TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO- Pelaksanaan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) di Kabupaten Banyumas telah menjangkau 81 desa dengan sasaran sebanyak 22 ribu pasien.
Masyarakat sangat antusias mengikuti program Speling dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes KB Banyumas, dr Anwar Hudiono mengatakan, tahun lalu pada 2025, program Speling terlaksana baik dengan target 80 desa prioritas satu.
Tahun 2026 ditambah sejumlah 46 desa prioritas dua, sehingga total keseluruhan mencapai 126 desa.
"Mengapa prioritas, karena program dari Gubernur Jawa Tengah ini menyasar desa-desa yang tertinggal, miskin, dan kesusahan akses," katanya kepada tribunbanyumas.com, Kamis (9/7/2026).
Anwar mengatakan, pelaksanaan program Speling di Kabupaten Banyumas saat ini sudah menyentuh 81 desa, dengan titik target minimal 100 pasien.
Tetapi di Kabupaten Banyumas, warga yang memeriksakan dirinya sudah mencapai 22 ribu pasien.
Dokter spesialis yang wajib didatangkan adalah dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis penyakit paru, dokter spesialis penyakit anak, dan dokter spesialis kandungan.
Baca juga: Seorang Ibu di Pati Ganti Nama Anak karena Sering Nangis, Rela Sidang di Pengadilan
Tetapi rumah sakit boleh menambahkan dokter lain sebagai pelengkap, contohnya dokter jiwa atau dokter mata.
"Jika satu titik desa target 100 pasien. Maka di Kabupaten Banyumas ini sudah melampaui. Tingga target lokusnya," ungkapnya.
Didominasi Pasien Penyakit Jantung
Anwar menjelaskan, penyakit dan keluhan yang banyak ditemukan saat program Speling adalah penyakit jantung.
Baca juga: Kerap Ngamuk hingga Ancam Keselamatan Warga, ODGJ di Kebumen Dievakuasi
Saat dilakukan pemeriksaan tekanan darah dan cek alat elektrolardiogram (EKG), terdeteksi banyak warga memiliki tekanan darah tinggi dengan kecenderungan resiko penyakit jantung.
"Tercatat ada 1.463 kasus penyakit jantung dan darah tinggi. Itu bukan temuan baru, tapi kombinasi. Ada yang skrining pertama kali dan ada yang memang pasien rawat jalan rumah sakit," jelasnya.
Menurut Anwar, kasus terbanyak kedua adalah ibu hamil dengan resiko, jumlahnya mencapai 639 kasus.
Hasil antenatal care (Anc) tidak bagus dan memang menunjukan tidak normal.
Biasanya sudah dipilih terlebih dahulu sebelum pemeriksaan.
"Evaluasi dan tindak lanjut program Speling, pertama di lokasi diberi obat. Kedua jika harus kontrol lanjutan, maka langsung diberi rujukan," ungkapnya. (fba)