SURYA.CO.ID SURABAYA – Berat badan bayi yang tidak kunjung bertambah sesuai usia perlu menjadi perhatian serius orang tua karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda paling awal terjadinya stunting, jauh sebelum anak terlihat bertubuh pendek.
Banyak orang tua baru menyadari stunting ketika tinggi badan anak tampak lebih rendah dibandingkan teman sebayanya.
Padahal, gangguan pertumbuhan itu berkembang secara perlahan dan diawali dengan melambatnya kenaikan berat badan. Jika fase awal ini terlewat, risiko gangguan tumbuh kembang dapat semakin besar sehingga peluang intervensi dini menjadi lebih sempit.
Dosen Fakultas Kedokteran Unair, Prof Dr Irwanto dr SpA(K), menjelaskan bahwa anak bertubuh pendek belum tentu mengalami stunting. Menurutnya, tubuh pendek dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keturunan, kelainan metabolik, penyakit kronis, hingga kelainan kromosom.
Baca juga: Berhasil Tekan Stunting di Jawa Timur, Khofifah Terima Penghargaan Persagi
Sementara itu, stunting merupakan kondisi tubuh pendek yang terjadi akibat malnutrisi kronis.
"Pendek belum tentu stunting, tetapi stunting sudah pasti pendek," tegasnya, Kamis (9/7/2026).
Ia menjelaskan proses stunting berlangsung secara bertahap. Sebelum tinggi badan anak mengalami perlambatan, pertumbuhan berat badan umumnya lebih dahulu terhambat.
"Berat badan adalah tanda awal stunting yang sangat jarang orang tua sadari. Pada usia dua hingga empat bulan, jika berat badan tidak naik, itu harus diwaspadai sebagai risiko stunting," ujarnya.
Karena itu, Irwanto mengimbau orang tua rutin memantau pertumbuhan anak melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Jika ditemukan penyimpangan pertumbuhan, orang tua diminta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar intervensi dapat dilakukan sedini mungkin.
Menurut Irwanto, pencegahan stunting paling efektif dilakukan pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Baca juga: Riset Internasional Intervensi Nutrisi Ini Diklaim Mampu Pangkas Stunting hingga 34,5 Persen
Pada periode emas tersebut, pemenuhan gizi ibu dan anak, disertai pemantauan pertumbuhan secara berkala, menjadi kunci untuk mencegah gangguan tumbuh kembang.
"Manfaatkan Buku KIA dengan baik mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia lima tahun. Itu cara paling mudah untuk memantau pertumbuhan anak," katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga asupan gizi ibu selama hamil maupun menyusui. Menurutnya, kualitas gizi ibu akan berpengaruh terhadap kualitas ASI yang berperan penting dalam pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan kesehatan anak.
"Jaga makan ibu agar ASI yang dihasilkan berkualitas. Hal itu sangat berkorelasi dengan pertumbuhan badan, perkembangan otak, dan kesehatan anak," tuturnya.
Irwanto menambahkan, dampak stunting tidak hanya terlihat dari kondisi fisik anak. Gangguan tersebut juga dapat memengaruhi kemampuan kognitif, perkembangan emosi, prestasi belajar, hingga produktivitas seseorang ketika memasuki usia dewasa.
"Intervensi pemberian gizi pada anak harus dilakukan secara holistik agar pencegahan stunting dapat berjalan maksimal," pungkasnya.