TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Pemprov DKI Jakarta menegaskan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global.
Karena itu, perluasan akses pendidikan melalui Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), hingga program beasiswa terus menjadi prioritas pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Chico Hakim dalam diskusi Serius Tapi Santai Aktivis Jakarta Tentang Jakarta Menuju Kota Global bertema Akselerasi Pembangunan Jakarta Menuju Kota Global yang digelar Forum Lintas Aktivis Jakarta di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (10/7/2026).
“Jakarta kini tidak lagi bersaing dengan kota-kota lain di Indonesia, melainkan harus mampu bersaing dengan kota-kota besar dunia,” ucapnya, Jumat (10/6/2027).
Menurut dia, transformasi Jakarta menuju kota global terus dilakukan melalui penguatan kerja sama internasional, pembangunan berkelanjutan, serta peningkatan daya saing di berbagai sektor.
Namun, seluruh upaya tersebut harus ditopang oleh kualitas SDM yang mumpuni.
Dalam diskusi yang sama, Direktur Utama PT PAM Jaya (Perseroda) Arief Nasrudin mengatakan, layanan air bersih juga menjadi indikator penting bagi Jakarta untuk mencapai standar kota global.
Saat ini, cakupan layanan air minum perpipaan di Jakarta telah mencapai 82 persen, atau setara sekitar 1,2 juta sambungan rumah yang melayani hampir 9 juta penduduk.
Arief menilai capaian tersebut tidak lepas dari dukungan Pemprov DKI, baik melalui percepatan perizinan maupun penguatan regulasi.
“Ketika dukungannya bukan hanya sekadar dukungan bicara, tetapi juga dukungan aturan dan berbagai bentuk dukungan lainnya, akhirnya semangatnya menjadi sama,” ujarnya.
Ia optimistis kolaborasi tersebut akan mempercepat target layanan air bersih bagi seluruh warga Jakarta.
“Saat ini cakupannya sudah 82 persen, setara dengan sekitar 1,2 juta sambungan rumah. Kalau jumlah jiwa yang kami layani sudah hampir 9 juta orang,” tuturnya.
Aktivis Jakarta sekaligus Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto (SGY), menilai pembangunan fisik saja tidak cukup membawa Jakarta menjadi kota global.
Menurutnya, kualitas layanan dasar, seperti air bersih, sanitasi, lingkungan, transportasi, inovasi, hingga peningkatan kualitas SDM harus berjalan beriringan agar Jakarta mampu menembus 50 besar kota global pada 2030.
SGY menjelaskan, status Jakarta sebagai kota global telah memiliki dasar hukum melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ).
“Status kota global diukur melalui berbagai indikator internasional, mulai dari kualitas transportasi, lingkungan, tata kelola pemerintahan, daya saing ekonomi, inovasi, hingga kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, posisi Jakarta saat ini masih berada di kisaran peringkat ke-71 dalam salah satu indeks kota global. Karena itu, percepatan pembangunan lintas sektor menjadi kebutuhan mendesak.
“Persoalan kota global bukan hanya soal gedung-gedung tinggi atau pembangunan fisik, tetapi mencakup banyak aspek yang saling berkaitan. Seluruh organisasi perangkat daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas, hingga masyarakat harus bergerak bersama,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DKI Jakarta Matsani menilai transformasi Jakarta tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah.
Menurutnya, masyarakat sipil dan para aktivis memiliki peran penting dalam mengawal kebijakan sekaligus memperkuat partisipasi publik.
“Jakarta saat ini tengah berada pada fase transformasi yang sangat strategis sebagai kota yang terus berkembang menuju kota global. Jakarta tidak hanya harus unggul dalam pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga memiliki masyarakat yang inklusif, partisipatif, dan berdaya,” kata Matsani.
Ia menambahkan, cita-cita menjadikan Jakarta sebagai kota global hanya bisa tercapai melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Cita-cita menjadikan Jakarta sebagai kota global tidak dapat diwujudkan hanya oleh pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan para aktivis,” ucapnya.
Presidium Lintas Generasi Aktivis Pro Jakarta, Cecep Sulaeman, mengatakan forum tersebut menjadi wadah bagi para aktivis untuk memberikan masukan terhadap berbagai persoalan Jakarta sekaligus merumuskan gagasan dalam mendukung transformasi menuju kota global.
Ia berharap diskusi serupa terus menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Semoga kegiatan ini menjadi momentum yang baik untuk kita semua dalam membedah persoalan Jakarta dan memberikan masukan agar Jakarta bisa menjadi kota yang lebih baik,” tuturnya.