TRIBUNJAKARTA.COM - Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 74 persen wilayahnya berupa laut dan 17.380 pulau.
Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu kawasan penting bagi burung laut di jalur migrasi Asia–Australia karena perairan Indonesia berfungsi sebagai tempat mencari makan, beristirahat, hingga berkembang biak bagi berbagai jenis burung laut.
Berdasarkan data pada aplikasi eBird periode 1900–2025, sedikitnya 75 jenis burung laut tercatat memanfaatkan perairan Indonesia. Jenis-jenis tersebut terdiri atas burung migran, vagran, maupun residen.
Sebagian di antaranya telah dilindungi melalui peraturan nasional maupun berbagai kesepakatan internasional karena menghadapi beragam ancaman.
Ancaman tersebut berupa hilangnya habitat, pencemaran laut, tangkapan sampingan perikanan (bycatch), gangguan di lokasi berbiak, hingga dampak perubahan iklim.
Berbagai tekanan tersebut telah berkontribusi pada penurunan populasi sejumlah spesies burung laut.
Koordinator Burung Laut Indonesia, Fransisca Noni Tirtaningtyas mengatakan bahwa data mengenai jumlah dan kondisi burung laut di Indonesia masih sangat terbatas.
Hal ini terjadi karena minimnya jumlah pengamat, sulitnya akses menuju lokasi-lokasi pengamatan yang umumnya berada di wilayah terpencil, serta keterbatasan pengetahuan dalam mengidentifikasi jenis burung laut.
"Meski demikian, sejak 2020, kegiatan pemantauan burung laut di Indonesia terus berkembang dan melibatkan semakin banyak pengamat dari berbagai daerah. Hal ini didorong oleh semakin luasnya penyebaran informasi melalui media sosial dan pendekatan kepada masyarakat yang meningatkan minat untuk terlibat dalam pengamatan burung laut," ujar Noni pada peringatan Hari Burung Laut Sedunia 2026 dikutip Jumat (10/7/2026).
Menurut Noni, urgensi dalam kegiatan pengamatan burung laut yaitu pendampingan. Sebab, banyak spesies memiliki bentuk tubuh dan pola warna yang sangat mirip sehingga memerlukan pengalaman dan proses belajar yang tidak singkat agar burung dapat teridentifikasi secara akurat.
Pendampingan dapat dilakukan dengan menggandeng pengamat burung yang sudah terbiasa mengamati burung laut serta komunitas Burung Laut Indonesia.
Dalam kegiatan perlindungan burung laut, pemerintah dan peneliti tidak dapat berdiri sendiri sehingga dibutuhkan partisipasi masyarakat.
Oleh sebab itu pendampingan dalam transfer ilmu pengetahuan harus menjadi agenda di dunia konservasi. Menurut BirdLife International (2022), partisipasi masyarakat dalam citizen science mampu memperkuat pemantauan jangka panjang sekaligus mendukung perlindungan burung laut secara berkelanjutan.
Transfer ilmu telah dilakukan oleh para staf Taman Nasional Karimunjawa, Provinsi Jawa Tengah kepada masyarakat sekitar supaya turut menjaga keberadaan burung laut terutama saat musim berbiak pada Mei hingga Juli.
“Kami melakukan pendekatan dengan menjalin kerjasama dengan warga supaya mengurangi kegiatan di sekitar Taman Nasional saat musim berbiak. Kami juga memasang papan informasi di sekitar koloni untuk mengurangi gangguan dari aktivitas manusia,” jelas staf Taman Nasional Karimunjawa, Kuswadi.
Transfer pengetahuan lainnya dilakukan oleh Ketua Kelompok Studi Lingkungan Hidup Aceh, Heri Tarmizi di pesisir Aceh.
Heri memberi pengetahuan terutama kepada nelayan yang sering bertemu burung laut. Para nelayan diajak untuk melaporkan setiap burung laut yang terjerat jaring.
Heri juga memberi tahu cara merawat dan melepaskan burung laut yang terjerat dan mengembalikannya ke alam.
“Bagi sebagian nelayan, kehadiran burung laut bahkan menjadi penanda keberadaan gerombolan ikan dan indikator kondisi tambak udang. Kolaborasi antara peneliti dan masyarakat ini menjadi fondasi penting bagi pemantauan jangka panjang sekaligus memperkuat upaya konservasi burung laut di pesisir Aceh,” terang Heri.
Hasil pelaporan pertemuan dengan burung laut kemudian mendukung kelengkapan data jumlah yang dibutuhkan oleh para peneliti di Provinsi Aceh.
Transfer pengetahuan selanjutnya dilakukan oleh Ketua Kelompok Masyarakat Deskar, Helitra di Cagar Alam Kepulauan Karimata, Provinsi Kalimantan Barat. Sejak 2020 ia mengajak warga untuk mengenali ekosistem pesisir.
“Semula warga yang berpartisipasi hanya 15 orang, namun saat ini lebih dari 20 orang terlibat secara aktif, mulai dari nelayan, pemuda, hingga ibu-ibu,” tegasnya.
Sementara itu, Provinsi Maluku Utara, transfer ilmu kepada masyarakat dilakukan oleh Halmahera Wildlife Photography (HWP) sebagai upaya untuk mendokumentasikan keberadaan burung laut.
Sejak 1980-an hingga 2026, sedikitnya 70 jenis burung laut telah tercatat di perairan Halmahera, Ternate, Obi, Bacan, dan Morotai.
Ketua Komunitas Halmahera Wildlife Photography (HWP), Dewi Ayu Anindita mengatakan bahwa dokumentasi yang dilakukan fotografer alam, mahasiswa, nelayan, dan masyarakat tidak hanya menghasilkan foto yang menarik, tetapi juga menyediakan data penting bagi upaya konservasi.
"Dokumentasi foto menjadi sumber informasi untuk memetakan sebaran spesies, mencatat kondisi habitat, sekaligus melengkapi basis data burung laut di Maluku Utara. Hasilnya kemudian kami sebarkan melalui poster, infografis, dan pameran foto," ujar Dewi.
Perayaan Hari Burung Laut Sedunia 2026 di Indonesia dirayakan dengan kegiatan seminar dengan judul “Melindungi Burung Laut Indonesia: Langkah Lokal untuk Dunia”.
Kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan Seminar Comata (SEMCOM) yang dilakukan oleh Kelompok Studi Hidupan Liar Comata, Universitas Indonesia yangberkolaborasi dengan Burung Laut Indonesia. Seminar tersebut menghadirkan berbagai pengalaman lapangan, tantangan, serta upaya konservasi burung laut dari sejumlah daerah di Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia.
Baca juga: Memantau Ruang Istirahat Burung Migrasi di Sekitar Kapal Nelayan Teluk Jakarta
Baca juga: Dinas KPKP DKI Ungkap Burung Merak Viral di Duren Sawit Milik Bamsoet
Baca juga: Memantau Burung Laut Dilindungi di Teluk Jakarta