TRIBUNJATIM.COM - Memiliki keluarga yang rukun, penuh cinta, dan diberi keberkahan merupakan harapan bagi banyak pasangan.
Kehidupan rumah tangga yang harmonis tidak hanya dibangun dengan kasih sayang, tetapi juga melalui sikap saling menghargai, menjaga komunikasi, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Dalam ajaran Islam, pasangan suami istri dianjurkan untuk selalu berdoa memohon perlindungan dan kebaikan dalam kehidupan berumah tangga.
Doa menjadi salah satu bentuk ikhtiar agar keluarga diberikan ketenangan, kebahagiaan, dan dijauhkan dari berbagai masalah.
Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 21.
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah menciptakan pasangan hidup agar manusia mendapatkan rasa tenteram atau sakinah, serta menumbuhkan cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) di antara keduanya.
Dengan menjaga cinta, memperkuat kesabaran, dan senantiasa memohon pertolongan Allah SWT, rumah tangga diharapkan menjadi tempat yang menghadirkan kedamaian serta membawa keberkahan bagi seluruh anggota keluarga.
"...Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang..." (QS. Ar-Rum: 21).
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang baik adalah mereka yang berbuat baik kepada keluarganya.
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku." (HR. At-Tirmidzi, no. 3895; dinilai sahih)
Mengutip laman Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), berikut doa untuk keluarga yang harmonis.
Baca juga: 4 Doa Menyambut Kepulangan Jemaah Haji dari Makkah yang Penuh Keberkahan
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا
Allahumma barik lana fi ahliina wa awladina
Artinya: "Ya Allah, berkahilah keluarga dan anak-anak kami."
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama
Artinya: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Furqan [25]: 74)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ صَاحِبِ غَفْلَةٍ، وَمِنْ جَارِ سُوءٍ، وَمِنْ زَوْجٍ يُؤْذِي
Allāhumma innī a‘ūdzu bika min ṣāḥibi ghaflah, wa min jāri sū’, wa min zawjin yu’dzī.
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari sahabat yang lalai agama, tetangga yang jahat, dan pasangan yang menyakiti."
Baca juga: Bacaan Doa Nabi Ibrahim Agar Segera Menunaikan Ibadah Haji dan Umrah
Ulama, filsuf, teolog, dan sufi, Imam Al-Ghazali menjelaskan kebahagiaan keluarga bukan diukur dari seberapa besar hartanya, tapi seberapa besar cinta dan ridha di antara mereka.
Menurut Imam Al-Ghazali, keluarga yang yang harmonis dapat dibentuk dengan memahami hal berikut, melansir Tribunnews:
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa cinta yang paling kokoh adalah cinta yang dibangun karena Allah SWT, bukan semata-mata karena harta, kecantikan, ketampanan, atau kedudukan.
Ketika suami dan istri menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam rumah tangga, mereka akan lebih mudah menerima kekurangan satu sama lain, saling memaafkan, dan tetap setia dalam berbagai keadaan.
Niat yang ikhlas juga membuat setiap bentuk pengorbanan dan perhatian kepada pasangan bernilai ibadah, sehingga keharmonisan keluarga dapat terus terjaga.
Setiap orang memiliki karakter, kebiasaan, cara berpikir, dan latar belakang yang berbeda.
Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya saling memahami agar perbedaan tidak menjadi sumber pertengkaran.
Luangkan waktu untuk mendengarkan pasangan, memahami perasaannya, serta menghargai pendapat dan kebutuhannya.
Sikap saling mengerti akan menumbuhkan rasa sabar, toleransi, dan kasih sayang sehingga hubungan dalam keluarga menjadi lebih hangat dan penuh ketenangan.
Rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama, sehingga setiap anggota keluarga hendaknya saling membantu dalam kebaikan.
Bantuan tidak selalu berupa hal-hal besar, tetapi juga dapat diwujudkan melalui perhatian sederhana, seperti berbagi tugas rumah, mendampingi pasangan saat menghadapi kesulitan, atau saling menguatkan ketika mengalami masalah.
Menurut Imam Al-Ghazali, semangat bekerja sama dan tolong-menolong akan mempererat hubungan suami istri serta menciptakan suasana keluarga yang harmonis, penuh kasih, dan saling menghargai.
Lisan memiliki pengaruh besar dalam menjaga maupun merusak keharmonisan keluarga.
Karena itu, Imam Al-Ghazali mengingatkan agar setiap anggota keluarga berhati-hati dalam berbicara dan menghindari ucapan yang menyakitkan, merendahkan, atau dipenuhi amarah.
Ketika terjadi perbedaan pendapat, selesaikan dengan musyawarah dan komunikasi yang baik, bukan dengan saling menyalahkan.
Ucapan yang lembut, jujur, dan penuh penghormatan akan menjaga hati pasangan, memperkuat rasa saling percaya, serta membantu menciptakan rumah tangga yang damai dan penuh keberkahan.
Baca juga: Doa dan Makna Wukuf di Arafah, Puncak Ibadah Haji yang Penuh Ampunan
Dalam ajaran Islam, dijelaskan tentang cara menjaga keharmonisan keluarga sebagai berikut.
Rumah tangga yang harmonis dibangun ketika suami dan istri saling menghargai sebagai teman hidup yang saling melengkapi, bukan merasa lebih tinggi atau lebih rendah satu sama lain.
Masing-masing memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama berharga di hadapan Allah SWT.
Allah SWT menggambarkan hubungan suami dan istri sebagai pakaian bagi satu sama lain dalam firman-Nya: "Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka." (QS. Al-Baqarah: 187)
Ayat ini menunjukkan bahwa suami dan istri saling melindungi, menutupi kekurangan, memberi kenyamanan, dan menjadi tempat kembali satu sama lain.
Kasih sayang dalam rumah tangga merupakan karunia dari Allah SWT.
Karena itu, suami dan istri hendaknya menjaga hubungan dengan Allah melalui salat, doa, membaca Al-Qur'an, dan memperbanyak amal saleh.
Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin mudah baginya untuk bersabar, memaafkan, dan memperlakukan pasangan dengan baik.
Ibadah yang dilakukan bersama juga dapat mempererat ikatan cinta dan menghadirkan ketenangan dalam keluarga.
Allah SWT berfirman: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah) dalam keluarga adalah anugerah dari Allah yang perlu dijaga dengan keimanan dan ketakwaan.
Selain berusaha, seorang muslim dianjurkan untuk senantiasa mendoakan pasangan dan keluarganya agar selalu berada dalam kebaikan.
Doa menjadi bentuk ikhtiar agar Allah menjaga keharmonisan rumah tangga, melimpahkan keberkahan, serta menjadikan pasangan dan anak-anak sebagai penyejuk hati.
Ketika suami dan istri saling mendoakan, akan tumbuh rasa cinta, kepedulian, dan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik bagi keluarga.
Allah SWT mengajarkan doa dalam Al-Qur'an:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)
Selain itu, dalam hadis dijelaskan bahwa sebaik-baik orang adalah mereka yang baik kepada keluarganya.
Rasulullah SAW juga bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku." (HR. At-Tirmidzi, no. 3895; dinilai sahih)
Hadis ini mengajarkan bahwa salah satu ukuran kebaikan seorang muslim adalah bagaimana ia memperlakukan pasangan dan keluarganya dengan kasih sayang, kelembutan, dan akhlak yang mulia.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com