Kota Bogor (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadikan kemitraan dengan pihak swasta sebagai model pengelolaan empat Kebun Raya untuk memperkuat konservasi, riset, edukasi, dan pelayanan publik.

Kepala BRIN Arif Satria dalam keterangannya di Bogor, Jawa Barat, Jumat, mengatakan penguatan kemitraan publik-swasta atau public-private partnership (PPP) menjadi salah satu strategi menghadapi perubahan global sekaligus mendorong pembangunan berbasis inovasi.

Empat kawasan konservasi tumbuhan eks-situ tersebut yakni Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, dan Kebun Raya Bali yang pengelolaan pelayanan publik dan wisatanya melibatkan PT Mitra Natura Raya (MNR).

"Salah satu strategi utama dalam menghadapi masifnya perubahan global adalah penguatan kemitraan publik-swasta atau Public-Private Partnership (PPP). Sektor swasta memiliki peran krusial dalam memajukan industri nasional," kata Arif.

Melalui skema kemitraan tersebut, BRIN tetap menjalankan fungsi utama dalam penelitian, konservasi keanekaragaman hayati, dan riset lingkungan, sedangkan MNR menangani aspek pelayanan publik dan wisata.

Pengelolaan oleh pihak swasta mencakup manajemen pengunjung, pelayanan keramahtamahan, diversifikasi produk wisata kreatif, kebersihan, pemasaran digital, hingga pemeliharaan fasilitas umum.

Skema tersebut juga memungkinkan aparatur sipil negara (ASN) periset di BRIN lebih fokus menjalankan tugas utama dalam penelitian dan konservasi, tanpa terbebani operasional harian fungsi wisata Kebun Raya.

Sejak kemitraan berjalan pada 2020, sedikitnya 13 taman tematik di empat Kebun Raya telah direvitalisasi dan diresmikan sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan aset sekaligus mendukung fungsi konservasi.

Modernisasi juga dilakukan melalui pengembangan program Kultura dan Immerzoa. Kultura mengemas edukasi budaya Indonesia secara bergantian di kawasan Kebun Raya, sedangkan Immerzoa memanfaatkan teknologi visual imersif untuk menyampaikan edukasi mengenai siklus hidup tumbuhan dan hewan.

Managing Director PT Mitra Natura Raya Marga Anggrianto mengatakan kemitraan tersebut membuktikan bahwa inovasi kreatif sektor swasta dapat berjalan beriringan dengan kepentingan riset dan konservasi.

"Kesuksesan kemitraan Kebun Raya ini memiliki proporsi yang seimbang antara optimalisasi aset, pengembangan bisnis kreatif wisata, serta menjaga marwah Kebun Raya yang erat dengan komunitas akademik dan isu lingkungan," kata Marga.

Menurut dia, melalui skema tersebut, aset Kebun Raya tetap menjadi milik negara, kegiatan riset terus berjalan, sementara pengelolaannya juga memberikan manfaat ekonomi dan edukasi bagi masyarakat.

Model kemitraan tersebut juga telah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Keuangan dengan terdaftarnya MNR sebagai Mitra Instansi Pengelola (MIP) dalam pengelolaan aset negara.

Selain itu, skema PPP dalam pengelolaan Kebun Raya Indonesia dipaparkan dalam International Congress on Education in Botanical Gardens (ICEBG) 2025 di Seoul, Korea Selatan.

Model pengelolaan itu juga menjadi objek penelitian dalam makalah berjudul Evaluating Public-Private Partnerships in Indonesian Botanical Gardens: Implications for Conservation and Edu-tourism yang dipublikasikan dalam Proceedings of the 9th Asia Euro Conference 2026.

Pada 2026, Kebun Raya Indonesia di bawah pengelolaan operasional MNR juga menerima penghargaan bidang pariwisata dalam ajang ASEAN Tourism Awards 2026 di Filipina.

Marga menilai berbagai pengakuan tersebut menunjukkan kemitraan pemerintah-swasta dapat menjadi salah satu model tata kelola kolaboratif dalam mengoptimalkan aset negara tanpa mengabaikan fungsi konservasi, penelitian, edukasi, wisata ilmiah, dan jasa lingkungan.