Pertamina Gandeng Boeing Kembangkan Ekosistem SAF, Perkuat Transisi Energi Sektor Penerbangan
Content Writer July 09, 2026 07:38 AM

TRIBUNNEWS.COM – PT Pertamina (Persero) dan Boeing menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus mempercepat transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE).

Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilakukan di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Kerja sama ini sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang mendorong pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan sebagai salah satu solusi mengurangi emisi karbon sekaligus memperkuat industri aviasi nasional.

Berdasarkan laporan ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu negara dengan potensi produksi SAF terbesar di kawasan ASEAN. Pada 2050, Indonesia diperkirakan mampu mencatat surplus produksi hingga 2,2 juta barel per hari.

Melalui kolaborasi tersebut, Pertamina dan Boeing akan mengeksplorasi berbagai aspek pengembangan ekosistem SAF, mulai dari identifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi, hingga dukungan terhadap penyusunan kebijakan yang diperlukan untuk mempercepat implementasi SAF di Indonesia.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan kerja sama tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk membangun industri SAF nasional yang berdaya saing.

"Bagi Pertamina, kolaborasi ini bukan sekadar pengembangan bahan bakar, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional. Dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan," ujar Simon.

Dukung Pertumbuhan Industri Penerbangan

Boeing memperkirakan lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara akan tumbuh rata-rata 7 persen per tahun, dengan kebutuhan mencapai 4.885 pesawat baru hingga 2044.

Di tengah pertumbuhan tersebut, pemanfaatan SAF dinilai menjadi salah satu solusi utama untuk menekan emisi karbon di sektor penerbangan. Dalam bentuk murni (neat SAF), bahan bakar ini berpotensi mengurangi jejak karbon hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar jet konvensional.

Managing Director Boeing Indonesia Indra Duivenvoorde menilai Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pemimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di kawasan.

"Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara," ujar Indra.

Ia mengatakan Boeing siap berkolaborasi dengan Pertamina dalam berbagai inisiatif, mulai dari identifikasi bahan baku hingga dukungan edukasi dan pelatihan untuk mempercepat pengembangan ekosistem SAF di Indonesia.

Pertamina Kembangkan Ekosistem SAF Nasional
Sebagai bagian dari pengembangan SAF nasional, Pertamina telah menjalankan sejumlah inisiatif, di antaranya memproduksi dan memperoleh sertifikasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel, mengimplementasikan penggunaannya bersama Pelita Air, serta mengembangkan proyek Cilacap Biorefinery melalui PT Pertamina Patra Niaga.

Proyek tersebut akan memproduksi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan memanfaatkan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah serta bahan baku berkelanjutan berbasis limbah lainnya.

Melalui berbagai langkah tersebut, Pertamina menegaskan komitmennya dalam mendukung target Net Zero Emission 2060, sekaligus mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengembangan energi berkelanjutan dan penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis perusahaan.

Baca juga: Pertamina Patra Niaga Dorong Pengembangan SAF, Airbus Apresiasi Inisiatif Energi Bersih

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.