Modernisasi Budidaya Ikan, Tim Dosen UPN Veteran Yogyakarta Dampingi Petani Terapkan Sistem Bioflok
Muhammad Fatoni July 10, 2026 07:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Upaya modernisasi sektor perikanan digencarkan tim Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.

Guna mendongkrak produktivitas dan efisiensi budidaya, mereka mengenalkan dan menerapkan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa sistem bioflok bagi kelompok pembudidaya lokal.

​Inovasi ini diintegrasikan dalam Program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Eksternal yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026. 

Pendampingan intensif tersebut dijadwalkan berlangsung selama enam bulan, terhitung sejak Mei hingga November 2026 mendatang.

​Sebagai langkah awal, tim pengabdian telah menggelar rangkaian pelatihan dan pendampingan perdana selama tiga hari, yakni pada 6 - 8 Juli 2026. 

Kegiatan dipusatkan di markas Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) Mina Lestari, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, sebagai tahap awal transfer teknologi serta penguatan kapasitas produksi dan pemasaran digital.

​Adapun tim pakar dari UPN "Veteran" Yogyakarta yang mengawal program ini diketuai oleh Dr. Sauptika Kancana, M.Si., dengan beranggotakan Winda Septiani, S.E., M.A. dan Budi Santosa, S.Si., M.T. 

Langkah tersebut menjadi bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi berkelanjutan.

​Program unggulan yang dibawa oleh tim akademisi berfokus pada Penerapan Teknologi Tepat Guna dalam Peningkatan Produktivitas Budidaya Ikan dengan Sistem Bioflok. 

Baca juga: Alasan UGM dan UPN Tutup Investigasi Kasus Rumah Api Seyegan Sleman

Teknologi ini dinilai menjadi jawaban atas berbagai tantangan yang kerap dihadapi oleh para pembudidaya ikan dengan metode konvensional.

​Secara teknis, teknologi bioflok yang diboyongnya tersebut merupakan metode budidaya ikan modern, dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. 

Bakteri baik ini bekerja aktif untuk menjaga kualitas air sekaligus mengolah limbah organik, seperti sisa pakan dan kotoran ikan, menjadi gumpalan-gumpalan biologis (flok) yang kaya protein, sehingga menjadi sumber nutrisi tambahan bagi ikan.

​Dibandingkan sistem budidaya konvensional, teknologi bioflok mengusung sederet keunggulan kompetitif, antara lain jauh lebih hemat dalam penggunaan air, mampu meningkatkan efisiensi pakan secara signifikan, serta memungkinkan padat tebar ikan yang jauh lebih tinggi dalam satu kolam.

Tidak hanya itu, sistem ini juga menjaga kualitas air tetap stabil, yang pada akhirnya berpotensi besar meningkatkan produktivitas serta hasil panen para peternak ikan.

​Untuk mematangkan pemahaman teknis mitra, pada Senin (6/7/2026), tim pengabdian menyelenggarakan pelatihan pembuatan dan penerapan TTG Bioflok dengan menghadirkan narasumber utama Hindra Dwi Wardana, seorang praktisi sekaligus pembudidaya ikan berpengalaman dengan sistem bioflok.

​Dalam pemaparannya yang bertajuk "Langkah Budidaya Ikan dengan Sistem Bioflok", ia mengupas tuntas seluruh tahapan krusial di lapangan. 

"Mulai dari persiapan kolam bioflok, formula pembuatan media bioflok, pengelolaan kualitas air, manajemen pemberian pakan, hingga teknik pemeliharaan spesifik demi meraih hasil panen yang optimal," katanya, Jumat (10/7/2026).

Anggota kelompok tani tidak hanya menyerap teori, tetapi juga langsung terlibat dalam praktik lapangan dan sesi diskusi interaktif.

Kolaborasi

​Ketua tim pengabdian, Dr. Sauptika Kancana, M.Si., menegaskan bahwa kolaborasi apik antara akademisi dan praktisi di lapangan merupakan kunci utama keberhasilan dari program pemberdayaan masyarakat ini.

​"Kami sengaja menghadirkan praktisi yang telah berhasil menerapkan sistem bioflok agar peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga pengalaman praktis yang dapat langsung diterapkan," tandasnya.

"Melalui program ini kami berharap teknologi bioflok mampu meningkatkan produktivitas budidaya ikan, menekan biaya produksi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya," imbuh Sauptika.

​Tak berhenti pada urusan budidaya di hulu, tim UPN Yogyakarta juga membekali KPI Mina Lestari dengan strategi di sisi hilir melalui pelatihan pemasaran digital, Selasa (7/7/2026).

Langkah ini diambil agar hasil panen yang melimpah dari sistem bioflok nantinya dapat diserap pasar secara maksimal dengan nilai jual yang tinggi.

​"Dalam sesi ini, para pembudidaya diajarkan strategi menembus pasar digital, mulai dari teknik pembuatan konten promosi yang estetik, seni memotret produk ikan agar memiliki daya tarik visual, penyusunan narasi promosi yang efektif, hingga pemanfaatan berbagai platform media sosial populer," ucapnya.

​Rangkaian pelatihan intensif tersebut kemudian ditutup pada Rabu (8/7/2026) melalui sesi pendampingan, evaluasi awal, serta perumusan rencana tindak lanjut bersama anggota kelompok tani. 

Langkah monitoring tersebut, dipastikan bakal berjalan konstan dan berkelanjutan sampai dengan bulan November 2026 mendatang

​"Melalui sinergi kuat antara perguruan tinggi, praktisi, dan kelompok pembudidaya, kehadiran teknologi bioflok yang ditopang dengan penguatan digital marketing ini diharapkan menjadi tonggak kebangkitan sektor perikanan budidaya," katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.