Oleh: Supriadi, S.Ag., M.Pd.I
Pengawas PAI Kementerian Agama Kota Manado
Ketua DPW AGPAII Prov. Sulut
Libur telah usai, Tahun Ajaran baru pun siap dimulai dengan menghadirkan sebuah optimisme.
Bagi peserta didik, ia menjadi gerbang untuk menuju pengalaman belajar yang baru.
Bagi orang tua, ia menghadirkan harapan akan masa depan anak yang lebih baik.
Namun, bagi guru, awal tahun ajaran bukanlah sekadar pergantian kalender akademik semata. Ia adalah momentum refleksi sekaligus titik awal dalam melakukan perubahan menuju pembelajaran yang semakin berkualitas.
Perubahan yang sesungguhnya tidak selalu ditandai dengan hadirnya kurikulum baru atau kebijakan baru.
Namun perubahan justru dimulai dari ruang kelas, ketika guru memutuskan untuk memperbaiki cara mengajar, memperdalam pemahaman peserta didik, dan menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Di sinilah kualitas pendidikan itu ditentukan.
Seorang guru profesional –apalagi yang sudah menerima TPG- tentu akan menyadari bahwa setiap tahun ajaran merupakan kesempatan untuk mengevaluasi praktik pembelajaran sebelumnya.
Apa yang sudah berhasil perlu dipertahankan, sedangkan berbagai kelemahan harus diperbaiki.
Refleksi tersebut menjadi fondasi bagi lahirnya inovasi pembelajaran yang lebih efektif, relevan, dan berpusat pada peserta didik.
Pembelajaran berkualitas tidak lagi diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, melainkan sejauh mana peserta didik memahami, menghayati, dan mampu menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Paradigma ini sejalan dengan arah transformasi pendidikan nasional yang mulai menekankan pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam, yaitu pembelajaran yang berlangsung secara sadar, bermakna, dan menyenangkan sehingga peserta didik memperoleh pemahaman yang utuh, bukan sekadar menghafal informasi.
Pemerintah melalui Kemendikdasmen juga telah menegaskan bahwa penguatan pembelajaran mendalam dilakukan tanpa harus mengganti kurikulum yang berlaku.
Jika dikaitkan dengan konteks tersebut, maka ada beberapa langkah strategis yang layak menjadi perhatian guru pada awal tahun ajaran.
Pertama, melakukan pemetaan karakteristik peserta didik. Dalam hal ini guru perlu mengenali kemampuan awal, gaya belajar, potensi, minat, serta kebutuhan peserta didik sebelum menyusun strategi pembelajaran.
Langkah ini akan membantu guru guna memberikan layanan pembelajaran yang lebih tepat sasaran dan inklusif.
Kedua, menyusun perangkat pembelajaran yang adaptif.
Perangkat ajar hendaknya tidak hanya memenuhi aspek administratif, tetapi benar-benar menjadi panduan yang memudahkan guru untuk mengelola pembelajaran secara kreatif.
Perencanaan yang baik tentu saja akan menghasilkan proses belajar yang sistematis sekaligus fleksibel dalam menghadapi dinamika di kelas.
Ketiga, membangun budaya belajar yang positif sejak hari pertama sekolah.
Hubungan yang hangat antara guru dan peserta didik akan menciptakan rasa aman, nyaman, dan saling percaya.
Suasana seperti inilah yang menjadi prasyarat tumbuhnya motivasi belajar. Ada chemistry yang kuat antara guru dan peserta didiknya.
Keempat, memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hendaknya dipandang sebagai mitra yang membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan menggantikan peran guru.
Teknologi dapat digunakan untuk memperkaya sumber belajar, mempercepat umpan balik, serta memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif.
Namun, sentuhan nilai, keteladanan, dan pembinaan karakter tetap menjadi tugas utama seorang pendidik.
Kelima, memperkuat asesmen sebagai bagian dari proses belajar.
Asesmen bukan sekadar alat memberi nilai, tetapi instrumen untuk mengetahui perkembangan belajar peserta didik.
Melalui asesmen yang berkelanjutan, guru memperoleh informasi penting untuk memperbaiki strategi pembelajaran sekaligus membantu peserta didik berkembang secara optimal.
Bagi guru Pendidikan Agama Islam, perubahan pada awal tahun ajaran memiliki dimensi yang lebih luas.
Selain meningkatkan kualitas akademik, guru PAI juga bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, moderasi beragama, kepedulian sosial, dan karakter kebangsaan.
Pembelajaran agama tidak cukup berhenti pada penguasaan konsep, tetapi harus mampu membentuk perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan pendidikan juga memerlukan budaya kolaborasi. Guru tidak dapat bekerja sendiri. Disinilah peran Forum Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), komunitas belajar, serta pendampingan oleh kepala sekolah dan pengawas akan menjadi
Sebuah ruang berbagi praktik baik, menyelesaikan berbagai persoalan pembelajaran, sekaligus meningkatkan kompetensi profesional secara berkelanjutan.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru merupakan tenaga profesional yang bertugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Amanah tersebut mengingatkan bahwa profesionalisme guru tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi juga tercermin dalam komitmen untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Pada akhirnya, perubahan pendidikan itu tidak selalu membutuhkan langkah besar.
Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten: menyiapkan pembelajaran dengan lebih baik, mendengarkan kebutuhan peserta didik, menggunakan metode yang lebih bermakna, membangun budaya refleksi, dan terus mengembangkan kompetensi diri.
Awal tahun ajaran baru adalah sebuah momentum untuk memulai perubahan tersebut.
Ketika setiap guru berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, sesungguhnya mereka sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, adaptif terhadap perubahan, dan siap menghadapi tantangan masa depan yang tentu saja berbeda dengan tantangan zaman sebelumnya.
Sebuah harapan terukir indah untuk para pendidik dan semua yang peduli dengan masa depan anak bangsa.
Semoga setiap ruang kelas di tahun ajaran baru akan menjadi ruang tumbuhnya ilmu, karakter, kreativitas, dan harapan bagi lahirnya generasi Indonesia yang unggul. Aamiin.
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini