Iran-Oman Perkuat Diplomasi, Tegaskan AS Tak Boleh Ikut Campur di Selat Hormuz
Suci BangunDS July 11, 2026 09:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Oman pada Sabtu (11/7/2026) dengan memimpin delegasi diplomatik Iran.

Pembahasan di Muscat akan mencakup kerja sama antara Iran dan Oman serta dinamika keamanan regional.

Selat Hormuz menjadi salah satu agenda utama mengingat jalur pelayaran strategis itu kembali menjadi sorotan setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Pemerintah Iran sebelumnya berulang kali menegaskan bahwa navigasi di Selat Hormuz harus dikelola secara eksklusif oleh negara-negara pesisir, yakni Iran dan Oman.

Teheran juga menilai setiap pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut harus dilakukan berdasarkan mekanisme yang disepakati kedua negara.

Baca juga: Sengketa Selat Hormuz Picu Perang AS-Iran Pecah Lagi, Beda Tafsir Gencatan Senjata Jadi Biang Kerok

Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya tidak akan membiarkan AS ikut campur dalam urusan Selat Hormuz.

"Iran tidak akan membiarkan AS ikut campur di Selat Hormuz," tegas Ghalibaf, mengutip Al Mayadeen, Sabtu (11/7/2026).

Ia menambahkan bahwa Iran akan terus menerapkan mekanisme navigasi di jalur pelayaran tersebut dengan tetap berkonsultasi bersama negara-negara pesisir Teluk lainnya.

Menjelang keberangkatannya ke Oman, Araghchi juga melakukan serangkaian pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, serta Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir.

Dalam komunikasi tersebut, Araghchi memperingatkan agar tidak ada "petualangan militer" AS di kawasan yang berpotensi memperburuk situasi keamanan regional.

Respons bagi AS yang 'Campuri' Selat Hormuz

Langkah diplomatik itu berlangsung setelah serangan AS ke sejumlah wilayah di Iran selatan serta meningkatnya aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz.

Sebagai respons, Teheran menyatakan telah melancarkan serangan terhadap posisi, pangkalan, dan fasilitas strategis milik AS di kawasan Teluk.

Di sisi lain, upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan juga terus berlangsung. Delegasi Qatar dilaporkan telah tiba di Teheran untuk melakukan pembicaraan langsung dengan para pejabat Iran.

Menurut sumber yang dikutip Reuters, mediasi Doha dilakukan dalam koordinasi dengan Washington dan difokuskan pada implementasi nota kesepahaman yang sebelumnya dicapai Iran dan AS, sekaligus mencari jalan keluar atas perselisihan terkait navigasi di Selat Hormuz yang memicu eskalasi terbaru.

Kunjungan Qatar juga menyusul laporan CNN yang menyebut Doha bersama Pakistan meningkatkan upaya menghidupkan kembali perundingan antara Washington dan Teheran setelah gelombang eskalasi militer terbaru.

Dorongan diplomatik tersebut, muncul setelah serangan terbaru AS ke sejumlah wilayah Iran, yang oleh Teheran disebut sebagai agresi militer terbesar sejak nota kesepahaman pada 17 Juni.

Serangan itu dilaporkan turut menyasar kawasan Pelabuhan Chabahar hingga menyebabkan kerusakan pada infrastruktur maritim.

Sementara itu, pemerintah AS menyatakan gencatan senjata yang sebelumnya berlaku telah "setidaknya untuk sementara" runtuh.

Presiden Donald Trump juga menyebut nota kesepahaman tersebut telah berakhir, meski masih membuka peluang kelanjutan pembicaraan. Di sisi lain, para pejabat Iran menegaskan setiap aksi militer lanjutan akan dibalas dengan respons yang cepat dan lebih luas.

(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.