TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Pelemahan rupiah hingga perlambatan ekonomi dan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah memaksa pelaku usaha di Kota Semarang mengubah strategi bisnis.
Sektor ritel dan perhotelan kini memilih beradaptasi dengan memperluas target pasar dibanding bergantung pada sumber pendapatan lama.
Baca juga: Pasangan Belum Menikah Check-in Bisa Dipidana 1 Tahun, Ini Kata Pelaku Perhotelan di Jateng
General Manager DP Mall Semarang, Antonius Agus Budiawan, mengatakan ekspansi mal yang rampung pada Agustus 2025 menjadi modal utama untuk menarik lebih banyak pengunjung di tengah kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih.
Meskipun begitu, Antonius mencatat jumlah kunjungan ke DP Mall tetap berada di angka tinggi.
Pada hari kerja, rata-rata kunjungan mencapai 39.000 orang per hari, sedangkan akhir pekan mencapai 44.000 orang.
"Traffic sudah naik dua kali lipat dibanding sebelum ekspansi. Saya melihat pergerakan pasar sekarang lebih dinamis," ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Ia menilai kehadiran sejumlah pusat perbelanjaan baru di Kota Semarang bukan menjadi ancaman, melainkan justru memperluas pasar ritel. Untuk memperkuat daya tarik, DP Mall terus menambah tenant baru, terutama di sektor makanan dan minuman (F&B), guna meningkatkan lama kunjungan.
"Kami berharap traffic stabil sampai akhir tahun. Biasanya momentum akhir tahun justru lebih ramai dibanding Lebaran," katanya.
Sementara itu, sektor perhotelan menghadapi tantangan berbeda.
Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah membuat pasar kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) dari instansi pemerintah menyusut tajam.
General Manager Rooms inc Semarang, Kusnadi, menuturkan bahwa sebelum kebijakan efisiensi diterapkan, rata-rata hotel memperoleh sekitar 20 persen pendapatan dari sektor pemerintahan.
Namun sejak 2025, kontribusi tersebut turun drastis. Di Rooms inc, pangsa pasar pemerintah yang sebelumnya berada di kisaran 10-13 persen kini terus menyusut.
"Kami tidak bisa lagi bergantung pada pasar government. Karena itu kami mengalihkan fokus ke segmen corporate, perbankan, dan lifestyle, sekaligus memperkuat pelayanan serta menghadirkan lebih banyak program di hotel," ujarnya.
Ia mengakui industri hotel sempat mengalami guncangan pada 2025 karena kebijakan tersebut muncul mendadak.
Namun memasuki 2026, Rooms inc mulai agresif mengubah strategi agar tidak lagi bergantung pada pasar pemerintahan.
"Produk dan layanan justru kami tambah, bukan dikurangi. Yang paling penting kami meningkatkan servis dan kualitas produk. Itu yang membuat kami bisa bertahan," ungkapnya.