Tubuh Kurus Belum Tentu Kurang Gizi, Ini Penjelasan Ahli Gizi soal Cara Sehat Menaikkan Berat Badan
Willem Jonata July 11, 2026 06:18 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Memiliki tubuh kurus masih sering dianggap sebagai tanda kurang gizi. 

Tak sedikit orang akhirnya memaksakan diri makan dalam porsi besar, terutama makanan tinggi karbohidrat, demi menaikkan berat badan.

Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Yaze, Sp.GK, mengatakan tubuh kurus tidak otomatis menandakan seseorang mengalami kekurangan gizi. 

Baca juga: Ingin Turun Berat Badan? Ahli Gizi Ungkap Menu Sarapan yang Sebaiknya Dipilih

Penilaian tetap harus melihat indeks massa tubuh (BMI), kondisi kesehatan secara keseluruhan, hingga komposisi tubuh.

Bahkan, pada sebagian orang yang memiliki faktor genetik bertubuh kecil, target utamanya bukan menambah berat badan, melainkan meningkatkan massa otot.

Kurus Tidak Selalu Berarti Tidak Sehat

Menurut dr. Yaze, sebelum menyusun program menaikkan berat badan, dokter akan memastikan terlebih dahulu apakah berat badan pasien memang berada di bawah batas normal.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan BMI masih normal, maka tidak selalu diperlukan upaya menaikkan berat badan.

Sebaliknya, yang lebih penting adalah memperbaiki komposisi tubuh dengan meningkatkan massa otot.

"Kalau memang under, baru saya akan usahakan dia naik supaya normal. Kalau misalnya normal, sebenarnya enggak perlu juga harus kita naikkan,"ungkapnya pada live streaming Healthy Talk di kanal YouTube Tribun Health, Jumat (10/7/2026). 

Ia menjelaskan, banyak orang merasa dirinya terlalu kurus hanya karena membandingkan bentuk tubuh dengan orang lain atau karena sering menerima komentar dari lingkungan.

Padahal, secara medis kondisi tersebut bisa saja masih tergolong sehat.

Makan Banyak Karbohidrat Belum Tentu Berat Badan Naik

Kesalahan lain yang masih sering dilakukan masyarakat adalah memperbanyak konsumsi nasi atau makanan tinggi karbohidrat saat ingin menaikkan berat badan.

Menurut dr. Yaze, kebutuhan setiap orang berbeda.

Ada orang yang justru membutuhkan asupan protein lebih banyak dibandingkan karbohidrat.

Karena itu, memperbanyak makan belum tentu memberikan hasil bila jenis zat gizi yang dikonsumsi tidak sesuai kebutuhan tubuh.

Ia mencontohkan, melalui pendekatan nutrigenomik dokter dapat mengetahui zat gizi apa yang lebih dibutuhkan seseorang.

Dengan begitu, program peningkatan berat badan dapat disusun secara lebih tepat.

Faktor Genetik Bukan Penghalang Memiliki Tubuh Ideal

Banyak orang juga menyerah karena seluruh anggota keluarganya memang bertubuh kecil.

Menurut dr. Yaze, faktor genetik memang memengaruhi bentuk tubuh, tetapi bukan berarti seseorang tidak bisa memperbaiki komposisi tubuhnya.

Apabila berat badan masih dalam batas normal, fokus utama justru diarahkan pada pembentukan massa otot melalui pengaturan asupan protein dan olahraga yang sesuai.

"Jadi kalau misalnya memang mau naik berat badan, biasanya saya akan sarankan untuk menaikkan ototnya. Jadi mungkin dietnya akan dinaikkan di proteinnya, walaupun di genetiknya mungkin memang kurus. Tapi kalau kurusnya ternyata sehat, ya enggak ada masalah,"imbuhnya. 

Dengan kata lain, angka timbangan bukan satu-satunya ukuran kesehatan seseorang.

Nutrigenomik Bisa Membantu Menentukan Kebutuhan Gizi

Dalam praktiknya, dr. Yaze menjelaskan bahwa pemeriksaan nutrigenomik tidak hanya digunakan untuk orang yang ingin menurunkan berat badan.

Metode ini juga dapat membantu orang yang kesulitan menaikkan berat badan.

Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat melihat bagaimana tubuh merespons berbagai jenis zat gizi sehingga pola makan bisa disusun lebih sesuai dengan kebutuhan individu.

Misalnya, seseorang yang selama ini memperbanyak karbohidrat ternyata justru membutuhkan protein lebih tinggi agar berat badannya meningkat.

Selain itu, nutrigenomik juga dapat membantu menyusun pola makan bagi orang yang memiliki riwayat diabetes, penyakit jantung, maupun kondisi kesehatan lainnya.

Jangan Asal Meniru Pola Makan Orang Lain

Dr. Yaze mengingatkan bahwa pola makan yang berhasil pada orang lain belum tentu memberikan hasil yang sama.

Sebab, metabolisme setiap individu berbeda.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak asal mengikuti tips menaikkan berat badan yang beredar di media sosial.

Langkah pertama yang dianjurkan adalah berkonsultasi dengan dokter gizi agar penyebab sulit naik berat badan dapat diketahui lebih dahulu.

"Iya, kalau untuk langkah awal udah pasti ke dokter Gizi dulu ya, supaya gak salah,"lanjutnya. 

Melalui konsultasi tersebut, dokter akan menilai riwayat makan, aktivitas fisik, faktor hormonal, riwayat penyakit, hingga kebiasaan sehari-hari sebelum menentukan strategi nutrisi yang paling sesuai.

Dengan demikian, target bukan sekadar menambah angka di timbangan, tetapi membangun tubuh yang lebih sehat sesuai kondisi masing-masing individu.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.