektil disebut menghantam kawasan pelabuhan.

Teheran juga mengklaim sebagian besar serangan justru mengenai area nonmiliter dan menyebabkan korban luka, meski hingga kini belum ada data resmi mengenai jumlah korban maupun besarnya kerusakan yang ditimbulkan.

Eskalasi terbaru ini memperlihatkan bahwa konflik antara Washington dan Teheran masih jauh dari kata mereda, meskipun sebelumnya sempat muncul upaya penghentian permusuhan melalui jalur diplomasi.

Memanasnya situasi di sekitar Selat Hormuz pun kembali memicu kekhawatiran dunia internasional karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.

Jika ketegangan terus meningkat, konflik Iran-AS dikhawatirkan tidak hanya mengganggu stabilitas keamanan Timur Tengah, tetapi juga memicu gejolak harga minyak global dan memperburuk kondisi perekonomian internasional.

Baca juga: Trump Berulah, Ejek Prosesi Pemakaman Khamenei & Sebut Kerumunan Petinggi Iran Sasaran Empuk Militer

Seperti diketahui, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Washington melancarkan serangkaian serangan militer yang diklaim jauh lebih besar dibanding operasi sebelumnya.

Serangan terbaru disebut menyasar berbagai instalasi militer Iran di kawasan selatan negara itu, termasuk wilayah strategis di sekitar Selat Hormuz.

Menurut laporan Axios, yang mengutip seorang pejabat senior Amerika Serikat, operasi militer yang dilakukan pada Selasa malam memiliki kekuatan empat hingga lima kali lebih besar dibandingkan serangan sekitar 10 hari sebelumnya.

Selain daya tembak yang lebih besar, operasi juga disebut memiliki cakupan target yang lebih luas.

AS Sasar Pertahanan Udara hingga Fasilitas Pelabuhan

Pejabat AS mengatakan serangan tersebut menargetkan berbagai aset militer Iran, antara lain:

- Sistem pertahanan udara.

- Sistem pengawasan dan pemantauan pantai.

- Rudal permukaan-ke-udara.

- Lokasi peluncuran rudal jelajah antikapal.

- Pangkalan peluncuran drone.

- Fasilitas pelabuhan.

Pemilihan sasaran ini menunjukkan fokus operasi tidak hanya pada kemampuan pertahanan udara Iran, tetapi juga infrastruktur yang dinilai mendukung operasi militer di sekitar Selat Hormuz.

PERANG IRAN AS - Ilustrasi Selat Hormuz.
PERANG IRAN AS - Ilustrasi Selat Hormuz. (Dok./Wikimedia Commons)

AS Sebut Serangan sebagai Respons atas Insiden di Selat Hormuz

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan respons terhadap dugaan serangan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut operasi militer itu dimaksudkan untuk memberikan "hukuman berat" atas serangan terhadap kapal komersial yang membawa warga sipil di jalur pelayaran internasional.

Washington mengklaim tiga kapal dagang menjadi sasaran serangan Iran dan menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Namun, CENTCOM tidak merinci jenis persenjataan yang digunakan maupun tingkat kerusakan pada target-target yang diserang.

Media Iran Laporkan Ledakan Beruntun

Di sisi lain, media Iran melaporkan serangkaian ledakan di wilayah pesisir selatan negara tersebut.

Televisi pemerintah Iran juga melaporkan tujuh ledakan di Pelabuhan Sirik, termasuk proyektil yang menghantam dermaga komersial dan dermaga perikanan di Desa Ziarat.

Iran: Sebagian Besar Serangan Hantam Wilayah Nonmiliter

Televisi Iran menyatakan sebagian besar serangan udara di wilayah selatan justru mengenai kawasan nonmiliter.

Media pemerintah juga melaporkan adanya sejumlah korban luka akibat pecahan proyektil di dermaga pelabuhan komersial Kota Sirik.

Hingga kini, otoritas Iran belum merilis angka resmi mengenai jumlah korban maupun besarnya kerusakan yang ditimbulkan.

Selat Hormuz Kembali Menjadi Titik Krisis

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Karena posisinya yang sangat vital, setiap eskalasi militer di kawasan ini berpotensi memengaruhi keamanan pelayaran internasional, stabilitas pasar energi global, serta meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Serangan terbaru menunjukkan bahwa meski sempat ada upaya meredakan ketegangan melalui gencatan senjata, situasi di sekitar Selat Hormuz masih sangat rentan terhadap eskalasi militer.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi independen yang dapat memverifikasi seluruh klaim yang disampaikan baik oleh Amerika Serikat maupun Iran terkait rangkaian serangan tersebut.

(TribunNewsmaker.com/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.