Kerap Kali Bolos, Sejak di Sekolah Rakyat Tarakan Miska Paling Senang Belajar daripada Libur
Junisah July 10, 2026 08:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Gerakan tegak, sikap pasang kuda-kuda, tendangan, pukulan, hingga langkah maju dan mundur diperlihatkan Miska Aprilia Tenesa dengan penuh percaya diri, saat tampil perakan seni tunggal pencak silat di Open Sekolah Rakyat Terintegrasi 59 Kota Tarakan di halaman Kantor Lembaga Latihan Kerja (LLK) Tarakan, Kalimantan Urara.Jumat (11/7/2026).

Gerakan pencak silat dengan tangan kosong, lalu menggunakan golok dan toya yang ditampilkan siswi kelas 3 SMP Sekolah Rakyat Terintegarasi ini bukan hal yang sulit bagi dirinya. Hal ini dikarenakan gerakan yang peragakan sudah dikuasainya sudah lama sejak tahun 2019.

Selama hampir delapan tahun berlatih, Miska Aprilia Tenesa  telah menyandang sabuk cokelat, satu tingkat sebelum sabuk hitam.

Untuk mendapatkan sabuk cokelat tentunya harus melewati berbagai tingkatan dari belum bersabuk, kemudian sabuk putih, kuning, hijau, biru, cokelat, hingga hitam.

Bagi Miska Aprilia Tenesa, pencak silat bukan sekadar olahraga atau seni bela diri, tetapi menjadi bekal untuk melindungi diri dan tentunya tidak boleh disalah gunakan.

Baca juga: Asiah Terharu Lihat Perubahan Anaknya di Sekolah Rayat Tarakan, Lebih Displin dan Taat Beribadah

Siswi kelas 3 SMP di Sekolah Rakyat itu mengaku telah menekuni pencak silat jauh sebelum bergabung di sekolah berasrama tersebut. Sejak 2019, Miska sudah berlatih di Perguruan Kera Putih yang berada di bawah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Tentunya lemampuan bela diri pencak silat ini akan menjadi salah satu bekal untuk mengejar cita-cita yang telah diimpikannya sejak kecill yakni menjadi anggota Kepolisian Wanita (Polwan).

"Cita-cita saya jadi Polwan. Dari waktu masih PAUD memang sudah ingin jadi Polwan, karena menurut saya keren," remaja kelahiran Tarakan, 11 April 2010 sambil tersenyum.

Dua Kali Dikeluarkan dari Sekolah

Di balik penampilannya yang memukau di Open House Sekolah Rakyat tersimpan kisah perubahan seorang remaja berusia 16 tahun yang kini bertekad memperbaiki masa depannya.

Miska baru bergabung di Sekolah Rakyat pada Januari 2026 dengan dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Keputusan itu menjadi titik balik dalam kehidupannya.

Di hadapan wartawan, Miska secara jujur mengakui pernah dua kali dikeluarkan dari sekolah sebelumnya karena sering bolos.

"Sebelumnya sekolah di SMP 8. Saya sudah dua kali dikeluarkan dari sekolah karena sering bolos," ungkapnya.

Saat ditanya alasan sering membolos, ia mengaku kala itu memang malas belajar.

Namun, suasana belajar di Sekolah Rakyat justru mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan. Kini, rasa malas yang dulu sering muncul perlahan hilang.

"Kalau sekarang sudah berubah. Malah lebih suka belajar daripada libur," ujarnya.

Salah satu aturan yang menurutnya turut membantu perubahan itu adalah larangan membawa telepon genggam selama berada di asrama. Para siswa hanya menggunakan laptop untuk keperluan belajar.

"Di sini tidak pegang Handphone. Kalau belajar pakai laptop," ucapnya.

Baca juga: Penampilan Siswa Sekolah Rakyat di Tarakan Saat Puisi Pukau Penonton, Ada yang Teteskan Air Mata

Sebagai sekolah berasrama, para siswa juga hanya diperbolehkan pulang ke rumah setiap satu hingga dua bulan sekali sesuai jadwal yang ditentukan sekolah. Meski jarang bertemu keluarga, Miska mengaku merasa nyaman menjalani kehidupan di Sekolah Rakyat.

Ia bahkan merasakan suasana kekeluargaan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.

"Senang karena punya banyak teman, serasa saudara. Terus saya juga di sini dihargai, didengar, ada yang sayang," tuturnya.

Perubahan sikap itu pun diakui telah disadari oleh kedua orang tuanya.

"Mereka tahu. Kaget juga melihat perubahan saya," katanya.

Miska yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara itu kini memilih fokus mengejar prestasi, baik di bidang akademik maupun pencak silat.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.