Asiah Terharu Lihat Perubahan Anaknya di Sekolah Rakyat Tarakan, Lebih Displin dan Taat Beribadah
Junisah July 10, 2026 08:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Air mata tak mampu lagi dibendung Asiah ketika melihat penampilan bakat siswa dan siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 59 Kota Tarakan yang tampil di kegiatan Open House dari pagi pagi hingga siang Jumat (10/7/2026) di Halaman Kantor LLK Tarakan, Kalimantan Utara.

Perempuan penjual putu asal Lingkas Ujung itu berkali-kali mengusap air mata yang basah. Air mata menetes terus menerus di pipinya bukan lantaran sedih melihat anaknya jauh dari rumah. Namun air mata tersebut menjadi luapan syukur setelah melihat perubahan anaknya yang dirasakan sejak menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.

Meski putrinya tidak ikut tampil di panggung namun, tapi putri dari Asiah menjadi bagian dari panitia penyambut tamu kegiatan Open House Sekolah Rakyat Terintegrasi yang dihadiri langsung Wakil Wali Kota Tarakan Tarakan, perwakilan Kemensos, Ketua DPRD Tarakan, segenap kepala OPD dan instansi lainnya.

Asiah mengaku, ia meneteskan air mata dikarenkan penampilan bakat yang disuguhkan siswa dan siswi tersebut menjadi bukti bahwa anak-anak di Sekolah Rakyat benar-benar dibina sesuai bakat dan kemampuan mereka.

Baca juga: Penampilan Siswa Sekolah Rakyat di Tarakan Saat Puisi Pukau Penonton, Ada yang Teteskan Air Mata

"Saya sangat terharu. Atas keberhasilan anak-anak bisa menjalani kehidupan sebagai anak sekolah," katanya.

Asiah menceritakan awal memasukan putri bungsunya bernama Asiriani ke Sekolah Rakyat di Tarakan bukanlah keputusan yang mudah. Ia harus berjuang membujuk putriny agar bersedia tinggal di Asrama.

"Saya bujuk anak saya. Anak saya juga tidak mau, tapi saya bujuk anak saya masuk. Supaya dia bisa lebih, bisa berpendidikan yang tinggi," tuturnya.

Sebelumnya, Asriani di SMP Negeri 5 Tarakan, tapi akhirnya dipindahkan ke Sekolah Rakyat pada gelombang pertama penerimaan siswa dan kini di kelas II SMP.

"Saya pindahkan ke sini anak saya, karena memang itu saya mau anak saya dididik, diarahkan ke jalan yang benar. Sebenarnya berat melepaskan anak itu. Saya menangis sehari waktu saya masuk ke sini (SRT)," ujarnya. 

Ia berharap pendidikan yang diterima anaknya mampu mengubah masa depan keluarga mereka.

"Aku mau anak saya seperti orang bisa mendapatkan, bekerja dengan baik. Nantinya ada masa dipanggil lebih baik. Jangan seperti saya dari penjual kue, masa anak saya mau jadi penjual kue," katanya.

Meski berat melepas anak tinggal di asrama, Asiah memilih mengesampingkan perasaannya demi masa depan sang buah hati.

Baca juga: Tahun 2026, Rumah Layak bagi 10.000 Siswa Sekolah Rakyat

Kini, keputusan itu tak pernah ia sesali. Menurutnya, perubahan sikap Asriani mulai terlihat sejak belajar di Sekolah Rakyat. Perubahan itu bukan hanya soal kedisiplinan, tetapi juga kebiasaan sehari-hari yang semakin baik.

"Dia bisa memberikan saya yang baik. Bahkan dia bisa memberikan saya, bilang ini, kata guru ini yang benar, ini yang salah. Dia bisa salat, dia bisa menyapu, sudah mencuci," ungkapnya.

Asiah mengakui, putrinya memang sejak kecil merupakan anak yang baik. Namun, pendidikan di Sekolah Rakyat dinilainya semakin memperkuat karakter tersebut.

"Memang anaknya si penurut, dia anak baik. Memang disiplin. Tapi saya mau ke disiplin yang ditingkatkan daripada yang di rumah," ujarnya.

Di mata Asiah, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi menjadi ruang yang memberi kesempatan bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk memiliki masa depan yang sama.

"Saya melihat sekolah ini bisa membimbing dan membina ke jenjangan masa depan. Sekolah yang tinggi, berprestasi. Saya mau anak saya dan anak-anak yang lain bisa bertumbuh kembang dengan baik, teratur," katanya.

Ia juga meyakini pemerintah telah membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga sederhana untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik.

"Saya melihat di sekolah ini anak-anak bisa bersekolah, berkuliah dengan tinggi. Karena pemerintah memberikan kesempatan ini dengan baik. Sebagai manusia, masyarakat awam, saya sangat bersyukur  anak saya di sini. Supaya anak saya lebih baik dan seperti orang yang berpendidikan yang layak, yang tinggi. Bisa mendapat cita-citanya, bisa membina dan bisa mengabdi pada masyarakat dan agama serta bangsa dan negara," harapnya.

Harapan itu juga ia tujukan kepada seluruh siswa Sekolah Rakyat. Ia berharap semua anak-anak di sekolah ini tumbuh kembangnya lebih, bisa berkembang lebih bagus.

"Lebih bagus daripada sekolah-sekolah yang lain. Jangan kita dari kalangan bawah jadi tidak bisa seperti orang yang biasa. Anak kita itu harus lebih maju, lebih memperlihatkan jati diri dia. Dia sebagai anak siapa, dari orang mana, orang kaya apa miskin, tidak ada bedanya," katanya.

MEMUKAU - Berbagai bakat yang ditampilkan siswa dan siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi di kegiatan Open House, Jumat (11/7/2026).
MEMUKAU - Berbagai bakat yang ditampilkan siswa dan siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi di kegiatan Open House, Jumat (11/7/2026). (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

Menurutnya, bukti pembinaan itu sudah terlihat dalam penampilan siswa pada kegiatan Open House dan kegiatan sehari-hari di Sekolah Rakyat.

"Menurut saya di sekolah inilah bisa ditumbuh kembangkan bagaimana cara mendapatkan apa yang diinginkan anak-anak. Karena di dalam sekolah ini banyak yang dibebaskan, bisa berprestasi. Contohnya tadi itu, sudah itu bukti nyata anak-anak di sini. Dia memang dibina dengan bakatnya sendiri," ujarnya.

Asiah sendiri merupakan ibu dari empat anak perempuan. Anak sulungnya masih kuliah, anak kedua telah menyelesaikan sekolah dan sedang mencari pekerjaan setelah mengikuti pelatihan satpam, sementara anak ketiga baru lulus SMK. Asriani menjadi anak terakhir yang kini menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.

Sehari-hari, Asiah berjualan putu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Usaha kecil itu telah dijalaninya selama tiga tahun. Karena itu, ia merasa kehadiran Sekolah Rakyat menjadi berkah bagi keluarganya.

"Saya sangat bersyukur karena anak saya bisa masuk ke sini. Tidak semua orang bisa masuk ke sini. Saya sangat bersyukur karena anak saya bisa diterima di sini," katanya.

Di akhir wawancara, dengan mata yang masih berkaca-kaca, Aisah menitipkan doa dan harapan kepada seluruh siswa  dan siswi serta para guru yang telah membimbing anak-anak mereka.

"Saya cuma berterima kasih. Anak-anak terus maju. Anak-anak bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Terus maju dan maju. Belajar semangat. Dan terima kasih sama  wali ssuh dan guru-guru," pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.