Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Orang tua santri korban pembakaran di salah satu pondok pesantren di Lombok Tengah mengaku sempat menanggung sendiri biaya pengobatan anaknya karena tidak ditanggung BPJS Kesehatan.
Rumidah, ayah korban berinisial SA, mengatakan berbagai upaya dilakukan agar anaknya tetap mendapat perawatan, termasuk menjual ternak dan meminjam uang.
"Kita bawa pulang dari rumah sakit, kita jual sapi Rp14,6 juta menjadi biaya pengobatan Al. Sebelum mendapatkan bantuan," kata Rumidah, Kamis (9/7/2026).
Ia mengaku awalnya ia membayar biaya pengobatan Rp1,7 juta namun tidak ada perubahan, sehingga ia mencoba beberapa tempat pengobatan lainnya. Rumidah mengaku kondisi luka anaknya, hingga mengeluarkan bau.
"Di rumah kami buka perban, luka sampai mengeluarkan bau sampai malu kita dengan tetangga, sekedar buka pintu keluar baunya," kata Rumidah.
Baca juga: Ibu Santri Korban Pembakaran Ungkap Kronologi Dicegat Polisi Ketika akan Berangkat ke Podcast Densu
Rumidah mengaku ia terus mengusahakan pengobatan mandiri untuk anaknya, hingga ternak yang lain kembali di jual dengan nilai Rp9 juta beserta tabungan yang lain.
Bersama dengan ibu korban lainnya inisial D, Rumidah mencoba berdiskusi untuk mencari sumber pembiayaan yang lain untuk pengobatan anak mereka.
"Habis modal untuk pengobatan, saling telepon dengan ibunya D, dimana kita berhutang ini. Dia bilang coba Carikan disana mungkin ada, saya bilang kalau disini tidak ada tempat kita berhutang," kata Rumidah.
Ia mengaku berhutang sana-sini untuk membiayai pengobatan anaknya, sampai akhirnya meminjam uang di PNM Mekar senilai Rp15 juta dengan angsuran Rp700 ribu setiap dua sekali.
Dari pihak Ponpes sempat memberikan bantuan namun jumlahnya tidak seberapa, bahkan pihak Ponpes ketika dimintai pertanggung jawaban justru merasa menjadi korban. Kini ini biaya pengobatan sudah dibantu oleh pihak LPA Kota Mataram bersama dengan Polda NTB.
(*)