TRIBUNKALTARA.COM - Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah, mendorong pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai upaya membangun ekosistem ekonomi desa yang berkeadilan, sekaligus mengembalikan nilai tambah hasil produksi masyarakat, agar dinikmati di tingkat desa.
Farida mengungkapkan, salah satu realitas pahit ekonomi hilir seperti bagaimana petani di desa menanam padi, namun penentuan harga jual justru didikte oleh para tengkulak karena keterbatasan modal tunai masyarakat lokal.
"Kita ingin gabah itu dibeli melalui Koperasi Desa Merah Putih, dikeringkan, lalu dikemas menjadi beras premium di desa itu sendiri.
Ketika ada kenaikan nilai jual 30 persen hingga 50 persen, pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan itu terjadinya di desa, bukan dibawa keluar oleh pabrik-pabrik besar," kata Farida Farichah, dalam keterangannya yang diterima di Blitar, Jawa Timur, Senin.
Farida dalam seminar ilmiah bertajuk "Strategi Pemberdayaan Ekonomi Keluarga" di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar, mengatakan pemerintah melakukan reposisi arah pembangunan ekonomi nasional dengan mengembalikan kedaulatan sumber daya alam dan produktivitas masyarakat desa melalui wadah koperasi.
Baca juga: Dorong Koperasi Berdaya Saing, Pemkab Nunukan Gelar Pelatihan KDKMP 2025
Menurut Farida Farichah, keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto dirancang sebagai ekosistem yang menghubungkan akses permodalan dan pengolahan hasil produksi di tingkat desa sehingga nilai tambah komoditas tidak lagi terpusat di luar daerah.
Ia mencontohkan hasil panen gabah dapat dibeli, dikeringkan, dan diolah menjadi beras premium melalui koperasi desa sehingga manfaat ekonomi dan penciptaan lapangan kerja dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Farida juga mendorong mahasiswa untuk memiliki jiwa kewirausahaan, agar mampu menciptakan lapangan kerja setelah lulus dari perguruan tinggi.
Ia meminta perguruan tinggi mengintegrasikan literasi keuangan sejak awal perkuliahan, serta mengoptimalkan program magang dan Kuliah Kerja Nyata (KKN), sebagai sarana pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, mengajak mahasiswa membangun mentalitas wirausaha dengan menetapkan target yang realistis dan bertahap.
"Mengejar Rp100 juta pertama itu susah, Rp1 miliar pertama super susah.
Tapi semua ada tahapannya.
Mulai dengan menetapkan prioritas keluarga, dan siapkan tabungan masa depan, agar kita tumbuh menjadi generasi yang sukses," kata Syauqul.
(*)
(ANTARA/Asmaul Chusna/Kamis 9 Juli 2026)