Oleh:
Ambrosius M Loho, M.Fil.
Pengajar pada Departemen Humanities and Interdiciplinary Studies Universitas Ciputra Surabaya
Pegiat Seni dan Budaya
DUNIA modern saat ini mementaskan berbagai fakta unik, terkait perilaku manusia. Bahkan dalam bernegara atau berkomunitas, terpentas berbagai fakta terkait komunikasi dan perilaku subjek yang kurang etik, di mana hal ini sering dianggap biasa saja. Kendati tampak biasa saja dalam hal perilaku manusia, namun hal yang dianggap biasa itu, perlu diuji dalam konteks apakah hal tersebut memenuhi atau mengandung nilai etika atau sebaliknya abai terhadap nilai-nilai universal etika.
Tulisan ini akan berupaya meletakkan dengan benar, peran penting dari etika dan nilai-nilainya, berpijak dari uraian serba sekilas etika dan perannya dalam dunia modern saat ini. Sebagai pintu masuk, sangat penting untuk pertama-tama mendudukan arti etika serta konteks dan seluk beluknya, sehingga bisa dijadikan pijakan serta bingkai bingkai yang benar dalam praksis perilaku manusia atau subjek itu.
Berdasarkan arti dasarnya, etika adalah disiplin ilmu yang berkaitan dengan apa yang baik dan buruk secara moral, serta apa yang benar dan salah secara moral. Istilah ini juga diterapkan pada sistem atau teori apa pun tentang nilai atau prinsip moral.
Sejalan ini, Pontoan, dkk. (2025), menguraikan bahwa secara etimologi, etika berasal dari istilah Yunani "ethos," yang secara harfiah berarti kebiasaan atau perilaku serta tindakan manusia. Istilah ini digunakan untuk merujuk kepada ilmu dan prinsipprinsip dasar yang menilai perilaku serta tindakan manusia sebagai baik atau buruk. Objek material atau dapat disebut sebagai objek utama dari etika adalah perilaku manusia. Di sisi lain, objek formalnya berhubungan dengan penilaian mengenai baik dan buruk, serta benar dan salah dari perilaku atau tindakan manusia tersebut, sesuai dengan norma yang berlaku. (https://ejournal.indo-intellectual.id/index.php/imeij/article/view/4749/3107).
Maka, sejalan dengan itu, etika juga pada gilirannya akan berarti evaluasi kritis atas setiap perilaku subjek atau individu. Di sisi yang sama, etika adalah ilmu yang mengkaji nilai dan kualitas yang melekat pada keberadaan manusia, terutama berkaitan dengan standar dan penilaian moral berprilaku subjek. Demikian juga, etika melibatkan analisis serta penerapan konsep-konsep seperti kebenaran, kesalahan, kebaikan, keburukan, dan tanggung jawab. (bdk.https://www.britannica.com/topic/ethics-philosophy/The-Stoics).
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa etika pada intinya merupakan penerapan nilai-nilai moral etik dalam kehidupan manusia. Melalui etika, kita dapat menentukan tindakan yang seharusnya dilakukan dan demikian sebaliknya yang sebaiknya dihindari. Meskipun konsep ini telah diajarkan sepanjang zaman, namun terlihat bahwa pada era saat ini, etika cenderung mengalami penurunan dan bahkan memburuk seiring berjalannya waktu.
Dengan demikian maka dalam praksis hidup sehari-hari, etika sangat penting dan vital, terutama dalam kehidupan bersama untuk mencapai 'bonum commune' (kebaikan bersama). Sifat praktis etika pun pada dasarnya menyeluruh, karena etika terhubung dengan banyak studi lain, seperti antropologi, biologi, ekonomi, sejarah, politik, sosiologi, komunikasi dan teologi. Namun sebegitu praktis dan dekatnya etika dengan bidang ilmu lain, etika tetap berbeda dari bidang ilmu tersebut karena bukan merupakan masalah pengetahuan faktual seperti halnya ilmu pengetahuan dan cabang ilmu lainnya. Sebaliknya, etika pada dasarnya menerapkan prinsip-prinsip inti terkait masalah moral praktis, hal baik dan buruknya perilaku dalam berbagai bidang itu
Melampaui itu, kita perlu mengerti dan memahami dengan benar bahwa etika atau 'yang etis', dapat tercermin dengan jelas melalui tindakan atau perkataan seseorang. Jika seseorang memiliki etika yang baik, maka perilakunya akan etis, dan sebaliknya. Dalam konteks kepublikan, para pemimpin publik sering menjadi sorotan dalam berkomunikasi. Tentu fakta ini bukan tanpa dasar, karena setiap tokoh publik memang selalu menjadi sorotan dalam kehidupannya termasuk gaya berbahasa dalam sebuah komunikasi. Tak jarang muncul bahwa ucapan tokoh publik itu mengucapkan kata kasar, yang sejalan itu, dianggap hal yang biasa dan lumrah.
Maka, sebagaimana refleksi sederhana dalam tulisan ini, apapun bahasa komunikasi seorang pemimpin atau tokoh publik, harus tetap santun dan menjaga marwah ketokohannya, karena yang ditokohkan itu akan selalu dijadikan contoh, bukan hanya oleh masyarakat, tapi semua generasi muda, yang suatu waktu akan menjadi pemimpin juga di kemudian hari.
Maka perlu dipertegas lagi, dalam kerangka pentingnya etika dalam dunia publik, adalah apa yang pernah ditegaskan Plato, bahwa solusi yang mungkin untuk setiap masalah yang rumit sekalipun adalah komunikasi lisan. Konon Plato menyatakan bahwa komunikasi lisan lebih unggul daripada bahasa tulis. Dalam konteks ini, tentu Plato tidak mutlak menafikan bahasa tulis, tapi dalam pengalaman pedagogiknya, bahasa lisan lebih unggul. Dalam hal ini, Plato percaya bahwa komunikasi lisan lebih ampuh daripada bahasa tertulis. Karena ia khawatir orang tidak akan memahami prinsip-prinsip kehidupan yang paling mendalam jika disampaikan dalam bentuk tertulis, ia memutuskan untuk mengajarkannya secara lisan (dan hanya secara lisan) di sekolah yang ia dirikan sendiri, Akademi. Akhirnya, dalam perspektif filosofis etis ala Plato, para pemimpin perlu untuk mengungkapkan kebenaran ilmiah kepada semua orang, (tetapi) melalui metode yang berbasis pada komunikasi lisan. (Bdk.https://culturico.com/plato-teaches-us-about-scientific-communication/). (*)