Tradisi Rakanan dari Dusun Giyanti Wonosobo, Saat 300 Tenong Menjadi Simbol Berbagi Kebahagiaan
raka f pujangga July 10, 2026 07:12 PM

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Ratusan warga mengenakan pakaian adat berjalan beriringan membawa tenong berisi nasi rames, jajanan pasar, buah-buahan hingga aneka makanan tradisional, Jumat (10/7/2026).

Pemandangan tersebut menjadi momen yang paling dinantikan dalam Tradisi Rakanan Dusun Giyanti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo yakni prosesi Tenongan yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat.

Tradisi yang digelar di Dusun Giyanti ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi bentuk sedekah warga kepada siapa saja yang datang berkunjung. 

Baca juga: Kebakaran Hutan di Kaliwiro Wonosobo, Hanguskan Area Lahan 6x12 Meter

"Seluruh makanan yang dibawa dalam tenong dibagikan secara gratis tanpa dipungut biaya," ucap Kepala Dusun Giyanti, Subartan.

Subartan mengatakan Tenongan merupakan puncak dari rangkaian Rakanan yang telah dimulai sejak Minggu (5/7/2026) melalui kirab budaya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan bersih dusun selama tiga hari berturut-turut. 

Selanjutnya digelar pementasan tari tradisional Kuda Kepang dan Lengger sebelum memasuki puncak acara pada Jumat.

Menurut Subartan, Tenongan menjadi bagian paling sakral dalam Tradisi Rakanan yang selalu dipertahankan hingga sekarang.

Dalam tradisi tersebut, setiap kepala keluarga diwajibkan membawa satu tenong berisi nasi rames, jajanan pasar, buah-buahan, dan berbagai makanan tradisional.

"Di Dusun Giyanti sendiri terdapat sekitar 315 kepala keluarga sehingga jumlah tenong yang disiapkan mencapai sekitar 300 buah," ucap Kadus Giyanti.

Semua isi tenong nantinya diberikan kepada pengunjung sebagai bentuk sedekah sekaligus ungkapan syukur masyarakat atas kesehatan, kelancaran rezeki, dan nikmat yang diberikan Allah SWT.

20260710_Tradisi Rakanan Dusun Giyanti Wonosobo_2
TRADISI RAKANAN - Suasana puncak Tradisi Rakanan Dusun Giyanti diwarnai arak-arakan ratusan warga yang membawa tenong berisi nasi, jajanan pasar, dan buah-buahan sebagai simbol rasa syukur kepada Allah SWT, Jumat (10/7/2026).

Subartan menjelaskan, prosesi Tenongan diawali dengan arak-arakan warga dari ujung dusun menuju sanggar budaya melalui jalan utama desa.

Sesampainya di lokasi, para warga pembawa tenong berkumpul sebelum seluruh tenong ditata berjajar di tengah jalan. 

Selama prosesi berlangsung, ruas jalan ditutup sementara hingga doa bersama selesai dipanjatkan.

Setelah itu, pengunjung berebut mengambil isi tenong secara langsung.

"Tidak ada batasan jumlah makanan yang boleh diambil. Seluruh sajian memang dipersiapkan khusus untuk dinikmati para tamu yang datang ke Dusun Giyanti," lanjutnya.

Pelaksanaan Rakanan tahun ini terasa lebih semarak dibanding tahun sebelumnya. Selain mempertahankan tradisi Tenongan, panitia juga menambah pementasan wayang kulit yang sebelumnya tidak digelar.

Sebelum wayang kulit dimulai, masyarakat akan mengikuti wisuda Lengger dan tarian Kobol-kobol yang melambangkan rasa syukur warga setelah menyedekahkan sebagian rezekinya kepada para pengunjung.

Salah seorang warga, Yanti, mengaku perayaan Rakanan tahun ini lebih meriah karena persiapan dilakukan lebih matang.

"Tahun ini lebih meriah ya, karena ada pementasan wayang kulit juga jadi persiapan juga lebih," ucapnya.

Sebagai pembawa tenong, ia mengaku telah menyiapkan seluruh isi tenong sejak pagi buta.

"Udah persiapan dari jam 5 pagi," ungkapnya.

Tradisi Tenongan juga selalu menarik perhatian pengunjung. Salah satunya Inem yang mengaku sengaja datang untuk ikut merasakan suasana kebersamaan masyarakat Giyanti.

Ia berhasil membawa pulang beberapa makanan dari isi tenong yang diperebutkan usai acara Rakanan.

"Dapat jajan, pisang sama nasi," ucapnya sembari menunjukkan.

Bagi Inem, mengikuti Tradisi Rakanan bukan sekadar berburu makanan gratis, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang dipercaya membawa keberkahan.

Baca juga: Dukung Gerakan Mayo Sekolah, Wisuda Pendidikan Kesetaraan Digelar di Pasar Induk Wonosobo

"Ikut saja untuk ramai-ramai tambah berkah," ungkapnya.

Melalui penyelenggaraan Rakanan, masyarakat berharap tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini semakin dikenal luas. 

Terlebih, Dusun Giyanti kini telah menjadi bagian dari desa wisata sehingga diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. (ima)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.